Persatuan Global Menghadapi Tantangan Covid-19

Kompas.com - 03/07/2020, 07:00 WIB
Ilustrasi solidaritas ShutterstockIlustrasi solidaritas


SEJAK berakhirnya Perang Dunia (PD) II peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi lebih mengemuka dalam pendekatan kerjasama antarnegara.

Demikian pula peran dari organisasi-organisasi Internasional lainnya yang berada di bawah naungan PBB, seperti UNESCO, WTO, ICAO, ILO, IMO, WHO dan lain sebagainya.

Kerja sama antarnegara bertujuan satu yaitu untuk mencegah terjadinya lagi perang dan berupaya mencapai perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Negara-negara pasca-PD II menyadari benar tentang perlunya dunia bersatu padu menuju peradaban baru yang dapat dipercaya menciptakan perdamaian dunia.

Pada 1960 pemikir berkebangsaan Kanada, Herbert Marshall McLuhan, bahkan telah menciptakan terminologi baru yang lebih kurang merefleksikan hal tersebut dengan menyebutnya sebagai “Global Village”. Desa global, dunia yang menyatu.

Dua kutub

Dalam perkembangannya kemudian ternyata yang terjadi, dunia untuk sementara terbagi 2 kutub atau dua blok yaitu blok barat dan timur.

Kedua blok terdiri dari aliansi NATO dan Pakta Warsawa yang selama puluhan tahun pertentangannya ditandai dengan perang dingin.

Setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 muncullah gerakan negara-negara non-blok yang secara resmi dideklarasikan pada 1961.

Gerakan kelompok ini menjadi kutub tersendiri yang tidak memihak kepada Blok Barat dibawah kepemimpinan Amerika Serikat maupun Blok Timur dibawah Uni Soviet.
Pasca-perang dingin

Pada 1991 Uni Soviet bubar dan terpecah menjadi beberapa negara, perang dingin pun usai dan Amerika Serikat tampil sebagai penguasa tunggal dunia yang diberi gelar negara super power.

Disisi lainnya, persekutuan antar negara bermunculan, antara lain Uni Eropa, Uni Afrika, ASEAN dan lain sebagainya.

Hubungan antar-bangsa dalam wadah regional tidak selalu otomatis menjadi sebuah pakta militer, seperti ASEAN misalnya.

Akan tetapi tetap saja hubungan antar-bangsa yang bernaung dalam satu wadah sebuah organisasi akan menjadi pertimbangan dalam konteks gelar pertahanan keamanan sebuah negara.

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berkampanye di BOK Center, Tulsa, Oklahoma, pada Sabtu (20/6/2020).AP/IAN MAULE Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berkampanye di BOK Center, Tulsa, Oklahoma, pada Sabtu (20/6/2020).

Kerjasama militer antar-bangsa, baik dalam aspek operasi maupun latihan dipastikan banyak dipengaruhi oleh hubungan antar-negara dan juga antar persekutuan atau aliansi negara-negara.

Minimal kebijakan pertahanan keamanan negara akan mempertimbangkan pula kebijakan umum dari organisasi regional antar bangsa. Aliansi negara-negara sangat berpengaruh terhadap kebijakan dalam National Security tiap-tiap negara.

Pada Juni 2016 , Kerajaan Inggris keluar dari persekutuan Uni Eropa yang dikenal dengan Brexit.

Pada 2017 Presiden Donald Trump mempromosikan visi baru Amerika Serikat yang terkenal dengan “America First”.

Kepentingan nasional lebih dulu

Orientasi Inggris dan Amerika terlihat seperti mulai menarik diri dari pendekatan hubungan antar-bangsa sebagai sebuah organisasi yang dapat digerakkan bersama-sama dalam menuju perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Minimal realita yang disajikan telah memberikan kesan bahwa Inggris dan Amerika mulai menunjukkan pindahnya prioritas utama mereka yang harus ditujukan terlebih dahulu kepada kepentingan nasional dari pada sebuah wadah antar-bangsa.

Sebuah gambaran nyata dari perubahan yang terjadi, bahwa organisasi antar-bangsa tidak selalu dapat menjadi sandaran bagi sebuah negara dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

Awalnya negara-negara besar seperti Amerika Serikat menampilkan dirinya sebagai pelopor dari aliran dengan pendekatan antar-bangsa yang lebih memprioritaskan aliansi atau persekutuan dari pada kepentingan nasionalnya.

Namun, visi baru yang dicanangkan Donald Trump, America First, dapat diartikan bahwa selama ini kebijakan Amerika adalah bukan America First, mungkin United Nation First atau NATO First.

Permasalahan besar yang kini tengah dihadapi adalah ancaman pandemi Covid-19 yang mulai memperlihatkan bahwa tanpa adanya kerjasama yang erat antar bangsa maka mustahil bahaya Covid-19 dapat diatasi dengan tuntas.

Gejala pertentangan yang terjadi justru memunculkan pertanyaan besar setelah Amerika Serikat menyatakan keluar dari WHO di awal 2020.

Nah, bagaimana kelanjutan dari semangat perdamaian dunia menuju peradaban dan kesejahteraan global ke depan?

Di mana peran PBB sebagai wadah yang akan mengantar dunia menuju global peace, global security and prosperity?

Akankah organisasi-organisasi antar-bangsa akan tetap banyak berperan, atau peran dominan dari negara-negara besar dan kuat yang lebih efektif dalam memecahkan permasalahan dunia?

Sejarahlah yang akan menjawab dan mencatatnya nanti.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sempat Muncul di Romania, 'Monolit' Logam Raib Secara Misterius

Sempat Muncul di Romania, "Monolit" Logam Raib Secara Misterius

Global
Pengawal Putin Ditemukan Tewas Bunuh Diri di Kremlin

Pengawal Putin Ditemukan Tewas Bunuh Diri di Kremlin

Global
3 Distrik di Nagorno-Karabakh Resmi Diambil Alih, Presiden Azerbaijan: Kemenangan yang Bersejarah

3 Distrik di Nagorno-Karabakh Resmi Diambil Alih, Presiden Azerbaijan: Kemenangan yang Bersejarah

Global
Usai Ilmuwan Nuklir Top Terbunuh, Kini Komandan Senior Garda Revolusi Iran Tewas Diserang Pesawat Nirawak

Usai Ilmuwan Nuklir Top Terbunuh, Kini Komandan Senior Garda Revolusi Iran Tewas Diserang Pesawat Nirawak

Global
Polisi Rusia Tangkap Tersangka Pembunuh Berantai 26 Wanita Lansia

Polisi Rusia Tangkap Tersangka Pembunuh Berantai 26 Wanita Lansia

Global
Pemimpin Hamas Positif Covid-19, Kasus Virus Corona di Gaza Makin Meningkat

Pemimpin Hamas Positif Covid-19, Kasus Virus Corona di Gaza Makin Meningkat

Global
200.000 Polisi Jaga Makam Maradona untuk Hindari 'Perampokan' Jasad Legenda Argentina Itu

200.000 Polisi Jaga Makam Maradona untuk Hindari 'Perampokan' Jasad Legenda Argentina Itu

Global
[POPULER GLOBAL] Zanziman Ellie, 'Mowgli Dunia Nyata' yang Hidup di Hutan | Ilmuwan Nuklir Iran Ditembak Mati

[POPULER GLOBAL] Zanziman Ellie, "Mowgli Dunia Nyata" yang Hidup di Hutan | Ilmuwan Nuklir Iran Ditembak Mati

Global
Tak Tertipu, Istri Paksa Suami Jual PS5 yang Mirip Penjernih Udara

Tak Tertipu, Istri Paksa Suami Jual PS5 yang Mirip Penjernih Udara

Global
50 Polisi Bantu Evakuasi Pria Berbobot 300 Kg untuk Bangun dan Keluar Rumah

50 Polisi Bantu Evakuasi Pria Berbobot 300 Kg untuk Bangun dan Keluar Rumah

Global
China Menolak Meminta Maaf kepada Australia Terkait Foto Tentara Palsu

China Menolak Meminta Maaf kepada Australia Terkait Foto Tentara Palsu

Global
Zanziman Ellie, 'Mowgli Dunia Nyata' yang Hidup di Hutan Afrika karena Di-bully

Zanziman Ellie, "Mowgli Dunia Nyata" yang Hidup di Hutan Afrika karena Di-bully

Global
Berpacu dalam Pandemi, Inilah Deretan Calon Vaksin Corona Terdepan...

Berpacu dalam Pandemi, Inilah Deretan Calon Vaksin Corona Terdepan...

Global
Bayi Lahir dengan Antibodi Covid-19, Misteri Virus Corona Masih Berlanjut

Bayi Lahir dengan Antibodi Covid-19, Misteri Virus Corona Masih Berlanjut

Global
Data Covid-19 China Bocor, Ternyata Sembunyikan Separuh Kasus dan Kematian

Data Covid-19 China Bocor, Ternyata Sembunyikan Separuh Kasus dan Kematian

Global
komentar
Close Ads X