Dikritik soal UU Keamanan Nasional, China: Bukan Urusan Kalian

Kompas.com - 01/07/2020, 15:30 WIB
Presiden Xi Jinping bertepuk tangan setelah UU disahkan. AFPPresiden Xi Jinping bertepuk tangan setelah UU disahkan.

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China pada Rabu (1/7/2020) membantah kritik internasional tentang UU Keamanan Nasional yang dianggap kontroversi untuk Hong Kong.

Dilansir media Perancis AFP, pemerintah China mengatakan bahwa negara-negara lain harusnya tidak perlu ikut bicara alias tutup mulut.

Pemerintah Barat dan kritik-kritik memperingatkan bahwa UU tersebut akan mengekang kebebasan Hong Kong dan merusak kebijakan "1 Negara, 2 Sistem" yang melindungi kebebasan yang tak ada di daratan utama China.

Baca juga: Ini Reaksi Dunia soal UU Keamanan Nasional China untuk Hong Kong

Namun, pejabat Beijing menolak kritik terkait UU Keamanan Nasional untuk Hong Kong di Konferensi Pers mereka.

"Apa hubungannya dengan kalian?" ungkap Zhang Xiaoming, Pejabat untuk Urusan Hong Kong dan Macau. "Ini bukan urusan Anda semua."

Para pejabat China bersikeras bahwa mereka telah melewati serangkaian konsultasi dengan para anggota di kalangan masyarakat Hong Kong. Mereka juga menjawab soal tuduhan perusakan status otonomi Hong Kong.

Baca juga: Uni Eropa, Inggris, Taiwan, Kecewa China Sahkan UU Keamanan Nasional Hong Kong

"Kalau yang kami inginkan adalah 1 Negara 1 Sistem, itu sangat mudah," ujar Zhang, "Kami sepenuhnya bisa memperlakukan hukum pidana, prosedur pidana dan UU Keamanan Nasional serta UU Nasional lainnya kepada Hong Kong."

Dia menambahkan, "Buat apa susah-susah kami memformulasikan UU Keamanan Nasional untuk Hong Kong?"

Zhang juga bersikeras bahwa UU yang dikatakannya tidak bisa diaplikasikan secara retrospektif, merupakan satu-satunya untuk menargetkan segelintir orang dan 'tidak seluruh kubu oposisi'.

Baca juga: Presiden Xi Jinping Tanda Tangani UU Keamanan Nasional Hong Kong

"Tujuan dari dibuatnya UU Nasional Keamanan Hong Kong tentu untuk tidak menargetkan kubu oposisi Hong Kong, kubu pro-demokrasi, sebagai musuh," ujarnya.

Melainkan, sebagai kebijakan 1 Negara, 2 Sistem, menunjukkan toleransi politik pemerintah China.

Pernyataannya datang sehari pasca Partai Pro-Demokrasi Hong Kong Demosisto mengumumkan pembubarannya, menyusul disahkannya UU Keamanan Nasional.

Zhang juga menyerang akan sanksi-sanksi yang diberikan dari bangsa-bangsa lain. "Saat ini beberapa negara mengatakan akan menerapkan beberapa sanksi pada beberapa pejabat China, saya pikir itu adalah logika para bandit."

Baca juga: UU Keamanan Nasional Disahkan China, Partai Demokrat Hong Kong Bubar

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Bangkitnya Ekstrem Kanan adalah Aib Bagi Jerman'

'Bangkitnya Ekstrem Kanan adalah Aib Bagi Jerman'

Global
Warga Bandel Sepelekan Virus Corona, Melbourne Lockdown Lagi

Warga Bandel Sepelekan Virus Corona, Melbourne Lockdown Lagi

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] WHO Akui Bukti Covid-19 Menyebar di Udara | Hagia Sophia Berubah Jadi Masjid

[KABAR DUNIA SEPEKAN] WHO Akui Bukti Covid-19 Menyebar di Udara | Hagia Sophia Berubah Jadi Masjid

Global
Terlibat Kecelakaan, Sopir Wanita Berpakaian Bikini Keluar Mobil dan Berjoget

Terlibat Kecelakaan, Sopir Wanita Berpakaian Bikini Keluar Mobil dan Berjoget

Global
Pesta Berujung Pemerkosaan, Universitas Ini Bantu Korban Buka Suara

Pesta Berujung Pemerkosaan, Universitas Ini Bantu Korban Buka Suara

Global
Main Game 22 Jam Sehari Selama Sebulan, ABG China Terkena Stroke

Main Game 22 Jam Sehari Selama Sebulan, ABG China Terkena Stroke

Global
Paus Fransiskus Sedih karena Hagia Sophia Diubah Kembali Jadi Masjid

Paus Fransiskus Sedih karena Hagia Sophia Diubah Kembali Jadi Masjid

Global
Pejabat PBB: Putra Mahkota Saudi Tersangka Utama Pembunuhan Khashoggi

Pejabat PBB: Putra Mahkota Saudi Tersangka Utama Pembunuhan Khashoggi

Global
Skandal Kekerasan Seksual di Universitas St Andrews, 2 Orang Ditahan

Skandal Kekerasan Seksual di Universitas St Andrews, 2 Orang Ditahan

Global
Gara-gara Staf Berhubungan Seks dengan Tamu, Hotel Ini Jadi Klaster Baru Covid-19

Gara-gara Staf Berhubungan Seks dengan Tamu, Hotel Ini Jadi Klaster Baru Covid-19

Global
'Kalian Bisa Saja Dipenjara', Peringatan AS untuk Warganya di China

'Kalian Bisa Saja Dipenjara', Peringatan AS untuk Warganya di China

Global
Video Viral Batik Disebut Kerajinan Tradisional China, Netizen Ramai Ribut di Twitter

Video Viral Batik Disebut Kerajinan Tradisional China, Netizen Ramai Ribut di Twitter

Global
'Saya Telah Membuat Kesalahan, Saya Pikir Covid-19 Hoaks'

'Saya Telah Membuat Kesalahan, Saya Pikir Covid-19 Hoaks'

Global
Kunjungi RS Militer, Trump Pakai Masker untuk Pertama Kalinya

Kunjungi RS Militer, Trump Pakai Masker untuk Pertama Kalinya

Global
Turki Berencana 'Tutup' Gambar Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia Pakai Teknologi Khusus

Turki Berencana 'Tutup' Gambar Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia Pakai Teknologi Khusus

Global
komentar
Close Ads X