Tukang Gali Kubur di Brasil: Kami Tidak Takut Apa pun Kecuali Covid-19

Kompas.com - 15/06/2020, 07:01 WIB
Seorang pekerja pemakaman menggali mayat seseorang yang dikubur tiga tahun lalu di pemakaman Vila Formosa, yang tidak memungut biaya dari keluarga untuk kuburan, di Sao Paulo, Brasil, Jumat, 12 Juni 2020. Tiga tahun setelah penguburan, sisa-sisa secara rutin digali dan disimpan dalam kantong plastik untuk memberi ruang bagi lebih banyak penguburan, yang meningkat di tengah virus corona baru. AP/Andre PennerSeorang pekerja pemakaman menggali mayat seseorang yang dikubur tiga tahun lalu di pemakaman Vila Formosa, yang tidak memungut biaya dari keluarga untuk kuburan, di Sao Paulo, Brasil, Jumat, 12 Juni 2020. Tiga tahun setelah penguburan, sisa-sisa secara rutin digali dan disimpan dalam kantong plastik untuk memberi ruang bagi lebih banyak penguburan, yang meningkat di tengah virus corona baru.

BRASILIA, KOMPAS.com - Kuburan di Brasil digali kembai untuk memberi ruang bagi pemakaman yang meningkat di tengah wabah virus corona.

Dilansir Fox News, tepatnya di kota Sao Paulo kuburan lawas telah mulai digali untuk menciptakan lebih banyak ruang karena wabah virus corona terus menggerus Brasil.

Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (12/06/2020), layanan pemakaman kota Sao Paulo mengatakan sisa-sisa orang yang meninggal setidaknya tiga tahun yang lalu akan digali dan dimasukkan ke dalam tas bernomor, kemudian disimpan sementara dalam wadah yang akan dikirim ke kuburan lain dalam waktu 15 hari.

Baca juga: Bagaimana Wabah Virus Corona Berubah Jadi Politis di Brasil

Pada April, penggali kubur di pemakaman Vila Formosa mengubur 1.654 orang, meningkat 500 dari bulan sebelumnya. Namun, nomor untuk bulan Mei dan Juni masih belum tersedia.

Adenilson Costa, seorang penggali kubur di Vila Formosa, mengatakan bahwa pekerjaan mereka semakin sulit selama pandemi dan dia takut dengan apa yang akan terjadi.

“Dengan pembukaan mal dan toko ini, kami menjadi semakin khawatir. Kami tidak dalam kurva (menurun); kami berada di puncak dan orang-orang tidak menyadarinya,” kata Costa.

Baca juga: Setelah Trump, Presiden Brasil Ancam Keluar dari WHO

"Ini belum berakhir. Sekarang adalah saat yang mengkhawatirkan. Dan masih banyak orang yang ada di luar (karena tidak mematuhi protokol kesehatan). "

Penurunan pasien pada tempat perawatan intensif menjadi sekitar 70 persen mendorong Wali kota Bruno Covas untuk membuka kembali sebagian bisnis, yang telah mendorong kerumunan orang di seluruh kota yang tidak peduli dengan jaga jarak sosial.

“Orang-orang mengatakan tidak ada yang menakutkan bagi para penggali kubur. Nyatanya, Covid telah membuat kami takut,” kata Costa.

Baca juga: Virus Corona, Rumah Sakit di Kota Terbesar Brasil Hampir Kolaps

Brasil adalah negara yang paling terinfeksi nomor dua di dunia dengan total 832.866 kasus, dan melampaui AS pada Jumat lalu sebagai negara dengan jumlah kematian tertinggi kedua dari pandemi, dengan lebih dari 42.055 korban meninggal sejauh ini.

Halaman:

Sumber Fox News
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pesanan Temannya Terlalu Lama, Pria Ini Tembak Mati Pegawai Burger King

Pesanan Temannya Terlalu Lama, Pria Ini Tembak Mati Pegawai Burger King

Global
Kisah 3 Wanita Korban Selamat dari Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki 75 Tahun Silam

Kisah 3 Wanita Korban Selamat dari Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki 75 Tahun Silam

Global
Korsel Diterjang Hujan Angin Terlama dalam 7 Tahun, 1.000 Orang Mengungsi

Korsel Diterjang Hujan Angin Terlama dalam 7 Tahun, 1.000 Orang Mengungsi

Global
Paus Benediktus XVI Dikabarkan Sakit Parah, Vatikan Bersuara

Paus Benediktus XVI Dikabarkan Sakit Parah, Vatikan Bersuara

Global
Trump Desak TikTok Dijual ke AS, China: Ini Manipulasi Politik

Trump Desak TikTok Dijual ke AS, China: Ini Manipulasi Politik

Global
Sebelum Tewas, George Floyd Sempat Memohon Polisi Tak Menembaknya

Sebelum Tewas, George Floyd Sempat Memohon Polisi Tak Menembaknya

Global
Jika TikTok Tak Dijual ke AS dalam 6 Minggu, Begini Ancaman Trump

Jika TikTok Tak Dijual ke AS dalam 6 Minggu, Begini Ancaman Trump

Global
Tak Terima Diminta Pakai Masker, Wanita Ini Benturkan Kepala Polwan ke Paving Beton

Tak Terima Diminta Pakai Masker, Wanita Ini Benturkan Kepala Polwan ke Paving Beton

Global
Hilang Saat Mencari Siput, Remaja 14 Tahun Tewas Diterkam Buaya

Hilang Saat Mencari Siput, Remaja 14 Tahun Tewas Diterkam Buaya

Global
TikTok Hendak Diblokir AS, 20 Influencer Marah-marah ke Trump

TikTok Hendak Diblokir AS, 20 Influencer Marah-marah ke Trump

Global
Kisah Mengharukan Penyintas Bom Hiroshima-Nagasaki, Berharap Tak Ada Lagi Senjata Nuklir

Kisah Mengharukan Penyintas Bom Hiroshima-Nagasaki, Berharap Tak Ada Lagi Senjata Nuklir

Global
2 Pekan Berlayar, 41 Awak Kapal dan Penumpang Positif Covid-19

2 Pekan Berlayar, 41 Awak Kapal dan Penumpang Positif Covid-19

Global
Hapus Twit yang Kritik China di Twitter, Universitas di Australia Picu Kontroversi

Hapus Twit yang Kritik China di Twitter, Universitas di Australia Picu Kontroversi

Global
Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki Disiapkan Selama 6 Tahun, Ini Prosesnya

Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki Disiapkan Selama 6 Tahun, Ini Prosesnya

Global
Diduga Terlibat Korupsi di Arab Saudi, Mantan Raja Spanyol Tinggalkan Negaranya

Diduga Terlibat Korupsi di Arab Saudi, Mantan Raja Spanyol Tinggalkan Negaranya

Global
komentar
Close Ads X