Sensor China Terhadap Berita Covid-19 Pengaruhi Konsekuensi Global

Kompas.com - 08/06/2020, 09:24 WIB
Foto ini diambil pada 7 Maret 2017 menunjukkan pembawa acara dan produser televisi China, Cui Yongyuan berpose di workshop-nya di Beijing. Pembicaraan kosong, sensor diri, konformitas mati-otak, itu penilaian langsung delegasi Cui Yongyuan terhadap parlemen nasional China, yang dirayakan oleh Partai Komunis sebagai memberdayakan rakyat tetapi disebutnya membuang-buang waktu. AFP/FRED DUFOURFoto ini diambil pada 7 Maret 2017 menunjukkan pembawa acara dan produser televisi China, Cui Yongyuan berpose di workshop-nya di Beijing. Pembicaraan kosong, sensor diri, konformitas mati-otak, itu penilaian langsung delegasi Cui Yongyuan terhadap parlemen nasional China, yang dirayakan oleh Partai Komunis sebagai memberdayakan rakyat tetapi disebutnya membuang-buang waktu.

BEIJING, KOMPAS.com - China sejauh ini telah melakukan larangan semua hal yang terkait dengan pandemi Covid-19 yang diunggah di media sosial.

Adanya sensor tersebut menghalangi laju informasi yang mungkin akan menghambat respons global.

Baru-baru ini, Cui Yongyuan, seorang mantan pembawa acara media pemerintah yang punya hampir 20 juta pengikut di media sosial di China, mengalami penangguhan akun media sosial.

Jumlah pengikutnya dua kali jumlah pengikut jurnalis CNN Amerika Serikat, Anderson Cooper di Twitter.

Cui memang salah satu sosok blogger di Weibo yang terkenal. Weibo adalah media lokal China yang setingkat dengan Twitter.

Sejak tahun lalu, unggahannya di Weibo telah dihentikan. Pada Mei ini, dia menemukan kalau akunnya yang bernama Xiaocui telah diblokir.

Baca juga: Ini Dua Syarat China agar Terbuka dalam Penyelidikan Asal Covid-19

Akun Cui di WeChat, media chatting yang besar di China, setingkat WhatsApp pada bulan Mei juga ditangguhkan dengan alasan penipuan.

Pada akun Twitternya, Cui menulis, "Nama saya disensor. Apakah Anda mencoba memaksa saya beralih ke pihak lain?"

Dia menulis itu pada 15 Mei lalu. Pihak lain maksud Cui adalah menggunakan media sosial Barat.

Cui yang mengajar di Universitas Komunikasi China di Beijing juga menulis tentang wabah Covid-19 dan mungkin menjadi korban terbaru dari sensor yang dilakukan pemerintah China dan bergabung dengan jajaran 'migran digital', istilah bagi mereka yang didorong ke platform media sosial asing.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sudah Berusia 87 Tahun, Penyihir Kota di Selandia Baru Ini Harus Pensiun

Sudah Berusia 87 Tahun, Penyihir Kota di Selandia Baru Ini Harus Pensiun

Global
India Serius Produksi Senjata Sendiri, Mulai Larang Impor Beberapa Perlengkapan Militer

India Serius Produksi Senjata Sendiri, Mulai Larang Impor Beberapa Perlengkapan Militer

Global
Delegasi AS Mendarat di Taiwan, Kunjungan Level Tertinggi sejak 1979

Delegasi AS Mendarat di Taiwan, Kunjungan Level Tertinggi sejak 1979

Global
Presiden Lebanon: Investigasi Internasional Terhadap Ledakan di Beirut Buang-buang Waktu

Presiden Lebanon: Investigasi Internasional Terhadap Ledakan di Beirut Buang-buang Waktu

Global
3 Perempuan Ini Punya 'Misi' Tumbangkan Diktator Terakhir Eropa

3 Perempuan Ini Punya "Misi" Tumbangkan Diktator Terakhir Eropa

Global
Tensi Meningkat dengan China, India Tinjau Institut Konfusius

Tensi Meningkat dengan China, India Tinjau Institut Konfusius

Global
Tokoh Terkemuka Afghanistan Sepakat Bebaskan 400 Milisi Taliban, Ada Apa?

Tokoh Terkemuka Afghanistan Sepakat Bebaskan 400 Milisi Taliban, Ada Apa?

Global
Eks Mata-mata Saudi Kembali Mendapatkan Ancaman dari Putra Mahkota di Kanada

Eks Mata-mata Saudi Kembali Mendapatkan Ancaman dari Putra Mahkota di Kanada

Global
75 Tahun Peringatan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, AS Belum Mau Minta Maaf

75 Tahun Peringatan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, AS Belum Mau Minta Maaf

Global
Kucing-kucing Ini Bertugas Temani Para Pembaca yang Kesepian di Perpustakaan

Kucing-kucing Ini Bertugas Temani Para Pembaca yang Kesepian di Perpustakaan

Global
Tabrak Orang di Stasiun, Mobil Bablas Masuk Peron dan Terjebak di Rel

Tabrak Orang di Stasiun, Mobil Bablas Masuk Peron dan Terjebak di Rel

Global
Kisah Kehilangan Para Ekspatriat India di Dubai karena Kecelakaan Pesawat Air India Express

Kisah Kehilangan Para Ekspatriat India di Dubai karena Kecelakaan Pesawat Air India Express

Global
'Peluncur Roket China Bisa Menghancurkan Seluruh Pangkalan Militer Taiwan'

"Peluncur Roket China Bisa Menghancurkan Seluruh Pangkalan Militer Taiwan"

Global
TikTok: Mengapa Jadi Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?

TikTok: Mengapa Jadi Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?

Global
Kekurangan Polisi Usai Kematian George Floyd, Kejahatan di Minneapolis Meningkat

Kekurangan Polisi Usai Kematian George Floyd, Kejahatan di Minneapolis Meningkat

Global
komentar
Close Ads X