Kronologi Kematian George Floyd Setelah Ditindih Derek Chauvin

Kompas.com - 04/06/2020, 21:44 WIB
George Floyd, pria berusia 46 tahun yang tewas setelah lehernya ditindih polisi pada Senin (25/5/2020) di Minneapolis, Amerika Serikat. Shutterstock via Sky NewsGeorge Floyd, pria berusia 46 tahun yang tewas setelah lehernya ditindih polisi pada Senin (25/5/2020) di Minneapolis, Amerika Serikat.

MINNEAPOLIS, KOMPAS.com - Kematian George Floyd, seorang pria kulit hitam di Minneapolis, membangkitkan krisis berupa aksi unjuk rasa di ratusan kota AS.

Publik marah setelah video viral, yang memperlihatkan momen ketika leher Floyd ditindih oleh Chauvin selama hampir sembilan menit.

"Aku tak bisa bernapas." Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh George Floyd kepada Derek Chauvin, sebelum dia tidak bergerak.

Baca juga: Reaksi Berbagai Negara atas Demo dan Kerusuhan yang Dipicu oleh Kematian George Floyd

Karena aksinya itu, Chauvin tak hanya dipecat dari Kepolisian Minneapolis, namun juga ditangkap pada Jumat pekan lalu (29/5/2020).

Saat ini, dia dijerat dengan tiga pasal, yakni pembunuhan tingkat tiga, pembunuhan tingkat dua, dan pembunuhan tak berencana tingkat dua.

Selain Chauvin, ketiga rekannya, Thomas Lane, Tou Thao, dan J Alexander Kueng dijerat bersekongkol yang berujung pada pembunuhan Floyd.

Dilansir Al Jazeera Rabu (3/6/2020), berikut merupakan kronologi kematian pria 46 tahun itu, yang dihimpun baik dari laporan penyelidik maupun pemberitaan:

Baca juga: Ricuh, Massa Lempar Bom Molotov di Demo George Floyd Yunani

Panggilan 911

Sebuah transkrip dari pegawai toko Cup Foods mengungkapkan, Floyd diduga membeli barang dengan uang palsu 20 dollar AS (Rp 282.240).

Si pekerja, yang namanya dirahasiakan, disebut sempat meminta korban mengembalikan lagi rokok yang dibelinya karena uangnya diyakini palsu.

Namun, Floyd disebut menolak, dan saat itu "sangat mabuk". Tapi, si penelepon berseloroh korban tidak meninggalkan lokasi dan tetap di mobilnya.

"Baik, saya sedang mengirim bantuan. Jika orang itu pergi, telepon kami lagi. Jika tidak, anggota kami tengah menuju ke sana," jelas petugas di panggilan 911.

Baca juga: Derek Chauvin, Eks Polisi Pembunuh George Floyd, Terancam Dipenjara 40 Tahun

Para demonstran remaja di Yunani berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Athena, ibu kota Yunani, menuntut keadilan atas kasus pembunuhan George Floyd. Foto diambil pada Senin (1/6/2020).AFP/ARIS MESSINIS Para demonstran remaja di Yunani berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Athena, ibu kota Yunani, menuntut keadilan atas kasus pembunuhan George Floyd. Foto diambil pada Senin (1/6/2020).

Polisi tiba

Berdasarkan laporan keluhan kriminal yang dilayangkan kepada Derek Chauvin, penegak hukum sampai ke lokasi pukul 20.08 waktu setempat.

Dikatakan petugas Thomas Lane berrbicara dengan Floyd di kursi kemudi, dan langsung mengacungkan pistolnya hingga dia melihat tangan di setir.

Lane lalu "menarik" Floyd keluar. Dalam laporan, dia disebutkan "menolak untuk diborgol" sebelum akhirnya menjadi patuh.

Mahmoud Abumayyaleh pemilik toko tempat Floyd menggunakan uang palsu, kepada CNN menyatakan dia segera melihat rekaman di kamera pengawas miliknya,

Baca juga: Pidato Obama Menyentuh Hati Kaum Muda Kulit Hitam AS: Kalian dan Hidup Kalian Berarti

Hasilnya, dia melihat bahwa George Floyd sama sekali tidak memberikan perlawanan kepada petugas, seperti yang diklaim selama ini.

Pukul 20.14, saat hendak dibawa ke dalam mobil polisi, tiba-tiba Floyd "jatuh ke tanah, seraya mengatakan bahwa dia menderita klaustrofobia".

Berdasarkan laporan klaim, Floyd disebut mulai tidak patuh ketika dia hendak dimasukkan, dan "secara sengaja menyulitkan petugas dengan jatuh ke tanah".

Kemudian pada pukul 20.19, Chauvin "menarik Floyd keluar dari kursi penumpang" di mana dia dijatuhkan dalam keadaan masih terborgol.

Chauvin kemudian "menempatkan lututnya di area sekitar kepala dan leher Floyd", dengan Kueng memegang punggung dan Thao sigap mengamankan kaki.

Baca juga: Picu Kontroversi di Demo George Floyd, Apa Itu UU Pemberontakan?

Pukul 20.27

George Floyd berulang kali memberi tahu polisi bahwa dia tidak bisa bernapas, di mana dia berulang kali berkata "tolong" dan "Mama".

Meski begitu, lutut Chauvin tetap berada di leher Floyd, dengan rekannya yang lain sama sekali tidak mengubah posisi mereka.

Mereka memberi tahu korban "mengatakan dia baik-baik saja" sebagai respons saat Floyd mengatakan dia tidak bisa bernapas.

Baru kemudian Lane bertanya kepada Chauvin apakah mereka harus membalikkan posisinya. "Tidak, biarkan saja dia seperti ini," jawab pelaku utama.

Baca juga: Kematian George Floyd, Selain Derek Chauvin, 3 Polisi Lainnya Juga Didakwa

Lane kemudian mengatakan dia khawatir jika Floyd mengalami excited delirium, yaitu kondisi ditandai tekanan akut, agitasi, hingga kematian mendadak, berdasarkan studi 2011.

Chauvin kemudian merespons kekhawatiran rekannya itu dengan mengatakan karena itulah, mereka harus tetap menempatkannya di bagian perut.

Kemudian pada pukul 20.24, Floyd sama sekali tak bergerak. Semenit kemudian, berdasarkan video, diketahui dia sama sekali tak bernapas atau bicara.

Seorang rekan Chauvin pada pukul 20.25 memeriksa denyut nadi Floyd, di mana setelah itu dia mengungkapkan dia tak menemukannya.

Meski begitu, mereka tetap bergeming. Baru pada pukul 20.27, Chauvin baru melonggarkan tekanan lututnya ke leher Floyd.

Dalam laporan pidana, dikatakan total pelaku menindihkan lututnya ke leher dan punggung korban adalah delapan menit dan 46 detik.

""Dua menit dan 53 detik setelah itu adalah kondisi ketika Floyd tidak merespons. Polisi sudah dilatih bahwa pengekangan dalam posisi tengkurap pada dasarnya berbahaya," jelas laporan itu.

Baca juga: George Floyd, Bisakah Trump Mengerahkan Tentara dalam Menghadapi Unjuk Rasa?

Tangkapan layar yang menampilkan wajah Derek Chauvin saat menginjak leher George Floyd dengan lututnya, pada Rabu (27/5/2020) di Minneapolis, Amerika Serikat. Chauvin dikenal sebagai polisi bermasalah, yang sudah 10 kali menjadi subyek pengaduan.DAVID HIMBERT/HANS LUCAS via REUTERS Tangkapan layar yang menampilkan wajah Derek Chauvin saat menginjak leher George Floyd dengan lututnya, pada Rabu (27/5/2020) di Minneapolis, Amerika Serikat. Chauvin dikenal sebagai polisi bermasalah, yang sudah 10 kali menjadi subyek pengaduan.

Laporan otopsi

Dua laporan otopsi dirilis pada Senin ini (1/6/2020), yang menekankan bahwa kematian George Floyd merupakan pembunuhan. Namun, mereka memberi versi berbeda soal penyebab kematiannya.

Dalam laporan independen yang diminta keluarga, terungkap Floyd tewas karena "sesak napas akibat tekanan berkelanjutan" di leher dan punggung.

Sementara kantor pemeriksa medis Hennepin County menyatakan, Floyd tewas karena kardiopulmoner yang disebabkan oleh kompresi leher.

Baca juga: Demo George Floyd, Trump Bantah Diungsikan ke Bunker

Kardiopulmoner tertahan artinya jantung Floyd telah berhenti. Laporan tersebut sama sekali tidak menyebutkan adanya sesak napas.

Laporan dari otoritas juga menyebutkan adanya keberadaan fentanyl, sejenis opioid yang sama dengan morfin, dan methamphetamine dalam darahnya.

Tidak disebutkan berapa banyak methamphetamine yang sudah dikonsumsi mendiang. Adapun laporan itu menyebut Floyd adalah korban pembunuhan.

Kuasa hukum keluarga kepada CNN menerangkan, meski ditemukan adanya kandungan obat, kasusnya tetap dikategorikan dia dibunuh orang lain.

Baca juga: Asphyxia, Kondisi Kekurangan Oksigen Penyebab Kematian George Floyd

Dari kiri, Derek Chauvin, J. Alexander Kueng, Thomas Lane dan Tou Thao. Chauvin didakwa melakukan pembunuhan tingkat dua atas George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah ditahan olehnya dan petugas kepolisian Minneapolis lainnya pada 25 Mei. Ada pun Kueng, Lane, dan Thao dituduh membantu dan bersekongkol dengan Chauvin.AP/Hennepin County Sheriffs Office Dari kiri, Derek Chauvin, J. Alexander Kueng, Thomas Lane dan Tou Thao. Chauvin didakwa melakukan pembunuhan tingkat dua atas George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal setelah ditahan olehnya dan petugas kepolisian Minneapolis lainnya pada 25 Mei. Ada pun Kueng, Lane, dan Thao dituduh membantu dan bersekongkol dengan Chauvin.

Apa yang terjadi setelah itu?

Tewasnya George Floyd di tangan Derek Chauvin memunculkan kecaman dan kemarahan yang dikaitkan dengan kebrutalan penegak hukum terhadap kulit hitam.

Demonstrasi pun mulai terjadi, yang berkembang hingga setidaknya ke 350 kota seantero AS, dengan 23 negara bagian harus mengerahkan Garda Nasional guna meredamnya.

Pekerja medis, pendemo, hingga tenaga medis mendapat kekerasan dari kepolisian, dengan ada juga penegak hukum yang bergabung bersama pengunjuk rasa.

Presiden Donald Trump bereaksi dengan meminta para gubernur untuk mengambil pendekatan lebih keras dalam meredam aksi unjuk rasa.

Dia juga mengancam akan memobilisasi militer untuk memukul mundur pendemo, yang disikapi dengan kecaman hingga ejekan dari netien.

Baca juga: Tolak Rencana Trump Turunkan Militer, Menhan AS: Hanya untuk Situasi Mendesak

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber Al Jazeera
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terlibat Kecelakaan, Sopir Wanita Berpakaian Bikini Keluar Mobil dan Berjoget

Terlibat Kecelakaan, Sopir Wanita Berpakaian Bikini Keluar Mobil dan Berjoget

Global
Pesta Berujung Pemerkosaan, Universitas Ini Bantu Korban Buka Suara

Pesta Berujung Pemerkosaan, Universitas Ini Bantu Korban Buka Suara

Global
Main Game 22 Jam Sehari Selama Sebulan, ABG China Terkena Stroke

Main Game 22 Jam Sehari Selama Sebulan, ABG China Terkena Stroke

Global
Paus Fransiskus Sedih karena Hagia Sophia Diubah Kembali Jadi Masjid

Paus Fransiskus Sedih karena Hagia Sophia Diubah Kembali Jadi Masjid

Global
Pejabat PBB: Putra Mahkota Saudi Tersangka Utama Pembunuhan Khashoggi

Pejabat PBB: Putra Mahkota Saudi Tersangka Utama Pembunuhan Khashoggi

Global
Skandal Kekerasan Seksual di Universitas St Andrews, 2 Orang Ditahan

Skandal Kekerasan Seksual di Universitas St Andrews, 2 Orang Ditahan

Global
Gara-gara Staf Berhubungan Seks dengan Tamu, Hotel Ini Jadi Klaster Baru Covid-19

Gara-gara Staf Berhubungan Seks dengan Tamu, Hotel Ini Jadi Klaster Baru Covid-19

Global
'Kalian Bisa Saja Dipenjara', Peringatan AS untuk Warganya di China

'Kalian Bisa Saja Dipenjara', Peringatan AS untuk Warganya di China

Global
Video Viral Batik Disebut Kerajinan Tradisional China, Netizen Ramai Ribut di Twitter

Video Viral Batik Disebut Kerajinan Tradisional China, Netizen Ramai Ribut di Twitter

Global
'Saya Telah Membuat Kesalahan, Saya Pikir Covid-19 Hoaks'

'Saya Telah Membuat Kesalahan, Saya Pikir Covid-19 Hoaks'

Global
Kunjungi RS Militer, Trump Pakai Masker untuk Pertama Kalinya

Kunjungi RS Militer, Trump Pakai Masker untuk Pertama Kalinya

Global
Turki Berencana 'Tutup' Gambar Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia Pakai Teknologi Khusus

Turki Berencana 'Tutup' Gambar Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia Pakai Teknologi Khusus

Global
Setelah Tembak Korbannya 19 Kali, Remaja Ini Tertawa Sebelum Melarikan Diri

Setelah Tembak Korbannya 19 Kali, Remaja Ini Tertawa Sebelum Melarikan Diri

Global
Pembantaian Muslim di Srebrenica, Kuburan Massal Baru Masih Ditemukan

Pembantaian Muslim di Srebrenica, Kuburan Massal Baru Masih Ditemukan

Global
[POPULER GLOBAL] Pria AS Bereaksi Positif Usai Disuntik Vaksin Corona | Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

[POPULER GLOBAL] Pria AS Bereaksi Positif Usai Disuntik Vaksin Corona | Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

Global
komentar
Close Ads X