PBB: Korea Utara dan Korea Selatan Bersalah dalam Baku Tembak di Zona Demiliterisasi

Kompas.com - 27/05/2020, 16:21 WIB
Dalam foto ini terlihat seorang prajurit Korea Utara berpose di Zona Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea. Di belakangnya terlihat Rumah Perdamaian lokasi KTT Korea yang akan digelar pada Jumat (27/4/2018). AFP/ED JONESDalam foto ini terlihat seorang prajurit Korea Utara berpose di Zona Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea. Di belakangnya terlihat Rumah Perdamaian lokasi KTT Korea yang akan digelar pada Jumat (27/4/2018).

NEW YORK, KOMPAS.com - Baku tembak antara Korea Utara dan Korea Selatan di Zona Demiliterisasi (DMZ) dipandang sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh PBB.

Secara teknis, dua Korea itu masih berperang, karena Perang Korea 1950-1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Tembakan dari Korea Utara mengenai pos perbatasan Korea Selatan pada 3 Mei, dengan baku tembak terjadi beberapa menit kemudian.

Baca juga: Korea Utara dan Korea Selatan Baku Tembak di Zona Demiliterisasi

Komando PBB (UNC), badan yang mengawasi penerapan gencatan senjata, membuka penyelidikan atas insiden di Zona Demiliterisasi.

Dilansir AFP Selasa (26/5/2020), UNC dalam keterangan tertulis menyimpulkan bahwa kedua pihak melanggar Perjanjian Gencatan Senjata.

Penyelidikan itu menemukan Tentara Rakyat Korea (Korut) menembakkan empat peluru senapan ringan 14,5 mm, yang dibalas dua tembakan voli Seoul.

Namun, penyelidikan itu tidak bisa memastikan dengan jelas, apakah Pyongyang sengaja menembak ataukah mereka tidak sengaja.

UNC menjelaskan, militer Korea Utara tidak memberikan respons ketika diajak terlibat dalam investigasi. Sementara Seoul sangat kooperatif.

Kementerian pertahanan Korsel menyesalkan temuan PBB itu, seraya menyatakan bahwa mereka hanya melaksanakan respons sesuai prosedur.

Terlepas dari namanya, Zona Demiliterisasi adalah tempat paling ketat di dunia, yang dipenuhi dengan kawat berduri dan ranjau.

Kali terakhir dua Korea melakukan baku tembak adalah pada 2014. Pada 2017, seorang tentara pembelot Korut ditembaki, namun Korsel tak membalas.

Dalam pertemuan 2018, Pemimpin Korut Kim Jong Un dan Presiden Korsel Moon Jae-in sepakat mengurangi ketegangan militer di perbatasan.

Namun, sebagian besar kesepakatan itu tak terlaksana. Terlebih setelah Korea Utara memutuskan komunikasi dengan Korea Selatan.

Pemutusan jalur itu terjadi sejak pertemuan Kim dengan Presiden AS, Donald Trump, di Hanoi pada Februari 2019 mengalami kebuntuan.

Baca juga: Menlu AS Yakin Baku Tembak Korut dan Korsel di Zona Demiliterisasi adalah Kecelakaan

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X