'5 Days of War', Kilas Balik Perang Rusia-Georgia di Ossetia Selatan pada 2008

Kompas.com - 09/05/2020, 20:39 WIB
Kuburan tentara Georgia yang terbunuh selama perang dengan Rusia di wilayah Ossetia Selatan yang memisahkan diri pada 2008 di Tbilisi, Georgia 8 Agustus 2017. REUTERS/DAVID MDZINARISHVILIKuburan tentara Georgia yang terbunuh selama perang dengan Rusia di wilayah Ossetia Selatan yang memisahkan diri pada 2008 di Tbilisi, Georgia 8 Agustus 2017.

KOMPAS.com - Film 5 Days of War rupanya berasal dari kisah nyata, yaitu berdasarkan perang yang berlangsung selama lima hari antara Rusia dengan Republik Georgia pada 2008.

Film yang disutradarai oleh Renny Harlin dan didanai oleh pemerintah Georgia ini merupakan tamparan keras bagi Rusia tentang peristiwa perang lima hari pada 2008 di wilayah Ossetia Selatan.

Dilansir CNN, konflik perang berpusat di Ossetia Selatan dan Abkhazia, dua 'provinsi' yang memisahkan diri dari Republik Georgia. 

Baca juga: Pemerintah Georgia Umumkan Darurat Nasional akibat Wabah Virus Corona

Daratan mereka secara resmi merupakan bagian dari Georgia namun pemerintahan mereka yang terpisah tidak diakui oleh sebagian besar negara.

Ossetia Selatan dan Abkhazia didukung oleh Rusia. Selama perang lima hari, sebanyak 170 prajurit, 14 petugas polisi, dan 228 warga sipil dari Georgia terbunuh. Sebanyak 1.747 orang dinyatakan terluka. 

Sementara dari pihak Rusia, 67 prajurit dinyatakan tewas, 283 lainnya terluka dan sebanyak 365 prajurit dari wilayah Ossetia Selatan dan warga sipil terbunuh.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Data-data tentang angka-angka tersebut berdasarkan laporan resmi pencari fakta Uni Eropa tentang konflik Rusia-Georgia.

Perang ini sebenarnya bermula antara prajurit Georgia dengan separatis Ossetia Selatan. Setelah sepakat untuk melakukan gencatan senjata, pada 7 Agustus 2008, Georgia melakukan serangan kejutan untuk merebut kota Tskhinvali, Ibu kota Ossetia Selatan.

Namun, pada 8 Agustus 2008, gerakan separatis Ossetia Selatan yang didukung oleh Rusia membalas serangan tersebut dan mengirim masuk tentara mereka ke Tskhinvali.

Baca juga: Sutradara Ini Terinspirasi Bikin Film dari Lockdown di Rusia

Saakashvili memimpin perang

Mikheil Saakashvili berbicara kepada media setelah pertemuannya dengan anggota partai berkuasa Servant of the People Presiden Volodymyr Zelensky di Kiev pada 24 April 2020.AFP/SERGEI SUPINSKY Mikheil Saakashvili berbicara kepada media setelah pertemuannya dengan anggota partai berkuasa Servant of the People Presiden Volodymyr Zelensky di Kiev pada 24 April 2020.

Konflik mengenai wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia yang memisahkan diri dari Republik Georgia telah mengganggu hubungan Georgia dengan Rusia.

Diketahui bahwa Presiden Georgia saat itu, Mikheil Saakashvili pada 2008 pada akhirnya memimpin perang singkat yang membawa petaka dengan Rusia.

Namun, pada akhirnya, berakhir dengan kekalahan yang memalukan.

Dilansir media Perancis AFP, ketegangan meningkat dengan Rusia ketika ambisi Georgia yang ingin bergabung dengan NATO atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara membuncah.

Baik separatis yang didukung Rusia dan pemerintah Georgia mengatakan bahwa mereka sama-sama mengendalikan ibu kota regional Tskhinvali.

Baca juga: Demi Kenikmatan, Pemerintah Georgia Bakal Bikin Wine di Mars

"Tskhinvali dan wilayah tinggi di sekitar Tskhinvali serta sebagian besar desa di Ossetia Selatan berada di bawah kendali pasukan Georgia," kata Saakashvili dalam pidato yang disiarkan televisi.

Dilansir Reuters, Irina Galgoyeva, juru bicara separatis Ossetia Selatan, membantah laporan itu, "Seluruh kota Tkshinvali saat ini dikendalikan oleh unit-unit pertahanan diri Ossetia Selatan," katanya seperti dikutip kantor berita Interfax Rusia.

Saakashvili saat itu mengirim pasukan untuk merebut kembali wilayah Ossetia Selatan yang memisahkan diri dan didukung oleh Rusia.

Kremlin melakukan serangan balik dan hanya dalam lima hari berhasil memukul mundur pasukan Georgia, serta berhasil memasukkan pasukan Rusia lebih dalam ke Ossetia Selatan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X