Pengalaman Pahit ABK Indonesia di Kapal China, Hanya Ingin Kuburkan Teman dengan Layak

Kompas.com - 08/05/2020, 08:30 WIB
Sebuah tangkapan layar dari video yang dipublikasikan media Korea Selatan MBC memperlihatkan, seorang awak kapal tengah menggoyang sesuatu seperti dupa di depan kotak yang sudah dibungkus kain berwarna oranye. Disebutkan bahwa kotak tersebut merupakan jenazah ABK asal Indonesia yang dibuang ke tengah laut oleh kapal asal China. MBC/Screengrab from YouTubeSebuah tangkapan layar dari video yang dipublikasikan media Korea Selatan MBC memperlihatkan, seorang awak kapal tengah menggoyang sesuatu seperti dupa di depan kotak yang sudah dibungkus kain berwarna oranye. Disebutkan bahwa kotak tersebut merupakan jenazah ABK asal Indonesia yang dibuang ke tengah laut oleh kapal asal China.

KOMPAS.com - Tiga jenazah awak kapal atau anak buah kapal ( ABK) Indonesia yang bekerja di kapal berbendera China dibuang ke laut.

Padahal, rekan-rekan mereka telah memohon kepada kapten kapal untuk menyimpan jenazah agar bisa dimakamkan dengan layak.

Pengalaman pahit itu, sulit dilupakan para ABK yang kini tengah berada di Busan, Korea Selatan.

Baca juga: Kisah ABK Indonesia di Kapal China, Tidur Hanya 3 Jam dan Makan Umpan Ikan

"Kami sudah ngotot, tapi kami tidak bisa memaksa, wewenang dari dia [kapten kapal] semua," kata NA, salah satu ABK kapal Long Xing 629 kepada BBC News Indonesia, Kamis (7/5/2020).

"Mereka beralasan, kalau mayat dibawa ke daratan, semua negara akan menolaknya," tambah NA.

Rekan NA, MY menyebut mereka hanya ingin menguburkan teman mereka dengan layak.

"(Akhirnya) Kami mandikan, shalati dan baru 'dibuang'," sebut MY.

Baca juga: ABK Indonesia di Costa Smeralda: 84 Positif Covid-19, 143 Dipulangkan

Koordinator ILO Asia Tenggara untuk Proyek Perikanan, Abdul Hakim mengatakan proses pelarungan atau sea burial diatur dalam ILO Seafarers Regulation.

Aturan itu memperbolehkan kapten kapal memutuskan untuk melarung jenazah dalam beberapa kondisi.

Di antaranya, jenazah meninggal karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas menyimpan jenazah, sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.

Baca juga: Bebas Covid-19, 60 ABK Indonesia di Hamburg Dipulangkan ke Tanah Air

Selain pengalaman tak terlupakan melarung jenazah teman, para ABK juga mengklaim mereka mengalami eksploitasi, mulai dari jam kerja yang panjang dengan waktu istirahat minim, hingga perbedaan makanan dan minuman dengan awak kapal China.

"Kami bekerja lebih dari 18 jam sehari, mulai jam 11 siang sampai jam 4 dan 5 pagi. Waktu istirahat makan hanya 10-15 menit," ujar awak kapal Indonesia lainnya.

Klaim para ABK tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Dalam konferensi pers Kamis kemarin (07/05), Menteri Luar Negeri Retno Masudi mengatakan ia sudah memanggil Duta Besar China di Jakarta untuk mendesak otoritas negara itu menyelidiki kondisi di kapal China tersebut, serta meminta pertanggung jawaban pihak kapal.

Baca juga: ABK Indonesia Dilempar ke Laut, Kapten Kapal China Sebut Itu Dilarung


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

3 Perempuan Ini Punya 'Misi' Tumbangkan Diktator Terakhir Eropa

3 Perempuan Ini Punya "Misi" Tumbangkan Diktator Terakhir Eropa

Global
Tensi Meningkat dengan China, India Tinjau Institut Konfusius

Tensi Meningkat dengan China, India Tinjau Institut Konfusius

Global
Tokoh Terkemuka Afghanistan Sepakat Bebaskan 400 Milisi Taliban, Ada Apa?

Tokoh Terkemuka Afghanistan Sepakat Bebaskan 400 Milisi Taliban, Ada Apa?

Global
Eks Mata-mata Saudi Kembali Mendapatkan Ancaman dari Putra Mahkota di Kanada

Eks Mata-mata Saudi Kembali Mendapatkan Ancaman dari Putra Mahkota di Kanada

Global
75 Tahun Peringatan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, AS Belum Mau Minta Maaf

75 Tahun Peringatan Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki, AS Belum Mau Minta Maaf

Global
Kucing-kucing Ini Bertugas Temani Para Pembaca yang Kesepian di Perpustakaan

Kucing-kucing Ini Bertugas Temani Para Pembaca yang Kesepian di Perpustakaan

Global
Tabrak Orang di Stasiun, Mobil Bablas Masuk Peron dan Terjebak di Rel

Tabrak Orang di Stasiun, Mobil Bablas Masuk Peron dan Terjebak di Rel

Global
Kisah Kehilangan Para Ekspatriat India di Dubai karena Kecelakaan Pesawat Air India Express

Kisah Kehilangan Para Ekspatriat India di Dubai karena Kecelakaan Pesawat Air India Express

Global
'Peluncur Roket China Bisa Menghancurkan Seluruh Pangkalan Militer Taiwan'

"Peluncur Roket China Bisa Menghancurkan Seluruh Pangkalan Militer Taiwan"

Global
TikTok: Mengapa Jadi Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?

TikTok: Mengapa Jadi Ancaman Keamanan di Sejumlah Negara?

Global
Kekurangan Polisi Usai Kematian George Floyd, Kejahatan di Minneapolis Meningkat

Kekurangan Polisi Usai Kematian George Floyd, Kejahatan di Minneapolis Meningkat

Global
Terlambat 5 Menit, Nyawa Pria Ini Terselamatkan dari Insiden Air India Express

Terlambat 5 Menit, Nyawa Pria Ini Terselamatkan dari Insiden Air India Express

Global
Demonstrasi Pecah Setelah Ledakan di Beirut, PM Lebanon Janjikan Pemilu Dini

Demonstrasi Pecah Setelah Ledakan di Beirut, PM Lebanon Janjikan Pemilu Dini

Global
Jumlah Kasus Virus Corona di AS Tembus 5 Juta

Jumlah Kasus Virus Corona di AS Tembus 5 Juta

Global
Akankah Presiden Perancis Mengembalikan Kedudukan Kolonial di Lebanon?

Akankah Presiden Perancis Mengembalikan Kedudukan Kolonial di Lebanon?

Global
komentar
Close Ads X