Menlu AS Yakin Baku Tembak Korut dan Korsel di Zona Demiliterisasi adalah Kecelakaan

Kompas.com - 03/05/2020, 23:23 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo (kanan) bertemu di Paekhwawon State Guesthouse di Pyongyang, Korea Utara. Foto ini diambil pada Minggu (7/10/2018) oleh Kantor Berita Korea Utara (KCNA). (AFP) Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo (kanan) bertemu di Paekhwawon State Guesthouse di Pyongyang, Korea Utara. Foto ini diambil pada Minggu (7/10/2018) oleh Kantor Berita Korea Utara (KCNA). (AFP)

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo meyakini, baku tembak antara Korea Selatan ( Korsel) dan Korea Utara ( Korut) di Zona Demiliterisasi adalah kecelakaan.

Dua negarra dilaporkan saling melepaskan tembakan di perbatasan dengan Seoul menyatakan, yang memulai insiden itu adalah pihak Utara.

"Sejumlah tembakan datang dari utara. Kami kira itu adalah kecelakaan," kata Mike Pompeo kepada ABC's "This Week" dikutip AFP Minggu (3/5/2020).

Baca juga: Korea Utara dan Korea Selatan Baku Tembak di Zona Demiliterisasi

Menlu AS berusia 56 tahun itu menerangkan, Korsel segera membalas serangan, dengan menyatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Kantor Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan dalam rilis resmi menyatakan, tentara mereka ditembaki di pos perbatasan oleh pasukan Korea Utara.

"Militer kami merespons dengan menembak dua kali sekaligus memberi peringatan sesuai prosedur," kata JCS yang menambahkan, tak ada korban dari pihak mereka.

Baku tembak dua Korea itu terjadi setelah Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un muncul kembali ke hadapan publik setelah absen selama 20 hari.

Pompeo enggan menerangkan apakah AS tahu mengenai absennya Kim, ataukah dikarenakan isu mengenai kondisi kesehatan sang pemimpin tertinggi.

"Kami sudah melihat gambar seperti yang dilihat dunia, bahwa Pemimpin Kim terlihat sehat dan baik-baik saja," terang Menlu AS dari California tersebut.

Dia menerangkan, misi Washington masih sama. Yakni meyakinkan Pyongyang agar bersedia meletakkan senjata nuklir mereka.

Secara teknis, dua negara masih berada dalam perang karena Perang Korea 1950-1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Meski namanya adalah Zona Demiliterisasi (DMZ), tempat itu paling dibentengi di dunia yang penuh dengan ranjau darat dan kawat berduri.

Berusaha mendinginkan tensi militer menjadi bagian dalam kesepakatan ketika Kim Jong Un bertemu Presiden Korsel Moon Jae-in pada September 2018.

Namun, agenda pertemuan yang berlangsung di Pyongyang itu tidak digubris oleh Utara. Malah, Korut memutuskan kontak dengan Seoul.

Baca juga: 25 Aturan Aneh di Korut, Termasuk Larangan Melipat Koran dan Dilarang Senyum


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X