China Tak Akan Batasi Jumlah Pasokan Alat Medis ke Berbagai Negara

Kompas.com - 06/04/2020, 09:17 WIB
Comunidad de Madrid (pemerintah daerah Madrid) pekerja menurunkan sebuah pesawat yang membawa 82 ton peralatan medis untuk mengatasi krisis coronavirus di wilayah tersebut, setelah kedatangannya di bandara Madrid-Barajas Adolfo Suarez di Barajas dari kota Shanghai di Cina pada 5 April 2020. - Spanyol menyaksikan penurunan harian ketiga kalinya secara berturut-turut dalam jumlah orang yang meninggal akibat pandemi coronavirus ketika negara itu mencatat 674 kematian lainnya hari ini. Kementerian kesehatan mengatakan total kematian sekarang 12.418, tertinggi di dunia setelah Italia, sejak pandemi muncul di Cina pada bulan Desember AFP/HANDOUT COMUNIDAD DE MADRID Comunidad de Madrid (pemerintah daerah Madrid) pekerja menurunkan sebuah pesawat yang membawa 82 ton peralatan medis untuk mengatasi krisis coronavirus di wilayah tersebut, setelah kedatangannya di bandara Madrid-Barajas Adolfo Suarez di Barajas dari kota Shanghai di Cina pada 5 April 2020. - Spanyol menyaksikan penurunan harian ketiga kalinya secara berturut-turut dalam jumlah orang yang meninggal akibat pandemi coronavirus ketika negara itu mencatat 674 kematian lainnya hari ini. Kementerian kesehatan mengatakan total kematian sekarang 12.418, tertinggi di dunia setelah Italia, sejak pandemi muncul di Cina pada bulan Desember

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China mengatakan tidak akan membatasi jumlah pasokan alat medis yang di kirim ke berbagai negara yang sedang melawan virus corona. 

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan Internasional, Jiang Fan pada konferensi pers Minggu (5/4/2020).

"Kami tidak akan melupakan banyak negara yang telah membantu kami di awal wabah yang melanda negeri kami," ucap Jiang Fan.

"Sebagaimana kasus infeksi dalam negeri (China) sudah berkurang, namun penyebarannya berlanjut secara global, kami ingin menyediakan bantuan dan dukungan yang relevan bagi banyak negara dan wilayah."

Baca juga: Pria Ini Ditembak Mati di Filipina karena Remehkan Aturan Saat Wabah Virus Corona

China telah jual masker sejumlah hampir empat miliar

Sejak Maret kemarin, China diketahui telah menjual hampir empat miliar masker ke berbagai negara berdasarkan laporan seorang pejabat China pada Minggu (5/4/2020).

Kasus infeksi di China diketahui telah berkurang. Pemerintah China kemudian mendesak pabrik domestiknya untuk meningkatkan produksi pasokan alat medis karena wabah yang telah membunuh lebih dari 60 ribu orang di seluruh dunia menghadapi kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

Melansir media Perancis AFP, China sejauh ini telah mengekspor 3,86 miliar masker, 37,5 juta perlengkapan pakaian pelindung, 16.000 ventilator dan 2,84 juta peralatan tes virus Covid-19 sejak 1 Maret 2020.

Laporan itu disampaikan oleh pejabat bea cukai Jin Hai, yang mengatakan pengiriman itu berikut pesanan ke lebih dari 50 negara.

Baca juga: Sempat Bilang Persediaan Penuh, Trump Kini Akui Kemungkinan Kekurangan Ventilator

Nilai ekspor pasokan alat medis China saat itu bernilai 1,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 23 triliun. Namun, banyak negara seperti Belanda, Filipina, Kroasia, Turki dan Spanyol telah mengeluhkan produk medis tersebut kurang lancar dalam pengiriman atau dalam kondisi rusak.

Pekan lalu, pemerintah Belanda menarik 600.000 masker medis dari 1,3 juta yang dikirim China karena tidak memenuhi standar kualitas.

Halaman:
Baca tentang

Sumber CNN,AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ever Given Masih Ditahan, Pemilik Kapal Berusaha Nego Harga Pembebasan dari Terusan Suez

Ever Given Masih Ditahan, Pemilik Kapal Berusaha Nego Harga Pembebasan dari Terusan Suez

Global
Identitas Polisi Penembak Daunte Wright Terungkap Bernama Kimberly Potter

Identitas Polisi Penembak Daunte Wright Terungkap Bernama Kimberly Potter

Global
Jepang: Penolakan Pembuangan Air Limbah PLTN Fukushima ke Laut Tidak Ilmiah

Jepang: Penolakan Pembuangan Air Limbah PLTN Fukushima ke Laut Tidak Ilmiah

Global
Pangeran Philip Meninggal, Meghan Markle Siap 'Maafkan' Kerajaan Inggris

Pangeran Philip Meninggal, Meghan Markle Siap "Maafkan" Kerajaan Inggris

Global
Wanita India Mengaku Bakal Dinikahi Pangeran Harry, Ingin Si Bangsawan Ditahan

Wanita India Mengaku Bakal Dinikahi Pangeran Harry, Ingin Si Bangsawan Ditahan

Global
Dilarang Akses Alquran, Alexei Navalny Bersumpah Tuntut Petugas Penjara

Dilarang Akses Alquran, Alexei Navalny Bersumpah Tuntut Petugas Penjara

Global
Gara-gara Curi 2 Kemeja, Pria Kulit Hitam Dipenjara 20 Tahun

Gara-gara Curi 2 Kemeja, Pria Kulit Hitam Dipenjara 20 Tahun

Global
NATO Minta Rusia Hentikan Eskalasi Militer di Ukraina untuk Cegah Konflik Meluas

NATO Minta Rusia Hentikan Eskalasi Militer di Ukraina untuk Cegah Konflik Meluas

Global
Dukungan Nyata untuk Taiwan, AS Kirim Delegasi Tak Resmi ke Taipei

Dukungan Nyata untuk Taiwan, AS Kirim Delegasi Tak Resmi ke Taipei

Global
China Beri Peringatan AS: Jangan Main Api soal Taiwan

China Beri Peringatan AS: Jangan Main Api soal Taiwan

Global
6 Bukti Netizen Indonesia Tidak Sopan se-Asia Tenggara, Akun Luar pun Diserang

6 Bukti Netizen Indonesia Tidak Sopan se-Asia Tenggara, Akun Luar pun Diserang

Global
Lebih dari 500 Tentara AS Akan Ditempatkan secara Permanen di Jerman

Lebih dari 500 Tentara AS Akan Ditempatkan secara Permanen di Jerman

Global
Mengaku Sebagai Anak, Pria dan Wanita Rampok Pengemis Tua, Bawa Kabur Rp 17 Juta

Mengaku Sebagai Anak, Pria dan Wanita Rampok Pengemis Tua, Bawa Kabur Rp 17 Juta

Global
Demi Tekan Polusi Udara, Perancis Berencana Larang Penerbangan Jarak Pendek

Demi Tekan Polusi Udara, Perancis Berencana Larang Penerbangan Jarak Pendek

Global
Rusia Tuduh AS dan NATO Jadikan Ukraina 'Tong Mesiu'

Rusia Tuduh AS dan NATO Jadikan Ukraina "Tong Mesiu"

Global
komentar
Close Ads X