Menghindari Lockdown Virus Corona, Pria di India Pura-pura Meninggal

Kompas.com - 01/04/2020, 18:13 WIB
Pekerja migran memadati terminal bus di perbatasan Uttar Pradesh dekat New Delhi, India, pada 28 Maret 2020. Pemerintah Uttar Pradesh telah menyediakan 1.000 bus untuk pekerja migran yang hendak pulang ke desanya, tapi jumlahnya tidak mencukupi. Ratusan di antara pekerja itu lalu memutuskan pulang jalan kaki karena tidak ada transportasi yang tersedia. Situasi ini terjadi di hari keempat India menerapkan lockdown, yang berlangsung selama 21 hari sesuai instruksi Perdana Menteri Narendra Modi. STR/EPA-EFEPekerja migran memadati terminal bus di perbatasan Uttar Pradesh dekat New Delhi, India, pada 28 Maret 2020. Pemerintah Uttar Pradesh telah menyediakan 1.000 bus untuk pekerja migran yang hendak pulang ke desanya, tapi jumlahnya tidak mencukupi. Ratusan di antara pekerja itu lalu memutuskan pulang jalan kaki karena tidak ada transportasi yang tersedia. Situasi ini terjadi di hari keempat India menerapkan lockdown, yang berlangsung selama 21 hari sesuai instruksi Perdana Menteri Narendra Modi.

SRINAGAR, KOMPAS.com - Seorang warga desa di Kashmir, India, berpura-pura meninggal dan berkelling hingga ratusan kilometer untuk menghindari lockdown virus corona.

Hakim Din dirawat karena cedera ringan di kepala di rumah sakit kawasan Jammu, dengan sopir ambulans ikut membantunya memalsukan kematian agar lolos pos pemeriksaan.

Din dan tiga orang lainnya ingn kembali ke Poonch, sebuah desa di wilayah Kashmir yang dikelola India, berbatasan langsung dengan Pakistan.

Baca juga: Laporkan 2 Orang Tak Ikuti Prosedur Tes Virus Corona, Pria di India Tewas Dihajar

Pengawas Polisi Kashmir, Ramesh Angral, mengatakan empat orang dan sopir ambulans berkendara hingga 160 km melewati beberapa pos pemeriksaan.

Dilansir AFP Rabu (1/4/2020), mereka ditahan di pos pemeriksaan terakhir sebelum sampai di desa, dan menunjukkan surat kematian palsu.

"Seorang anggota kami segera mengetahui bahwa salah satu pria yang terbaring di dalam ambulans sebenarnya belum meninggal," kata Angral.

Mereka berlima segera ditahan dan dikarantina secara terpisah. Mereka terancam dengan tudingan menentang peraturan pemerintah.

India menerapkan lockdown selama total 21 hari pada Rabu pekan lalu (26/3/2020) untuk memerangi Covid-19, penyakit yang disebabkan virus corona.

Baca juga: Peringatkan Warga agar Tak Keluyuran Saat Lockdown, Polisi India Pakai Helm Virus Corona

Saat ini, Negeri "Bollywood" melaporkan hampir 1.600 kasus infeksi virus bernama resmi SARS-Cov-2, dengan 45 di antaranya meninggal.

Lockdown yang menerpa 1,3 miliar penduduknya terjadi di tengah jam malam yang diterapkan di Kashmir, sejak Delhi mencabut status semi-otonomi pada 5 Agustus 2019.

Sejumlah aspek pengetatan tersebut dilaporkan mulai lunak beberapa bulan berselang, di mana warga Kashmir boleh bepergian di luar rumah.

Dampak dari penerapan karantina massal ini, sejumlah warga Kashmir yang berada di kota-kota seantero India terjebak dan tidak bisa pulang.

Akses internet, yang awalnya sempat dicabut di awal pengumuman lockdown, mulai dipulihkan meski masih terbatas pada jaringan 2G.

Karena pemulihan terbatas tersebut, banyak pengguna ponsel mengaku tidak bisa mengakses internet dari gawai mereka di tengah wabah.

Baca juga: Hadiri Tabligh Akbar India, 10 Orang Meninggal karena Terinfeksi Corona

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gajah Hamil di India Mati akibat Makan Nanas yang Diisi Petasan

Gajah Hamil di India Mati akibat Makan Nanas yang Diisi Petasan

Global
Picu Kontroversi di Demo George Floyd, Apa Itu UU Pemberontakan?

Picu Kontroversi di Demo George Floyd, Apa Itu UU Pemberontakan?

Global
Polisi Australia Penendang Remaja Aborigin Disebut 'Alami Hari yang Buruk' Saat Peristiwa Terjadi

Polisi Australia Penendang Remaja Aborigin Disebut "Alami Hari yang Buruk" Saat Peristiwa Terjadi

Global
Kematian George Floyd, Selain Derek Chauvin, 3 Polisi Lainnya Juga Didakwa

Kematian George Floyd, Selain Derek Chauvin, 3 Polisi Lainnya Juga Didakwa

Global
Pidato Obama Menyentuh Hati Kaum Muda Kulit Hitam AS: Kalian dan Hidup Kalian Berarti

Pidato Obama Menyentuh Hati Kaum Muda Kulit Hitam AS: Kalian dan Hidup Kalian Berarti

Global
Tolak Rencana Trump Turunkan Militer, Menhan AS: Hanya untuk Situasi Mendesak

Tolak Rencana Trump Turunkan Militer, Menhan AS: Hanya untuk Situasi Mendesak

Global
Mantan Kepala Pentagon: Trump Berusaha 'Memecah Belah' Amerika

Mantan Kepala Pentagon: Trump Berusaha 'Memecah Belah' Amerika

Global
Trump Tanda Tangani Perintah Eksekutif Kebebasan Beragama

Trump Tanda Tangani Perintah Eksekutif Kebebasan Beragama

Global
[POPULER GLOBAL] 30 Menit Momen Terakhir Hidup George Floyd | Dokter di Wuhan yang Kulitnya Menghitam, Meninggal

[POPULER GLOBAL] 30 Menit Momen Terakhir Hidup George Floyd | Dokter di Wuhan yang Kulitnya Menghitam, Meninggal

Global
George Floyd, Bisakah Trump Mengerahkan Tentara dalam Menghadapi Unjuk Rasa?

George Floyd, Bisakah Trump Mengerahkan Tentara dalam Menghadapi Unjuk Rasa?

Global
4 Negara Eropa Bentuk Aliansi Produksi Vaksin Virus Corona

4 Negara Eropa Bentuk Aliansi Produksi Vaksin Virus Corona

Global
Demo George Floyd, Trump Bantah Diungsikan ke Bunker

Demo George Floyd, Trump Bantah Diungsikan ke Bunker

Global
Inggris Tawarkan Suaka bagi Warga Hong Kong, Begini Peringatan China

Inggris Tawarkan Suaka bagi Warga Hong Kong, Begini Peringatan China

Global
Tak Sengaja 'Topless' Saat Rapat via Zoom, Politisi Meksiko Buka Suara

Tak Sengaja "Topless" Saat Rapat via Zoom, Politisi Meksiko Buka Suara

Global
Ditanya soal Demo George Floyd dan Trump, PM Kanada Terdiam 22 Detik

Ditanya soal Demo George Floyd dan Trump, PM Kanada Terdiam 22 Detik

Global
komentar
Close Ads X