Atasi Corona, CDC AS Didesak agar Minta Warga AS Pakai Masker Kain di Tempat Umum

Kompas.com - 01/04/2020, 10:46 WIB
warga AS Jillian Kislow membuat masker wajah untuk teman-temannya di dapurnya selama wabah global penyakit coronavirus (COVID-19) di Pasadena, California, AS, 26 Maret 2020. REUTERS/MARIO ANZUONIwarga AS Jillian Kislow membuat masker wajah untuk teman-temannya di dapurnya selama wabah global penyakit coronavirus (COVID-19) di Pasadena, California, AS, 26 Maret 2020.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Beberapa hari terakhir, berbagai ilmuwan, pakar kesehatan, dan influencer telah mengajukan saran terkait pemakaian masker wajah pada setiap warga jika berada di tempat publik.

Thomas Inglesby, Direktur Universitas Johns Hopkins untuk Pusat Keamanan Kesehatan, dilansir dari Washington Post, mengatakan bahwa Pusat Kontrol dan Pencegahan (CDC) AS harus mendesak warga AS memakai masker non-medis atau penutup wajah.

Upaya itu dianggapnya bijak dan mampu mengurangi potensi penularan dari orang yang terinfeksi, tetapi tidak memiliki gejala apa pun.

Sosok yang paling menonjol di antara orang-orang yang mendorong gagasan itu adalah Scott Gottlieb.

Baca juga: Jilat Ludahnya Sendiri, Trump: Virus Corona Bukan Flu Biasa

Dia seorang dokter internis dan mantan komisioner Food and Drug Administration dalam administrasi Trump.

Dia juga penulis utama rencana pandemi-respons yang diterbitkan setiap Minggu oleh American Enterprise Institute.

Lembaga itu yakni think tank (badan ahli yang memberikan saran dan gagasan terkait masalah ekonomi tertentu) yang konservatif dan berusaha memulihkan ekonomi AS secara bertahap ke normal.

Dia menekankan, "Semua orang termasuk orang-orang tanpa gejala harus didorong mengenakan masker wajah yang terbuat dari kain dan non-medis saat berada di tempat umum."

Baca juga: Taman Nasional di AS Tetap Buka, 7 Orang Terinfeksi Virus Corona

Gottlieb bahkan mengungkapkan lebih spesifik lagi pada Face the Nation CBS, "Masker yang terbuat dari bahan katun, kita harus punya pedoman dari CDC tentang bagaimana warga AS mampu membuat masker berbahan kain katun sendiri."

Meski Gottlieb dan pihaknya juga mengakui masker non-medis itu tidak akan memberi perlindungan dari infeksi virus, namun setidaknya bisa membatasi jumlah tetesan pernapasan dari orang yang memakai masker tersebut.

Sementara itu pihak CDC sendiri masih mempertimbangkan kewajiban penggunaan masker non-medis di kalangan warga AS ketika berada di tempat umum.

Pasalnya, masih belum ditemukan perbedaan yang signifikan antara menggunakan masker atau pun tidak bagi orang-orang yang sehat di tempat umum. 

Baca juga: Suami Ini Dituduh Bunuh Istrinya Saat Karantina Bersama akibat Virus Corona di Inggris

Beberapa pakar penyakit menular bahkan juga mencemaskan jika orang-orang mulai panik dan membeli masker medis dengan alasan keamanan.

Itulah kenapa Jerome Adams, ahli bedah umum AS menyatakan dalam kicauannya di Twitter, "Stop beli masker!"

 

Selain itu, pihak CDC juga khawatir warga AS malah menyepelekan aturan social distancing karena merasa sudah aman memakai masker non-medis.

Meski begitu, pihak CDC pada dua pekan lalu mulai memperbarui strategi mereka, yakni mengoptimisasi pasokan masker wajah. 

Dalam peraturan perawatan kesehatan di mana masker medis tidak lagi disediakan, warga AS kemungkinan akan diminta menggunakan masker buatan sendiri. Bentuknya bisa seperti bandana atau syal, sebagai upaya terakhir melawan virus corona.

Baca juga: Mengapa Ada Negara yang Tolak Alat Medis Buatan China untuk Tangani Virus Corona?

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Setengah dari Populasi Jerman Khawatirkan Gelombang Kedua Virus Corona

Setengah dari Populasi Jerman Khawatirkan Gelombang Kedua Virus Corona

Global
Aturan Haji Terbaru, Dilarang Menyentuh Kakbah

Aturan Haji Terbaru, Dilarang Menyentuh Kakbah

Global
Sebut Perempuan Harus di Rumah dan Tak Usah Kerja, Pria Arab Saudi Diburu Polisi

Sebut Perempuan Harus di Rumah dan Tak Usah Kerja, Pria Arab Saudi Diburu Polisi

Global
Kanada Ikut Campur Urusan Hong Kong, China Muak dan Beri Travel Warning

Kanada Ikut Campur Urusan Hong Kong, China Muak dan Beri Travel Warning

Global
Detik-detik Pesepak Bola 16 Tahun Tersambar Petir Saat Berlatih

Detik-detik Pesepak Bola 16 Tahun Tersambar Petir Saat Berlatih

Global
Sebelum Tewas, Seorang Pria Tulis Nama Pembunuhnya dengan Darah

Sebelum Tewas, Seorang Pria Tulis Nama Pembunuhnya dengan Darah

Global
Perompak Bajak Kapal Kargo Singapura, 5 Pelaut China Jadi Tawanan

Perompak Bajak Kapal Kargo Singapura, 5 Pelaut China Jadi Tawanan

Global
[POPULER GLOBAL] Norwegia Bayar Indonesia 56 Juta Dollar AS | China Tarik Pasukan dari Perbatasan India

[POPULER GLOBAL] Norwegia Bayar Indonesia 56 Juta Dollar AS | China Tarik Pasukan dari Perbatasan India

Global
Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Australia Tutup Perbatasan Victoria dan New South Wales

Kasus Covid-19 Masih Tinggi, Australia Tutup Perbatasan Victoria dan New South Wales

Global
Gereja Ortodoks Rusia Tolak Perubahan Status Hagia Sophia Jadi Masjid

Gereja Ortodoks Rusia Tolak Perubahan Status Hagia Sophia Jadi Masjid

Global
Bocah 8 Tahun Tewas Ditembak, Wali Kota Atlanta: Jangan Gampang Salahkan Polisi

Bocah 8 Tahun Tewas Ditembak, Wali Kota Atlanta: Jangan Gampang Salahkan Polisi

Global
Wabah Pes di China, Warga Mongolia Dilarang Makan Marmut Mentah

Wabah Pes di China, Warga Mongolia Dilarang Makan Marmut Mentah

Global
Damai dengan India, China Mulai Tarik Pasukan dari Perbatasan

Damai dengan India, China Mulai Tarik Pasukan dari Perbatasan

Global
Fasilitas Nuklir Iran Natanz Terbakar, Israel Diduga Pasang Bom

Fasilitas Nuklir Iran Natanz Terbakar, Israel Diduga Pasang Bom

Global
Sebulan Longgarkan Lockdown, India Jadi Negara Terdampak Covid-19 Ketiga Dunia

Sebulan Longgarkan Lockdown, India Jadi Negara Terdampak Covid-19 Ketiga Dunia

Global
komentar
Close Ads X