Kasus Virus Corona di China Bisa Ditekan, Bisakah Langkah Mereka Diterapkan di Negara Lain?

Kompas.com - 15/03/2020, 21:26 WIB
Orang-orang tetap melanjutkan aktivitas di Beijing, China, pada Kamis (5/3/2020), di tengah wabah virus corona yang melanda negara tersebut. Koki Kataoka/The Yomiuri ShimbOrang-orang tetap melanjutkan aktivitas di Beijing, China, pada Kamis (5/3/2020), di tengah wabah virus corona yang melanda negara tersebut.

BEIJING, KOMPAS.com - Langkah China melakukan isolasi terhadap 56 juta orang penduduk Hubei menanggapi virus corona belum pernah ada presedennya dalam sejarah. Mereka juga membangun rumah sakit darurat dalam 10 hari. Mungkinkah langkah itu ditiru negara lain?

Kini wabah tampak berhasil dikendalikan di China, dan di luar China terjadi peningkatan 113 kali lipat selama dua minggu.

Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus menyerukan agar pemerintah masing-masing negara "mengambil tindakan segera dan agresif".

Lalu bagaimana kita belajar dari China untuk melawan virus corona?

Baca juga: Kontak dengan Menhub Budi Karya Sumadi yang Terpapar Virus Corona, Menteri Belanda Ini Bekerja dari Rumah

China: fase terburuk sudah lewat?

Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke pusat wabah di Wuhan pada 10 Maret seakan memberi tanda bahwa darurat nasional sudah berakhir.

Menurut data resmi, kasus infeksi baru virus corona telah turun hanya menjadi beberapa puluh saja sehari.

Namun Yanzhong Huang, Senior Fellow di Global Health pada Council on Foreign Relations di New York mengatakan kepada BBC bahwa pengalaman China ini sulit ditiru di negara lain.

"Sedikit negara sekarang ini, yang demokratis maupun tidak, bisa menembus masyarakat dengan efisien dan menyeluruh."

"Sekalipun beberapa pemerintahan demokratis tertarik untuk meniru pendekatan China, mereka tak punya kekuasaan dan kewenangan untuk melakukannya".

Baca juga: Virus Corona: China Laporkan Kasus Impor Tertinggi dalam Seminggu

Kediktatoran

Menurut Dr Roberto Buriani, profesor Microbiologi dan Virologi di Università Vita-Salute San Raffaele, di Milan, tak dibutuhkan pemerintahan diktator untuk melawan virus corona.

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X