Kasus Virus Corona di Korsel Bisa Turun Tanpa Lockdown, Ini Kuncinya

Kompas.com - 13/03/2020, 19:37 WIB
Ilustrasi pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal camera di salah satu rumah sakit di Korea Selatan. SHUTTERSTOCK/LUKE W. CHOIIlustrasi pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal camera di salah satu rumah sakit di Korea Selatan.

Identifikasi kasus bisa dilacak dari transaksi kartu kredit dan ponsel, yang mana informasi ini bisa dipakai untuk menelusuri siapa saja yang melakukan kontak dengan pasien.

Mereka yang berisiko ditempatkan dalam isolasi dan dikelola secara menyeluruh berdasarkan idividu oleh otoritas kesehatan.

Baca juga: Kurangi Risiko Penularan Corona, Wali Kota Tangerang Minta Pelayanan Dukcapil via Online

Jika ada kekurangan tempat tidur di rumah sakit, Korsel telah mengubah banyak pusat pelatihan kerja dan fasilitas publik lainnya menjadi "pusat perawatan".

Tempat itu digunakan sebagau karantina bagi pasien yang menunjukkan gejala ringan virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 ini.

Belajar dari pengalaman

Profesor Kim Woo-joo dari Korea University College of Medicine mengatakan Korsel belajar dari pengalaman saat mengatasi keadaan darurat sebelumnya.

Contohnya pandemi influenza H1N1 2009 yang mengakibatkan 750.000 kasus dan 180 korban meninggal dunia, serta wabah Mers 2015 yang menginfeksi 186 orang dan menewaskan 39 pasien.

"Kesadaran publik tentang perlunya kebersihan individu seperti mencuci tangan dan mengenakan masker juga telah meningkat pesat, berkat pengalaman mereka dari wabah-wabah sebelumnya," terang Kim.

Tak hanya mendidik masyarakat, negara yang terkenal dengan film drama dan K-Pop ini turut melatih petugas kesehatan mengatasi wabah pandemi, terutama untuk tes infeksi, melacak, dan mengisolasi kontak.

Baca juga: Pasien Corona di Solo Meninggal, Ganjar Minta Pusat Keramaian Sediakan Tempat Cuci Tangan

Tetap ada ancaman

Upaya-upaya yang dilakukan Korsel telah terbukti menurunkan jumlah kasus baru infeksi dalam beberapa hari belakangan. Namun, "Negeri Ginseng" tetap harus waspada adanya infeksi ulang atau massal.

"Kita seharusnya tidak berpuas diri sama sekali," tegas Presiden Moon Jae-in.

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X