AS Serang Taliban Setelah 20 Polisi dan Tentara Afghanistan Dibunuh

Kompas.com - 04/03/2020, 17:36 WIB
Perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Taliban ditandai dengan jabat tangan antara Zalmay Khalilzad yang merupakan utusan AS (kiri), dan Mullah Abdul Ghani Baradar selaku pemimpin Taliban (kanan). Perjanjian damai ditandatangani di Doha, Qatar, Sabtu (29/2/2020). IBRAHEEM AL OMARI/REUTERSPerjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Taliban ditandai dengan jabat tangan antara Zalmay Khalilzad yang merupakan utusan AS (kiri), dan Mullah Abdul Ghani Baradar selaku pemimpin Taliban (kanan). Perjanjian damai ditandatangani di Doha, Qatar, Sabtu (29/2/2020).

KABUL, KOMPAS.com - AS menggelar serangan udara yang menggempur Taliban, setelah insiden mematikan yang membunuh 20 tentara dan polisi Afghanistan.

Serangan itu terjadi setelah kedua kubu meneken kesepakatan, membuat impian perdamaian di negara itu berada dalam tanda tanya.

Selain itu, serangan udara di Provinsi Helmand terjadi beberapa jam setelah percakapan telepon Presiden Donald Trump dengan pemimpin sayap politik Taliban.

Baca juga: Setelah Trump Telepon, Taliban Bunuh 20 Polisi dan Tentara Afghanistan

Juru bicara Pasukan AS-Afghanistan, Sonny Leggett mengatakan, serangan udara itu menargetkan milisi yang aktif menyerang tentara pemerintah di Helmand.

Dalam kicauannya di Twitter sebagaimana diberitakan AFP Rabu (4/3/2020), Leggett menuturkan bahwa serangan itu adalah bentuk pertahanan.

"Kami menyerukan kepada Taliban untuk menghentikan serangan tak berujung ini dan memegang komitmen mereka," tegas Leggett.

Dia menambahkan, melalui serangan udara yang digelar, Negeri "Uncle Sam" menunjukkan bahwa mereka bisa melindungi sekutu mereka saat dibutuhkan.

Dia menerangkan kelompok pemberontak tersebut sudah melancarkan setidaknya 43 kali gempuran melawan pasukan pemerintah di Helmand pada Selasa (3/3/2020).

Berdasarkan keterangan pejabat provinsi, serangan tersebut menewaskan 20 polisi dan tentara, jelang pembicaraan damai dua kubu pada 10 Maret mendatang.

Safiullah Amiri mengungkapkan, Taliban menyerang setidaknya tiga pos militer terluar yang berlokasi di distrik Imam Shahib, Kunduz.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gajah Hamil di India Mati akibat Makan Nanas yang Diisi Petasan

Gajah Hamil di India Mati akibat Makan Nanas yang Diisi Petasan

Global
Picu Kontroversi di Demo George Floyd, Apa Itu UU Pemberontakan?

Picu Kontroversi di Demo George Floyd, Apa Itu UU Pemberontakan?

Global
Polisi Australia Penendang Remaja Aborigin Disebut 'Alami Hari yang Buruk' Saat Peristiwa Terjadi

Polisi Australia Penendang Remaja Aborigin Disebut "Alami Hari yang Buruk" Saat Peristiwa Terjadi

Global
Kematian George Floyd, Selain Derek Chauvin, 3 Polisi Lainnya Juga Didakwa

Kematian George Floyd, Selain Derek Chauvin, 3 Polisi Lainnya Juga Didakwa

Global
Pidato Obama Menyentuh Hati Kaum Muda Kulit Hitam AS: Kalian dan Hidup Kalian Berarti

Pidato Obama Menyentuh Hati Kaum Muda Kulit Hitam AS: Kalian dan Hidup Kalian Berarti

Global
Tolak Rencana Trump Turunkan Militer, Menhan AS: Hanya untuk Situasi Mendesak

Tolak Rencana Trump Turunkan Militer, Menhan AS: Hanya untuk Situasi Mendesak

Global
Mantan Kepala Pentagon: Trump Berusaha 'Memecah Belah' Amerika

Mantan Kepala Pentagon: Trump Berusaha 'Memecah Belah' Amerika

Global
Trump Tanda Tangani Perintah Eksekutif Kebebasan Beragama

Trump Tanda Tangani Perintah Eksekutif Kebebasan Beragama

Global
[POPULER GLOBAL] 30 Menit Momen Terakhir Hidup George Floyd | Dokter di Wuhan yang Kulitnya Menghitam, Meninggal

[POPULER GLOBAL] 30 Menit Momen Terakhir Hidup George Floyd | Dokter di Wuhan yang Kulitnya Menghitam, Meninggal

Global
George Floyd, Bisakah Trump Mengerahkan Tentara dalam Menghadapi Unjuk Rasa?

George Floyd, Bisakah Trump Mengerahkan Tentara dalam Menghadapi Unjuk Rasa?

Global
4 Negara Eropa Bentuk Aliansi Produksi Vaksin Virus Corona

4 Negara Eropa Bentuk Aliansi Produksi Vaksin Virus Corona

Global
Demo George Floyd, Trump Bantah Diungsikan ke Bunker

Demo George Floyd, Trump Bantah Diungsikan ke Bunker

Global
Inggris Tawarkan Suaka bagi Warga Hong Kong, Begini Peringatan China

Inggris Tawarkan Suaka bagi Warga Hong Kong, Begini Peringatan China

Global
Tak Sengaja 'Topless' Saat Rapat via Zoom, Politisi Meksiko Buka Suara

Tak Sengaja "Topless" Saat Rapat via Zoom, Politisi Meksiko Buka Suara

Global
Ditanya soal Demo George Floyd dan Trump, PM Kanada Terdiam 22 Detik

Ditanya soal Demo George Floyd dan Trump, PM Kanada Terdiam 22 Detik

Global
komentar
Close Ads X