Kompas.com - 26/12/2021, 08:34 WIB

LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com - Muhammad Yahya (60) sibuk menggoyangkan tangannya di atas kuali. Di bawahnya, tungku dengan bahan bakar arang menyala merah.

Meski dunia sudah canggih, pria yang akrab disapa Pak Wa ini masih bertahan dengan tungku arang sejak puluhan tahun lalu.

Warung itu berada di sisi jalan Medan-Banda Aceh. Tepatnya di Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Lihatlah sisi kiri dari arah Medan jika melintas jalur nasional itu. Di situ akan terlihat papan nama Mie Arang 56.

Di situlah 10 bulan terakhir Pak Wa berjualan. Sebelumnya, selama puluhan tahun berjualan di Terminal Lama Kota Lhokseumawe.

Angka 56 diambil dari tanggal lahir putri bungsunya, lahir tanggal 5 dan bulan 6 atau Juni. Putri itu diberi nama Aisyah.

Baca juga:

Mi arang di Jalan Medan-Banda Aceh, Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota LhokseumaweKOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Mi arang di Jalan Medan-Banda Aceh, Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe

Lalu, kenapa masih bertahan dengan arang?

“Meski ada gas lebih praktis, saya masih gunakan arang ini karena aromanya. Mi yang dimasak dengan arang aromanya harum, dalam bahasa Aceh dikenal dengan sebutan bee bangong,” terang Pak Wa, Sabtu (25/12/2021).

Hal itu pula yang membuatnya bertahan memasak menggunakan tungku arang, untuk masakan lainnya sama saja.

Sesungguhnya semua ini mi aceh. Namun, membedakan aroma dari arang yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak mi saja.

Mie Arang 56 termasuk tempat makan mi legendaris di Aceh. Hanya Pak Wa di Kota Lhokseumawe, Aceh yang masih bertahan dengan bahan baku arang untuk memasak.

Baca juga:

Mi arang di Jalan Medan-Banda Aceh, Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota LhokseumaweKOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Mi arang di Jalan Medan-Banda Aceh, Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe

Meski bertahan ditengah perubahan zaman, ternyata peminat mi ini sungguh masih sangat menjanjikan.

Dalam sehari, selama pandemi Covid-19, Pak Wa bisa menjual 20 kilogram mi. Dia membuka warung sejak pukul 10.00 – 03.00 WIB.

“Sebelum pandemi lebih banyak lagi, bisa 35-50 kilogram,” terangnya.

Meski berjualan hingga dini hari. Pak Wa tak perlu khawatir karena rumahnya tepat di belakang warung itu.

Baca juga:

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.