Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 23/09/2021, 12:25 WIB

KOMPAS.com - Kue tradisional Indonesia atau jajan pasar sering disebut sebagai makanan khas Nusantara. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah.

Namun demikian, jajan pasar yang sering ditemui di banyak pusat perbelanjaan, hotel, dan restoran sebenarnya sudah tercampur dengan kultur atau budaya dari negara lain.

"Banyak sekali perubahan atau kultur dari negara lain sehingga jajan pasar itu sudah tidak asli lagi, banyak sekali pengaruh dari negara lain," tutur Education and Development Indonesia Pastry Alliance, Chef Woro Prabandari dalam webinar Jajan Pasar Inovatif dan Yummy, Rabu (22/9/2021).

Woro menuturkan bahwa jajan pasar mulanya dijual di sekitar pelabuhan.

"Dahulu pelabuhan itu tempat pertemuan, kan belum ada mobil, tidak ada kereta, jadi adanya pelabuhan," ujar Woro.

Beragam masyarakat yang ikut berkumpul di pelabuhan tersebut akhirnya memengaruhi jajan pasar yang mulanya asli Indonesia.

"Memang berasal dari pelabuhan-pelabuhan dan itu memang dari setiap daerah dan negara memiliki makanan khas sendiri," kata Woro.

Salah satu contoh jajan pasar Indonesia dan dipengaruhi oleh negara lain, yaitu China, adalah kue ku.

"Kue pasar ini juga banyak sekali menyadur dari China ya, seperti makanan-makanan China, kue-ku itu salah satunya," jelas Woro.

Baca juga:

Jajan pasar, makanan antargenerasi

Jajan pasar di Indonesia banyak dibuat oleh orang yang sudah sepuh atau orang tua.

Menurut Woro, tradisi pembuatan jajan pasar oleh orang tua sudah terjadi sejak dahulu.

Ia menuturkan bahwa alasan mengapa lebih banyak ibu atau orang tua yang membuat jajan pasar adalah karena dinilai lebih telaten.

Alasan tersebut berhubungan dengan proses pembuatan jajan pasar yang membutuhkan waktu cukup lama dan tingkat kesabaran tinggi.

Selain itu, ibu-ibu juga dinilai sangat memegang erat resep jajan pasar yang didapatkan dari para leluhur.

"Kue itu juga biasanya dibuat oleh ibu-ibu yang sudah sepuh ya waktu itu karena kue itu merupakan salah satu heritage yang harus dilestarikan," ujar Woro.

Baca juga:

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+