Kompas.com - 26/07/2021, 19:03 WIB
Ilustrasi sukiyaki dengan bahan sayur, tahu, mi. Ditambah kecap, gula, dan mirin. SHUTTERSTOCK/DODDY_KURNIAWANIlustrasi sukiyaki dengan bahan sayur, tahu, mi. Ditambah kecap, gula, dan mirin.

KOMPAS.com - Sebuah restoran sukiyaki di Tokyo, Jepang, terpaksa tutup akibat pandemi Covid-19 setelah 141 tahun berdiri.

Melansir Japan Today, restoran bernama Chinya itu mulai menjajakan makanan pertamanya pada 1880.

Kemudian, pada 1903 saat hidangan sukiyaki semakin populer, restoran tersebut mulai mengkhususkan diri pada hidangan daging sapi rebus.

Baca juga: 7 Masakan Telur Khas Jepang Selain Chawan Mushi dan Tamagoyaki

“Sukiyaki, pada intinya adalah sesuatu yang bisa mempersingkat jarak antara orang-orang dan mendekatkan mereka,” kata pemilik Chinya generasi keenam, Fumihiko Sumiyoshi mengutip Japan Today, (22/7/2021).

Pernyataan Sumiyoshi itu berlaku dalam arti kiasan dan arti sebenarnya.

Mahalnya hidangan sukiyaki seringkali dijadikan pilihan bagi banyak orang untuk menikmati makanan tersebut secara berkelompok atau saat merayakan sesuatu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ilustrasi sukiyaki khas Jepang di wadah besi. SHUTTERSTOCK/HLPHOTO Ilustrasi sukiyaki khas Jepang di wadah besi.

Penyebab restoran tutup

Penutupan restoran sukiyaki Chinya disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah karena terbatasnya akses pariwisata internasional di Jepang.

Baca juga: Resep Omurice, Nasi Goreng Omelet Khas Jepang

Pentingnya pengunjung asing ke Chinya terlihat dari deskripsi ekstensif situs webnya yang tersedia dalam bahasa Inggris dan Prancis seputar harga menu hidangan di restoran mereka.

Padahal jika dilihat dari letak restoran, lokasi restoran sukiyaki Chinya sudah sangat strategis.

Chinya berada dengan jarak hanya beberapa langkah dari gerbang Kaminarimon yang terkenal dekat ke Kuil Sensoij, salah satu atraksi wisata terbesar di Tokyo.

Sayangnya, Chinya mengalami penurunan pelanggan yang parah karena akses pariwasata internasional yang ditutup.

Selain itu, banyak penduduk Jepang yang menghindari makan di luar rumah juga menyumbang penurunan pelanggan.

Baca juga: Apa Bedanya Teriyaki dan Yakiniku dalam Hidangan Jepang?

Sukiyaki takeout bukan solusi tepat

Banyak restoran telah mencoba mengatasi masalah yang sama terkait dampak virus corona selama pandemi dengan memberikan pilihan takeout dan delivery.

Namun, hal ini tidak mudah jika hidangan yang dijual adalah sukiyaki.

Sukiyaki harus dimasak dan disantap langsung dalam keadaan hangat dari panci yang ada di atas kompor.

Jika sukiyaki disediakan dalam versi pick-up, dikhawatirkan tidak dapat menandingi rasa segar yang dimasak langsung di restoran.

Baca juga: 2 Cara Masak Nasi Pulen ala Orang Jepang, Bisa Tanpa Rice Cooker

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.