Kompas.com - 22/06/2021, 13:34 WIB

KOMPAS.com – Pernikahan adat Betawi tampaknya kurang lengkap jika tidak menyertakan sepasang roti buaya. Biasanya, sepasang roti buaya akan diusung bersama dengan barang seserahan.

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-494 Jakarta  yang jatuh pada Selasa (22/6/2021), simak beberapa faktar seputar roti buaya seperti yang sudah dirangkum Kompas.com berikut.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-494 DKI Jakarta, Kenali 15 Makanan Khas Betawi yang Langka

1. Manifestasi siluman buaya

Konon katanya, bentuk buaya dari roti ini tak sembarangan. Bentuk ini merupakan manifestasi dari pemahaman masyarakat Betawi soal siluman buaya.

Roti buaya adalah simbol lanjut kehidupan,” kata Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra seperti dikutip dari berita Kompas.com.

Menurut Yahya, siluman buaya tersebut dipercaya tinggal di sumber mata air di lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat Betawi.

“Karena si buaya siluman ini menjaga salah satu sumber kehidupan yakni entuk atau sumber mata air,” sambung dia.

Dalam istilah bahasa Betawi lama, kata Yahya, siluman buaya tersebut disebut sebagai ‘aji putih nagaraksa’.

Baca juga: Kenapa Roti Buaya Identik dengan Pernikahan Adat Betawi?

Ilustrasi buaya muara. KOMPAS.com/STANLY RAVEL Ilustrasi buaya muara.

2. Filosofi kehidupan baru

Sumber mata air tersebut biasanya ditumbuhi pepohonan rimbun yang membuat banyak orang beranggapan bahwa tempat itu angker dan dijaga oleh siluman buaya.

Maka dari itu, bentuk buaya kemudian dipilih jadi simbol melanjutkan kehidupan baru dalam prosesi pernikahan.

Sepasang roti buaya diibaratkan sebagai sepasang keluarga baru yang akan meneruskan kehidupan.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-494 Jakarta, Kenali Sejarah Es Selendang Mayang Betawi

Ilustrasi roti buaya, makanan khas pernikahan adat Betawi. SHUTTERSTOCK/KIKIPHOTOGRAPHY Ilustrasi roti buaya, makanan khas pernikahan adat Betawi.

3. Jadi perlambang suami istri

Seperti dikutip dari buku “Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita” produksi Akademi Kuliner Indonesia terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, disebutkan bahwa sepasang roti buaya melambangkan mempelai pria dan wanita yang akan menikah.

Roti buaya yang berukuran lebih besar melambangkan mempelai pria. Sementara, yang berukuran lebih kecil melambangkan mempelai wanita.

Selain sepasang roti buaya tersebut, ada pula beberapa roti buaya yang sangat kecil.

Roti tersebut jadi perlambang bahwa mempelai wanita siap melepas masa lajang dan menjadi istri untuk memberikan keturunan kepada mempelai pria.

Baca juga: Mengenal Budaya Kuliner Betawi, dari Istilah Penting sampai Sajian Lebaran

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.