Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Empal Gentong yang Mirip Gulai, Dulu Pakai Daging Kerbau

Kompas.com - 22/05/2021, 13:08 WIB
Syifa Nuri Khairunnisa,
Yuharrani Aisyah

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Empal gentong merupakan salah satu makanan khas Cirebon yang sekilas mirip dengan gulai. Empal gentong terdiri dari daging dan jeroan sapi dimasak dengan kuah santan bumbu kuning.

Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, empal gentong keberadaannya bisa dirunut jauh hingga sekitar abad ke-15 Masehi. Keberadaan sajian ini berasal dari cerita rakyat atau tradisi lisan yang ada di Cirebon.

“Pengolahan empal gentong menggunakan kayu bakar dari jenis pohon tertentu. Kemudian juga menggunakan gentong, sehingga disebut empal gentong,” ujar Fadly ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (19/5/2021).

Baca juga: 9 Tempat Makan Empal Gentong Legendaris dan Enak di Cirebon

Ilustrasi empal gentongShutterstock/Dadin Nuryadin Ilustrasi empal gentong

Dipercaya sebagai alat penyiaran Islam

Hingga kini belum ada tradisi lisan yang menyebutkan dari Cirebon bagian mana empal gentong berasal.

Namun, Fadly percaya jika penyebaran makanan ini terjadi di wilayah yang menjadi titik penyiaran Islam yang dilakukan Sunan Gunung Djati.

“Biasanya kalau dalam tradisi penyiaran Islam dan agama itu yang digunakan medianya adalah makanan salah satunya,” ungkap Fadly.

Itulah mengapa dahulu empal gentong biasa dibuat menggunakan daging kerbau, bukan daging sapi seperti sekarang.

“Karena daging sapi ini bagi masyarakat Cirebon yang masih beragama Hindu itu dianggap daging yang sakral. Sehingga di abad ke-15 itu yang digunakan adalah daging kerbau yang masih mungkin untuk dikonsumsi,” terang Fadly.

Baca juga: Cara Membuat Empal Gentong Cirebon yang Empuk dan Tidak Amis

Empal gentong.Dok. Hotel Santika Cirebon Empal gentong.

Persilangan berbagai budaya

Menurut Fadly, empal gentong dipercaya merupakan hibridasi atau pertemuan berbagai budaya.

Seperti dipengaruhi budaya Arab, Jawa, lokal, India, hingga Cina yang bersatu padu membentuk empal gentong yang kita kenal sekarang.

Hal itu bisa terlihat dari kuah empal gentong yang mirip seperti gulai. Gulai merupakan perpaduan antara pengaruh budaya Arab dengan India.

Baca juga: Apa Bedanya Empal Gepuk, Gentong, dan Asem?

Kemudian bumbu-bumbu yang dipakai dalam empal gentong didapatkan dari perpaduan antara pengaruh budaya Cina dan budaya orang lokal Cirebon saat itu.

“Penggunaan jeroan yang dipakai di empal gentong itu sangat mungkin mendapat sentuhan juga dari kuliner Tionghoa. Karena dari kuliner Tionghoa itu ada penggunaan bahan babat atau jeroan dalam sup,” papar Fadly.

Apalagi Cirebon pada abad ke-15 terkenal sebagai kawasan persilangan berbagai bangsa dan budaya.

Sebagai daerah pesisir, Cirebon kerap disinggahi para pedagang dan pendatang dari berbagai bangsa. Banyak juga yang memilih menetap di sana, dan menyebarkan budaya mereka.

Baca juga: 7 Cara Masak Empal Daging Anti Gagal, Empuk dan Bumbu Meresap

 

Ilustrasi empal gepuk khas SundaShutterstock/Ika Rahma H Ilustrasi empal gepuk khas Sunda

Perbedaan empal gentong dengan empal gepuk

Selain empal gentong, kamu mungkin pernah mendengar sajian bernama empal gepuk. Sajian yang satu ini berasal dari tatar Sunda, dan sangat berbeda dengan empal gentong.

Pasalnya, nama empal sendiri bukan karakteristik suatu hidangan atau bahan, melainkan penyebutan sebuah teknik memasak.

Baca juga: Sejarah Empal Gepuk, Cadangan Makanan Sejak Zaman Dulu

“Kalau dilihat dari nama empal itu sendiri sebetulnya itu teknik mengempal. Kalau dalam tradisi kuno Sunda itu teknik menggepuk, membuat daging jadi empuk,” tutur Fadly.

Empal dalam empal gepuk digunakan untuk merepresentasikan teknik menggepuk daging dengan cara mememarkannya dan mencampurkannya dengan bumbu khas.

Sementara di Cirebon, empal gentong disebut empal untuk merujuk pada teknik mengempukkan daging dengan cara direbus dalam kuah gulai.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com