Kompas.com - 19/05/2021, 17:12 WIB
Ilustrasi tempe dibungkus daun pisang. SHUTTERSTOCK/HABIB FARINDRAIlustrasi tempe dibungkus daun pisang.

KOMPAS.com - Tempe Movement, sebuah gerakan yang bertujuan untuk memberikan akses kepada lebih banyak orang tentang sumber makanan bergizi, ramah lingkungan, dan terjangkau.

Gerakan ini bermula dari Bapak Teknologi Pangan Indonesia, Prof. Florentinus Gregorius Winarno di Yogyakarta pada 2015.

Selanjutnya diikuti oleh dua orang keluarga lainnya, anak dan cucu Prof. FG Winarno, yaitu Wida Winarno dan Amadeus Driando Ahnan-Winarno.

Baca juga: Inovasi Tempe Indomie yang Fotonya Viral, Sudah Ada Sejak 2016

Tempe Movement pertama kali muncul di media sosial pada tahun 2015. Namun, gerakan ini sudah dirancang sejak tahun 2014.

"Tempe Movement awalnya merupakan kelanjutan dari sebuah konferensi, yaitu International Conference on Tempe  2015 di Jogjakarta," tutur Driando.

Secara terpisah, ketiganya mendapat pencerahan bahwa tempe merupakan bahan makanan yang luar biasa (superfood).

Baca juga: Resep Kering Tempe Kacang Tolo Pedas Manis, Stok Lauk Tahan Lama

Awal mula kemunculan Tempe Movement

"Saya waktu itu terobsesi body building kan, saya mau six pack, saya mau punya otot sebanyak-banyaknya dan lemak sedikit," kata Driando kepada Kompas.com, Rabu (19/5/2021).

Driando sudah mencoba berbagai macam sumber protein seperti susu, daging, dan telur. Namun, protein tersebut membuatnya enek.

Ia kemudian menemukan data ilmiah bahwa tempe memiliki potensi sebagai sumber protein yang sama seperti daging.

Baca juga: Resep Tempe Mendoan dan Sambal Kecap, Gorengan untuk Buka Puasa

Kandungan protein dan kalsium pada tempe setara bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan daging sapi.

Selain itu, kandungan lemak jenuh dan garam pada tempe lebih rendah dibandingkan dengan daging sapi.

Pendiri Tempe Movement. Dok. Instagram Tempe Movement Pendiri Tempe Movement.

Dirinya mencoba untuk menyebarluaskan informasi baik seputar kandungan nutrisi pada teman-teman yang berusia muda.

Baca juga: Resep Oseng Tempe Pete, Makan Siang Praktis dan Enak

Namun, teman-temannya tidak percaya dan mengganggap bahwa tempe bukanlah makanan yang keren dan relevan. Apalagi untuk asupan body building.

Sementara itu di tahun yang sama, ibu Driando, Wida Winarno sedang menjalani S2 dan mengikuti kuliah tentang fermentasi tradisional.

Dalam kuliahnya, Wida menemukan bahwa tempe memiliki manfaat yang luar biasa untuk pencernaan.

Di sisi lain, Prof. FG Winarno mengikuti semacam orasi ilmiah. Kolega Prof. fg Winarno juga mendapatKAN hasil penelitian terbaru tentang manfaat tempe untuk pencernaan.

Baca juga: Cara Simpan Mendol Tempe agar Awet, Jangan Taruh Freezer

Dari sana, mereka bertiga sepakat untuk membuat sesuatu. Ide awalnya adalah membentuk konferensi ilmiah. Driando berinisiatif membuat konferensi ilmiah untuk anak muda. 

Namun, setelah konferensi tersebut berakhir, Driando dan Ibunya berpikir bahwa dukungan untuk tempe ini seharusnya masih ada.

"Jangan sampai ini berenti di sini hanya di ranah ilmiah, oleh karena itu kita berubah formatnya menjadi gerakan," ujar Driando.

Baca juga: Sejarah Mendol, Makanan Khas Malang dari Tempe Busuk

Melalui gerakan Tempe Movement, Driando bersama ibu dan kakeknya bisa menampung berbagai macam bidang untuk menggerakan misi yang sama dengan tujuan mempromosikan tempe.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.