Kompas.com - 12/05/2021, 03:16 WIB
Cara memilih hamper Lebaran Unsplash/Dmitry MashkinCara memilih hamper Lebaran

KOMPAS.com – Masyarakat Indonesia memiliki beragam tradisi untuk menyambut Lebaran. Salah satunya adalah saling mengirimkan bingkisan yang pada sanak saudara dan kerabat.

Tradisi mengirimkan bingkisan atau sering juga disebut hampers dan parcel sekarang ini, ternyata bisa dirunut jauh hingga masa Jawa Kuno melalui istilah ‘ater-ater’.

“Dalam Jawa Kuno ada istilah ‘ater-ater’. Paling tidak, istilah ‘ater’ telah dikenal abad ke-IX, terbukti oleh penyebutannya dalam kakawin Ramayana, Sutasoma,” kata Travelling Chef Wira Hardiansyah pada Kompas.com, Kamis (7/5/2021).

Baca juga: Kenapa Orang Indonesia Suka Berbagi Makanan Lebaran?

Istilah ‘ater-ater’ ini seringkali dikombinasikan dengan kata ‘panganan (pasugatan,bojana)’ sehingga menjadi ‘ater-ater panganan’.

Istilah tersebut merujuk pada aktivitas mengantarkan atau membawa makanan dari seseorang atau suatu keluarga ke orang atau keluarga lainnnya pada waktu tertentu, dengan maksud tertentu.

Menurut Wira, ‘ater-ater panganan’ ini telah lama dilakukan di lingkungan masyarakat Jawa lintas generasi dan akhirnya menjadi sebuah tradisi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Sejak Kapan Ada Tradisi Rantangan Betawi Saat Lebaran?

Penjualan parsel melonjak dan marak jelang Hari Raya Idul Fitri. Seperti yang terlihat di Toko Parsel Garuda, Latumenten, Tambora, Jakarta Barat pada Jumat (8/6/2018).RIMA WAHYUNINGRUM Penjualan parsel melonjak dan marak jelang Hari Raya Idul Fitri. Seperti yang terlihat di Toko Parsel Garuda, Latumenten, Tambora, Jakarta Barat pada Jumat (8/6/2018).

Tradisi berbagi saat Islam masuk

Tradisi ‘ater-ater panganan’ ini kemudian terus dipraktikkan masyarakat Nusantara termasuk ketika Islam masuk.

Masyarakat pemeluk agama Islam mengadopsi tradisi ini dengan mengaitkannya pada imbauan Nabi Muhammad melalui beberapa hadits.

Dalam salah satu hadits yang dijelaskan Wira, Nabi Muhammad SWT berpesan kepada sang istri, Aisyah, bahwa “yang habis adalah apa yang kita makan ini dan yang kekal adalah apa yang kita sedekahkan.” (HR. At-Tirmidzi)

Baca juga: Kenapa Dodol Wajib Ada di Tradisi Rantangan Betawi Saat Lebaran?

“Dari sepenggal kisah ini, Rasulullah mengajarkan untuk memperbanyak sedekah, bahkan lewat makanan sekali pun,” jelas Wira.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X