Kompas.com - 08/05/2021, 13:04 WIB
Pekerja membungkus dodol untuk dipasarkan di rumah produksi dodol nyonya Lauw di kawasan Tangerang, Banten, Senin (28/1/2019). Menjelang Imlek permintaan dodol betawi mengalami peningkatan tiga kali lipat dengan harga jual Rp53.000 per kilogramnya. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIPekerja membungkus dodol untuk dipasarkan di rumah produksi dodol nyonya Lauw di kawasan Tangerang, Banten, Senin (28/1/2019). Menjelang Imlek permintaan dodol betawi mengalami peningkatan tiga kali lipat dengan harga jual Rp53.000 per kilogramnya.

KOMPAS.com – Tradisi rantangan Betawi yang biasa dilakukan saat hari raya Lebaran tak bisa dipisahkan dari beragam makanan khas Betawi.

Makanan-makanan ini biasanya khusus dimasak dan akan saling diantarkan pada keluarga serta kerabat dalam wadah rantang.

Tradisi ini dilakukan masyarakat Betawi untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat.

Baca juga: Tradisi Rantangan Lebaran Betawi: Dulu Makanan, sekarang Sembako dan Uang

Ada banyak ragam makanan yang jadi bagian tradisi rantangan ini. Namun, salah satu yang paling wajib adalah dodol khas Betawi. Dodol jadi simbol keteguhan atau kekuatan persaudaraan.

Pekerja mengaduk adonan dodol Betawi di rumah produksi pondok dodol Sari Rasa Ibu Yuyun di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (28/4/2021). Produksi dodol Betawi mengalami peningkatan jelang perayaan hari raya Idul Fitri. Dodol tersebut dijual mulai Rp. 10.000 hingga Rp. 100.000 per buah.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pekerja mengaduk adonan dodol Betawi di rumah produksi pondok dodol Sari Rasa Ibu Yuyun di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (28/4/2021). Produksi dodol Betawi mengalami peningkatan jelang perayaan hari raya Idul Fitri. Dodol tersebut dijual mulai Rp. 10.000 hingga Rp. 100.000 per buah.

“Utamanya dodol ya, di kampung juga disebut sebagai kue silaturahmi. Kalau Lebaran kita enggak bawa dodol, seolah-olah seperti enggak Lebaran,” kata Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (6/5/2021).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dodol disebut sebagai kue silaturahmi karena walaupun kita tidak membuat dodol sendiri, tetapi pasti akan mendapatkan dodol dari keluarga dan kerabat yang berkunjung.

Baca juga: Mengenal Budaya Kuliner Betawi, dari Istilah Penting sampai Sajian Lebaran

“Dodol itu bisa muter-muter. Misal saya Lebaran ke rumah kamu, istri saya bawa dodol. Terus kamu enggak makan dodol itu juga tapi karena musim Lebaran, kamu bawa dodol itu kemana-mana. Akhirnya bisa jadi dodol itu balik lagi ke rumah saya,” jelas Yahya.

Ilustrasi tape uli khas BetawiShutterstock/Ariyani Tedjo Ilustrasi tape uli khas Betawi

Selain dodol, ada pula tape uli yang jadi simbol rasa sayang.

Dalam buku “Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita” produksi Akademi Kuliner Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tape uli merupakan kombinasi dari dua penganan.

Uli merupakan sebutan untuk ketan, dan dicampur dengan tapai ketan hitam. Rasa gurih dari uli ini akan menyeimbangkan manisnya tapai ketan hitam.

Baca juga: 3 Takjil Khas Betawi yang Sudah Langka, dari Stup Tape hingga Bubur Ase

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X