Kompas.com - 03/04/2021, 12:08 WIB
Ilustrasi MSG Ilustrasi MSG


KOMPAS.com – MSG adalah singkatan dari monosodium glutamat. MSG dikenal sebagai salah satu penambah rasa pada makanan.

MSG di Indonesia seringkali disebut juga sebagai mecin atau micin. Pada dasarnya, kedua hal tersebut adalah hal yang sama.

Seperti dilansir The Spruce Eats, MSG berupa kristal berwarna putih yang diekstrak dari asam glutamat alami yang bisa ditemukan di banyak bahan makanan. Rumput laut, batang tebu, dan beberapa sayuran tertentu, misalnya.

Baca juga: Bagaimana Proses Membuat Mecin? Berasal dari Bahan-bahan Ini...

Ilustrasi - bahan pembuatan dashi antara lain seperti konbu, bonito, katsuoboshi, jamur shiitake, dan lainnya. Shutterstock Ilustrasi - bahan pembuatan dashi antara lain seperti konbu, bonito, katsuoboshi, jamur shiitake, dan lainnya.

Fungsi MSG pada masakan

Dilansir dari Britannica, MSG akan memberikan rasa tambahan yang unik pada masakan yang dikenal sebagai rasa umami.

Rasa ini berbeda dari rasa dasar lainnya, yakni asam, asin, pahit, dan manis. Umami akan meningkatkan rasa kompleks pada sajian yang dimasak.

Baca juga: Apa itu Rasa Umami? Apa Bedanya dengan Rasa Asin?

Dilansir Glutamate.org, MSG merupakan bentuk murni dari glutamat, salah satu jenis asam amino yang paling umum ditemukan di banyak bahan makanan.

Asam amino merupakan pembentuk protein. Lidah manusia memiliki reseptor khusus untuk glutamat.

Sama halnya untuk rasa dasar seperti manis, asam, asin, dan pahit. Glutamat ini merupakan kunci dari rasa umami.

MSG berbeda dari penyedap rasa. Jika kamu hanya melarutkan MSG dalam air, maka tidak akan memberikan rasa yang enak.

Namun, jika kamu mencampurkannya pada sesuatu masakan, misalnya pada sup, maka MSG akan meningkatkan rasa sup tersebut.

Ilustrasi MSGShutterstock Ilustrasi MSG

Sejarah MSG

Sejarah MSG berawal dari seorang bernama Profesor Kikunae Ikeda asal Jepang, melansir Buletin Ajinomoto edisi 27 September 2017 vol. 2 dari sumber “My Motivation for inventin AJI-NO-MOTO” karya Kikunae Ikeda tahun 1933, courtesy of Aozora Bunko.

Pada 1907, Profesor Ikeda sedang mencicipi kaldu sup dashi yang dimasak oleh istrinya yang disajikan bersama tahu rebus.

Namun, ada rasa nikmat yang berbeda yang dirasakan oleh Profesor Ikeda dalam sup tersebut.

Ternyata istrinya menggunakan kombu, rumput laut kering sebagai dasar kaldu sup. Kombu tersebut memberikan cita rasa yang dirasa unik oleh Profesor Ikeda.

Kemudian, pada tahun 1908 Profesor Ikeda berhasil mengisolasi kristal dari rumput laut tersebut yang dianggap memberikan cita rasa yang ia deteksi.

Kristal ini kemudian ia sebut sebagai MSG, dan mulai diproduksi massal pada 1909 dengan nama Ajinomoto.

Baca juga: Cara Membuat Kaldu Ceker Ayam yang Kaya Kolagen

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X