Kompas.com - 25/02/2021, 14:37 WIB
Ilustrasi nasi liwet khas Solo. SHUTTERSTOCK/ TUPAITERBANGIlustrasi nasi liwet khas Solo.
Penulis Lea Lyliana
|

KOMPAS.com - Indonesia memiliki banyak olahan nasi yang populer di masyarakat, salah satunya ialah nasi liwet. 

Umumnya nasi liwet disajikan dengan beragam lauk seperti daging ayam, sayur labu siam, telur, dan kerupuk.  

Nasi liwet banyak ditemukan di Solo atau Surakarta dan tanah Sunda. Lantas, sebetulnya dari mana nasi liwet berasal serta bagaimana pula sejarahnya?

Baca juga: Bedanya Nasi Liwet dan Nasi Gurih, Salah Komunikasi Peserta MasterChef

Sejarah nasi liwet

Seporsi nasi liwet dengan tambahan lauk berupa ayam kampung, telur rebus, dan ati ampela. Nasi liwet di Solo bisa ditemukan di beberapa daerah seperti Keprabon, Pasar Kliwon, Keraton Mangkunegaraan, dan juga di Laweyan.KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO Seporsi nasi liwet dengan tambahan lauk berupa ayam kampung, telur rebus, dan ati ampela. Nasi liwet di Solo bisa ditemukan di beberapa daerah seperti Keprabon, Pasar Kliwon, Keraton Mangkunegaraan, dan juga di Laweyan.

Nasi liwet merupakan set menu khas Jawa yang tidak terkontaminasi dengan budaya manapun. Cita rasa gurih, hangat, dan pedas, merupakan satu kombinasi utuh yang harus ada di nasi liwet.

Dalam buku "Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa" karya Murdijati Gardjito, Shinta Teviningrum, dan Swastika Dewi terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, disebutkan bahwa nasi liwet sebetulnya tidaklah berasal dari kaum bangsawan atau keraton.  

Melainkan dibuat oleh masyarakat biasa yang tinggal di Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Baca juga: Resep Nasi Liwet Teri Simpel, Bikin Pakai Rice Cooker

Sekitar tahun 1934, masyarakat Menuran mulai mencoba menjual nasi liwet ke sekitar wilayah Solo atau Surakarta.

Dari sinilah, nasi liwet mulai dikenal dan dikonsumsi oleh keluarga bangsawan dan Kasunanan.

Penyajian Nasi Liwet Sunda di Cirebon, lengkap dengan ketel penanak nasi.KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Penyajian Nasi Liwet Sunda di Cirebon, lengkap dengan ketel penanak nasi.

Sementara, untuk nasi liwet sunda, lahir di kalangan masyarakat perkebunan. Saat itu, masyarakat membekali dirinya dengan nasi untuk makan dari pagi sampai siang.

Menurut Murdijati Gardjito pada Kompas.com (15/06/2017), nasi liwet sunda lahir sebagai bentuk usaha berhemat. 

Dulu masyarakat di Tanah Sunda harus melewati jalan yang jauh untuk dapat sampai ke kebunnya. Oleh karenanya, nasi liwet dibawa sebagai bekal. 

Saat dibawa, nasi liwet juga disimpan dengan menggunakan ketel atau kastrolnya yang tertutup rapat. Tujuannya agar nasi tetap hangat dan lezat saat dimakan. 

Nasi liwet yang dibawa juga sudah dicampur dengan lauk lainnya, jadi sampai kebun bisa langsung dinikmati. 

Jika ingin memanaskan nasi liwet pun cukup menaruh ketelnya langsung di atas pembakaran.

 

Perkembangan nasi liwet

Hingga saat ini banyak penjual nasi liwet yang tersebar di Solo. Kamu dapat mengunjungi daerah Kerten, Keprabon, dan Solo Baru jika ingin mencoba nasi liwet yang otentik. 

Umumnya penjual nasi liwet tidak menggunakan piring sebagai alas saji. Melainkan memakai pincuk daun pisang. 

Baca juga: Resep Nasi Liwet Cumi Rice Cooker, Masak Singkat Sebelum Sarapan

Menurut mereka, daun pisang dapat memberikan aroma sedap ketika bersentuhan dengan nasi hangat. Sehingga nasi liwet akan lebih mantap dan nikmat rasanya. 

Selain dijual secara bebas, nasi liwet juga kerap disajikan saat tradisi kebudayaan. Misalnya saja saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau sekaten.

Ilustrasi nasi liwet teri di atas piring saji.DOK. SAJIAN SEDAP Ilustrasi nasi liwet teri di atas piring saji.

Seorang Profesor Sastra Jawa Universitas Indonesia, Parwatri dalam artikel Kompas.com (15/06) menembahkan bahwa nasi liwet juga biasa disajikan dalam upacara adat Wilujeng Jawa.

Contohnya saat malam malam midodareni yang merupakan syukuran sebelum upacara pernikahan berlangsung.

Untuk nasi liwet sunda, kamu dapat menjumpainya di restoran modern. Hingga saat ini, nasi liwet sunda masih disajikan dengan menggunakan ketel. Walaupun kemudian dituang juga.

Dalam nasinya biasanya sudah ada teri dan ikan asin ataupun lauk lainnya. 

Buku "Kuliner Surakarta: Mencipta Rasa Penuh Nuansa" karya Murdijati Gardjito, Shinta Teviningrum, dan Swastika Dewi terbitan PT Gramedia Pustaka Utama dapat dibeli secara online di Gramedia.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.