Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Budaya Jajan Makanan di "Hawker" Singapura Dapat Pengakuan UNESCO

Kompas.com - 19/12/2020, 13:07 WIB
Ryana Aryadita Umasugi,
Silvita Agmasari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tradisi makan komunal Singapura di hawker atau pujasera terbuka di Singapura, telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) karena nilai budayanya.

Dikutip dari Reuters, UNESCO pada Rabu (16/12/2020) mengumumkan telah menambahkan budaya hawker (pusat jajanan) Singapura ke Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity (Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Manusia). 

Baca juga: Liburan ke Gardens by the Bay Singapura Saat New Normal, Ini Ketentuannya

Pengakuan ini didapatkan oleh Singapura setelah hampir dua tahun mengajukan hawker untuk dimasukkan dalam daftar tersebut.

Hawker atau pusat jajanan Singapura awalnya didirikan untuk menampung mantan pedagang kaki lima dalam upaya untuk menata pulau pada 1970-an.

Baca juga: Menikmati Gurih dan Lembutnya Oh Chien di Hawker Centre Penang

“Pusat makanan ini berfungsi sebagai 'ruang makan komunitas', tempat orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul dan berbagi pengalaman bersantap sambil sarapan, makan siang, dan makan malam,” kata UNESCO.

 

Koki selebriti termasuk mendiang Anthony Bourdain dan Gordon Ramsay pernah mendatangi hawker dan mencicipi hidangan favorit seperti nasi ayam.

Liao Fan Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice & Noodle, salah satu restoran berlabel Michelin Star dengan harga terjangkau versi Traveloka yang ada di Singapura.DOK. Traveloka Liao Fan Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice & Noodle, salah satu restoran berlabel Michelin Star dengan harga terjangkau versi Traveloka yang ada di Singapura.

 

Film Crazy Rich Asians 2018 pun pernah menunjukkan scene piring-piring bertumpuk di pasar malam yang terkenal, dan beberapa kios bahkan mendapatkan Michelin Star (penghargaan bergengsi untuk restoran) dan harga makanan yang terjangkau.

Namun, budaya jajan di hawker Singapura menghadapi tantangan.

Usia rata-rata para pedagang di negara tersebut adalah 60 tahun. Kaum muda Singapura semakin menghindari dapur serta memilih untuk bekerja di kantor.

Baca juga: Resep Ayam Panggang Juicy, Garing Luarnya Lembut Dagingnya

Pandemi COVID-19 juga memberikan pukulan, menghentikan gelombang turis yang biasa ke hawker. Sementara, penduduk setempat bahkan dilarang makan di luar selama beberapa bulan selama lockdown awal tahun ini.

Singapura harus menyerahkan laporan setiap enam tahun ke UNESCO, yang menunjukkan upaya yang dilakukan untuk melindungi dan mempromosikan budaya jajan di hawker. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com