Sejarah Perkembangan Kuliner Minang, Dulu Belum Ada Gulai

Kompas.com - 27/10/2020, 17:07 WIB
Ilustrasi Nasi Kapau khas Bukittinggi. SHUTTERSTOCK/ALJOFOTOIlustrasi Nasi Kapau khas Bukittinggi.


KOMPAS.com – Berada di daerah simpul membuat Sumatera Barat mendapatkan banyak sekali pengaruh budaya bangsa asing, tak terkecuali di bidang kuliner.

Menurut sejarawan Fadly Rahman, dahulu daerah Minangkabau terletak di perlintasan rute perdagangan rempah masa lalu.

Baca juga: Apa Bedanya Makanan Minang Daerah Pesisir dan Pedalaman?

Para pedagang rempah harus melintasi Sumatera Barat untuk bisa mencapai Selat Malaka yang jadi salah satu pusat jalur perdagangan rempah.

“Kalau kita melihat ada keidentikan antara budaya Melayu di Malaysia dengan di Sumatera Barat, maka nanti akan kita lihat,” kata Fadly ketika menjadi narasumber dalam sesi webinar “Perjalanan Rantau: Lapau Nagari Kapau” yang diselenggarakan Aksara Pangan, Kamis (22/10/2020).

Ilustrasi gulai tambusu khas Minang, usus sapi isi tahu telur. SHUTTERSTOCK/IMAGE PICKER Ilustrasi gulai tambusu khas Minang, usus sapi isi tahu telur.

Karena itulah banyak bangsa-bangsa asing seperti Arab, India, Asia Timur, hingga Eropa yang kemudian singgah ke Minangkabau. Sumatera Barat semakin ramai saja ketika Terusan Suez dibuka pada 1869.

“Nanti hubungan perdagangan ini akan membentuk atau memengaruhi kebudayaan di kawasan Selat Malaka. Termasuk juga pengaruh kuliner India, Arab, bahkan Eropa, yang membentuk citra kuliner di kawasan Sumatera Barat ini,” tutur Fadly.

Sumatera Barat jadi pelabuhan transit

Selanjutnya, para pedagang rempah yang berangkat dari wilayah timur Nusantara akan singgah ke Sumatera Barat dalam perjalanan mereka ke Selat Malaka. Pelabuhan Tiku saat itu menjadi salah satu pintu masuknya.

Jalur perdagangan rempah di sekitar Sumatera Barat dan Selat MalakaDok. YouTube Aksara Pangan Jalur perdagangan rempah di sekitar Sumatera Barat dan Selat Malaka

Fadly menuturkan, pada masa itu sekitar sebelum abad ke-16, kuliner Minangkabau belum seperti yang kita kenal sekarang.

Ia mencontohkan saat itu ada orang Eropa, tepatnya berasal dari Perancis. Saat itu ia datang ke kawasan Sumatera Barat dan masuk lewat Pelabuhan Tiku.

“Dia dijamu makan di sana dengan hidangan bersahaja. Kalau kita membayangkan makanan Minang sekarang ini identik dengan daging yang royal, paduan gulai, kari, dan tambusu. Tapi di masa itu, hidangan yang dihidangkan tidak seperti sekarang,” terang Fadly.

Baca juga: Resep Gulai Tambusu Khas Minang, Usus Sapi Isi Tahu Telur

Kala itu hidangan Minang masih sangat sederhana seperti ikan, nasi, dan sesekali ada ayam sebagai pilihan.

Citra kuliner Minang yang identik dengan kari dan gulai baru berproses pada masa abad ke-16 dan setelahnya.

Pasalnya, gulai dan kari sendiri merupakan pengaruh dari kebudayaan India yang berpadu dengan rempah yang berasal dari timur nusantara.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X