Produktivitas Sagu Masih Rendah, Kementan Tata dan Perluas Lahan Sagu

Kompas.com - 21/10/2020, 15:21 WIB
Ilustrasi tepung sagu basah Shutterstock/Riana AmbarsariIlustrasi tepung sagu basah


KOMPAS.com – Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian ( Kementan) Heru Tri Widarto menegaskan bahwa penataan dan perluasan jadi hal penting untuk mengembangkan potensi sagu.

Hal itu ia sampaikan dalam sesi talkshow Sagu Pangan Sehat untuk Indonesia Maju” Pekan Sagu Nusantara, Selasa (20/10/2020).

Baca juga: Pekan Sagu Nusantara 2020 Resmi Dibuka Hari Ini

“Penataan itu begini, sagu kan bentuknya rumpun. Kalau dia dibiarkan nanti anakannya terlalu banyak. Sehingga nanti dia tidak tumbuh optimal. Itu yang kami tata,” kata Heru.

Penataan dilakukan dengan mengatur jarak tumbuh tanaman sagu. Setiap pohon diberi jarak sekitar 9-10 meter agar tumbuhnya optimal.

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto ketika berbicara di talkshow Pekan Sagu Nusantara 2020 Dok. YouTube Pekan Sagu Nusantara Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto ketika berbicara di talkshow Pekan Sagu Nusantara 2020

Meningkatkan produktivitas

Sagu dianggap perlu ditata dan diperluas agar produktivitasnya meningkat. Pasalnya jika sagu dibiarkan begitu saja, maka produktivitasnya akan sangat rendah.

Heru menyebut setiap satu hektar lahan sagu hanya bisa menghasilkan sekitar 3,5 ton tepung sagu. Padahal jika diurus dengan baik, bisa menghasilkan sampai 30-40 ton tepung sagu per hektar.

Selain penataan, Heru juga menyebut akan memperluas lahan sagu.

Baca juga: Pekan Sagu Nusantara Pecahkan Rekor Dunia Makan Sagu Serentak Terbanyak

 

Tak itu saja, Kementan juga akan menyiapkan berbagai aspek sekaligus. Termasuk pembenihan, pengolahan, dan proses pasca-panen.

“Memang kami lebih banyak menyentuh yang sagu rakyat. Karena 96 persen kan memang milik rakyat,” tutur Heru.

Dengan adanya benih yang baik, program penataan dan perluasan yang berjalan baik, diharapkan bisa meningkatkan produktivitas sagu.

IlustrasiWikipedia Ilustrasi

“Memang kalau kita lihat dari sisi luasan, itu yang sudah dibudidayakan baru sedikit. Baru sekitar 663 hektar dari total 5,5 juta hektar. Sisanya itu di hutan,” tukas dia.

Sementara soal pembenihan, ia menyebut beberapa benih unggul yang bisa dicoba untuk meningkatkan produktivitas sagu. Misalnya adalah sagu molat dan selat panjang.

Setiap daerah akan mendapatkan benih unggul yang berbeda dari Kementan. Pasalnya tidak setiap benih cocok ditanam di daerah tertentu.

Baca juga: Potensi Sagu Sebagai Ketahanan Energi, Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

“Belum tentu yang dari selat panjang ditanam di Papua itu tumbuh. Beda karakteristik, kondisi lingkungan juga berbeda. Tentu produktivitas juga akan berbeda,” papar Heru.

Nantinya, kebijakan penataan dan perluasan dari Kementan ini tidak hanya akan dilakukan di Papua saja.

Namun, juga di Kabupaten Kepulauan Meranti di Riau, yang salah satu komoditas utama daerahnya adalah sagu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X