Kompas.com - 13/10/2020, 21:07 WIB
Ilustrasi donasi makanan Shutterstock/BestDealsIlustrasi donasi makanan


KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama beberapa bulan terakhir memberikan dampak signifikan pada banyak aspek. Salah satunya adalah soal ketahanan pangan dunia.

Vice President Programs at The Global FoodBanking Network Douglas L. O’Brien mengatakan bahwa pandemi ini menyebabkan peningkatan signifikan terhadap permintaan makanan. 

Ia menyebutkan pandemi berpeluang besar menyebabkan krisis kelaparan global.

Saat ini, Douglas mengatakan satu dari empat orang menghadapi kekurangan pangan.

"Sekitar 690 juta orang kini menghadapi kelaparan kronis dan mungkin akan bertambah lagi lebih dari 130 juta orang,” kata Douglas ketika menjadi pembicara dalam acara webinar “Foodcycle World Food Day 2020” pada Jumat (9/10/2020).

Baca juga: Indonesia, Negara Penghasil Limbah Makanan Peringkat Kedua Tertinggi di Dunia

Orang-orang tersebut merupakan mereka yang berada dalam kemiskinan serta orang-orang yang baru menjadi miskin karena efek pandemi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Salah satu sebabnya adalah banyaknya pemutusan hubungan kerja saat pandemi.

Tak itu saja, orang-orang yang terdampak juga meliputa mereka para pekerja informal , Mereka biasanya punya akses terbatas pada makanan.

Menurut Douglas, wanita dan anak-anak jadi pihak yang paling terkena dampak pandemi ini.

Ilustrasi supermarketantpkr Ilustrasi supermarket

Bagaimana FoodBank terdampak

FoodBank sebagai organisasi nirlaba yang biasa memasok makanan kepada mereka yang membutuhkan juga mengalami dampak yang signifikan.

Dalam beberapa minggu setelah pandemi ini diumumkan oleh World Health Organization (WHO), sekitar 94 persen food bank di dunia baik di negara maju maupun berkembang, melaporkan kekurangan pasokan makanan.

Baca juga: Apa Bedanya Food Loss dan Food Waste? Limbah Makanan yang Jadi Masalah

Tak itu saja, 85 persen di antaranya juga melaporkan kebutuhan dukungan dana dan logistik.

Pasalnya, banyak dari food bank terdampak aturan yang dibuat pemerintah dalam rangka mengurangi penyebaran Covid-19.

“Aturan pemerintah ini tidak benar-benar mengatur orang-orang yang tidak punya akses pada makanan yang disediakan sekolah, akses pada pekerjaan, atau bahkan keamanan sosial,” papar Douglas.

Perubahan pola konsumsi

Ironisnya, meskipun banyak orang kekurangan makanan tetapi banyak pula orang yang kelebihan makanan sampai membuangnya.

Advisor of FoodCycle Indonesia Suryadi Nagawiguna, menyebutkan pada awal pandemi banyak supermarket yang mengalami kekurangan produk makanan. 

Sebab banyak orang yang melakukan penumpukan makanan. Mereka membeli produk lebih banyak dari yang diperlukan karena takut kesulitan akses ke depannya.

Ilustrasi anak-anak kekurangan makananShutterstock/coffee prince Ilustrasi anak-anak kekurangan makanan

“Lalu sekarang juga lebih banyak yang masak di rumah. Barang-barang berubah. Banyak barang non-perishable (tidak mudah busuk) yang lebih laku,” ujar Suryadi dalam kesempatan yang sama.

Namun di sisi lain, food loss (limbah makanan karena proses panen, pasca-panen, dan distribusi) juga jadi lebih banyak.

Banyak makanan segar khususnya yang terpaksa dibuang begitu saja karena masa kadaluarsanya sudah lewat.

Baca juga: Tips Kurangi Sampah Makanan, Olah Semua Bagian Bahan Makanan

Misalnya, di beberapa supplier yang biasa melakukan penyaluran langsung ke konsumen atau restoran.

Barang-barang segar seperti susu atau telur misalnya, seringkali harus dimusnahkan.

Salah satu sebabnya karena restoran banyak yang tidak beroperasi normal. Jumlah penyaluran makanan pun tidak sebanyak biasanya.

Dampak gangguan rantai pasok pangan

Gangguan yang dialami rantai pasok pangan ini, menurut Douglas, akhirnya akan memicu kenaikan harga di beberapa pasar.

Sebagian besar karena tidak adanya tenaga untuk mengisi transportasi yang terganggu untuk mengangkut logistik.

Baca juga: Tips Zero Waste Cooking, Hemat Uang Belanja dan Baik Bagi Lingkungan

“Ini kemudian akan berdampak pada sekitar satu dari dua orang di dunia yang tidak punya perlindungan sosial serta membutuhkan bantuan food bank,” papar Douglas.

Food bank jadi salah satu penyambung hidup bagi orang-orang tersebut. Di Indonesia sendiri, ada sekitar 107 juta orang yang berisiko terkena dampak ekonomi dari Covid-19 ini.

Apalagi meningkatnya orang yang terkena pemutusan hubungan kerja di antara para pekerja formal maupun informal. 

Hal ini disebutkan Dpuglas berimbas pada kemampuan membeli, meningkatkan masalah pangan, serta malnutrisi dari jangka sedang hingga jangka panjang.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.