Alasan Gudeg Dijual Tengah Malam sampai Subuh di Yogyakarta

Kompas.com - 27/09/2020, 16:11 WIB
Ilustrasi penjual gudeg malam hari di Yogyakarta. Dok. Shutterstock/ LHismantoIlustrasi penjual gudeg malam hari di Yogyakarta.

KOMPAS.com - Gudeg dijual hampir 24 jam di Yogyakarta. Dari pagi sampai subuh ada saja penjual gudeg di sudut Kota Pelajar.

Uniknya gudeg yang dijual tengah malam sampai subuh tetap punya banyak penggemar.

Penjual gudeg tengah malam ini punya pelanggan setia yang rela antre bahkan sebelum warung makan buka.

Dari mana budaya menjual gudeg saat tengah malam sampai subuh ini?

Baca juga: Resep Gudeg Komplet khas Yogyakarta, Lengkap dengan Sambal Krecek

"Orang Jawa itu punya filosofi menikmati sesuatu paling bisa dilakukan di malam hari. Sebutannya mat matan," kata pemerhati Kuliner Indonesia dan penulis buku kuliner, Prof Dr. Murdijati Gardjito saat ditemui Kompas.com pada 2018.

Istilah mat matan dalam Jawa dijelaskan Murdijati adalah merasakan sesuatu secara santai, perlahan-lahan, dengan perasaan.

Saat pagi ia menyebutkan biasanya orang sibuk menyiapkan hari, siang sibuk bekerja, dan malam menjadi sisa waktu untuk bersantai.

Maka tidak heran, menurut Murdijati, di daerah Yogyakarta dan sekitar ada banyak makanan yang dijual hanya pada malam hari.

Ilustrasi angkringan dari Yogyakarta.SHUTTERSTOCK/BAYU DWI Ilustrasi angkringan dari Yogyakarta.

Selain gudeg, ada pula warung bakmi jawa dan angkringan yang identik buka pada malam hari.

Baca juga: 5 Bakmi Jawa Terkenal di Yogyakarta, Pernah Coba Semua?

"Kebiasaan itu sudah lama, tetapi lebih tua kebiasaan gudeg dijual di pagi hari. Bubur gudeg itu banyak untuk anak-anak. Perhatikan kalau gudeg malam buburnya lebih sedikit," jelas Murdijati.

Pelanggan gudeg saat malam hari, lanjutnya, didominasi oleh laki-laki. Mereka adalah orang-orang yang sibuk mencari nafkah saat pagi hari kemudian malam menikmati gudeg.

"Saat belum ada kesetaraan jender, perempuan pergi beli makan saat malam hari itu dianggap kurang etis," sebut Murdijati.

Baca juga: Sejarah Angkringan dari Desa Ngerangan Klaten, Kini Populer di Yogyakarta



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X