Kompas.com - 13/07/2020, 15:55 WIB
Gudeg Yu Djum yang disajikan dengan daun pisang. KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMANGudeg Yu Djum yang disajikan dengan daun pisang.


JAKARTA, KOMPAS.com – Rasanya tak lengkap jika wisata kuliner Yogyakarta tanpa menjajal gudeg.

Makanan dengan cita rasa manis yang khas ini memang selalu punya tempat tersendiri di hati para pencinta kuliner.

Baca juga: Membaca Lagi, Sejarah dari Nikmatnya Gudeg Yogyakarta

Di Yogyakarta, ada begitu banyak tempat makan gudeg enak yang juga legendaris. Berikut ini daftarnya. Mungkin bisa jadi salah satu tujuan berwisata kuliner ketika kamu berkunjung ke Yogyakarta nanti.

Apabila keluar rumah, tetap taati protokol kesehatan. Di antaranya memakai masker, jaga kebersihan diri, dan jaga jarak.

1. Gudeg Mbah Lindu

Mbah Lindu dipercaya jadi penjual gudeg tertua di Yogyakarta. Mbah Lindu bahkan tak ingat sudah berapa lama ia berjualan gudeg. Namun, Mbah Lindu ingat betul ia telah berjualan gudeg sebelum memiliki suami.

Gudeg Mbah Lindu beradal di Jalan Sosrowijayan, tepatnya di pos depan Hotel Grage Ramayana. Hanya berjarak kira-kira 300 meter saja dari Jalan Malioboro.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gudeg Mbah Lindu buka mulai pukul 05.00-10.00 WIB. Namun tak jarang sebelum itu pun sudah banyak lauk gudeg yang habis. Untuk bisa menikmati Gudeg Mbah Lindu, kamu perlu siapkan kocek mulai dari Rp 20.000 untuk satu porsi nasi gudeg.

Saking legendarisnya, Gudeg Mbah Lindu ini sempat didokumentasikan dalam serial dokumenter Netflix, Street Food: Asia yang tayang 2019 lalu.

Namun, Mbah Lindu meninggal dunia pada Minggu (12/7/2020) pukul 18.00 WIB. Ia meninggal dunia pada usia 100 tahun.

Sebelumnya ia telah berhenti berjualan langsung dan hanya membantu proses memasak di dapur hingga akhir hayatnya. Kini, anaknya yang benama Ratiyah yang meneruskan usahanya.

Baca juga: Mbah Lindu Meninggal, Begini Perjalanan Gudeg Legendarisnya di Yogyakarta

Mbah Lindu, penjual gudeg berusia hampir seabad ini selalu berjualan didampingi anak bungsunya di Jalan Sosrowijayan, YogyakartaKompas.com/Adhika Pertiwi Mbah Lindu, penjual gudeg berusia hampir seabad ini selalu berjualan didampingi anak bungsunya di Jalan Sosrowijayan, Yogyakarta

2. Gudeg Yu Djum

Yu Djum pertama kali berjualan gudeg di kawasan Karangasem, sebelah utara Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah itu, beliau membuka gerai di Jalan Wijilan yang kini jadi sentra gudeg di Yogyakarta.

Gudeg Yu Djum masih dimasak dengan cara tradisional, yakni dengan kayu bakar. Banyak wisatawan bahkan dari luar Jawa yang mengincar Gudeg Yu Djum ini.

Rasa Gudeg Yu Djum cenderung punya rasa manis yang kuat, gudegnya juga kering.

Satu porsi biasanya berisi nasi, gudeg lengkap dengan kuah aren kental, sambal krecek, dan aneka lauk mulai dari telur rebus berbumbu, tahu, tempe, daging ayam, dan masih banyak lagi.

Ayam yang digunakan merupakan ayam kampung, sedangkan telurnya menggunakan telur bebek. Penggunaan ayam kampung dan telur bebek ini jadi keunggulan tersendiri Gudeg Yu Djum.

Gudeg kering Yu Djum, rasanya gurih dan tidak terlalu manis di lidah para turis.KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Gudeg kering Yu Djum, rasanya gurih dan tidak terlalu manis di lidah para turis.

Gudeg Yu Djum cocok dijadikan oleh-oleh karena bisa bertahan selama 24 jam tanpa dihangati. Harganya pun bervariasi, tergantung dengan lauk apa yang kamu padukan dengan nasi gudeg.

Nasi gudeg porsian bisa kamu dapatkan dengan harga mulai dari Rp 10.000. Sementara untuk kemasan besek, harganya mulai dari Rp 30.000, dan kemasan kendil mulai dari Rp 180.000.

Kini ada 5 outlet Gudeg Yu Djum tersebar di Yogyakarta. Dengan Gudeg Yu Djum Pusat ada di Jalan Kaliurang, Karangasem.

3. Gudeg Permata

Gerai gudeg berkonsep lesehan ini terletak di Jalan Gajah Mada, tepat di sebelah barat bekas bioskop Permata. Gudeg ini buka pada malam hari yakni pukul 21.00-02.00 WIB.

Rasa gudegnya cukup manis, dengan siraman areh yang durih. Kreceknya juga cukup pedas, cocok untuk kamu pecinta pedas.

Gudeg Permata telah buka sejak 1951. Resepnya hingga kini masih turun temurun sehingga rasanya masih otentik. Siapkan kocek mulai dari Rp 20.000, bergantung dengan lauk pendamping apa yang kamu pilih.

Tinah, perintis Gudeg Mercon di Yogyakarta, Sabtu (21/4/2018).KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Tinah, perintis Gudeg Mercon di Yogyakarta, Sabtu (21/4/2018).

4. Gudeg Mercon Bu Tinah

Telah ada sejak tahun 1992, Gudeg Mercon Bu Tinah seringkali jadi favorit untuk kamu para pecinta pedas. Tak hanya bisa menikmati sensasi manis-gurih gudeg, tapi juga ada citarasa pedas yang nendang.

Gudeg mercon ini pertama kali dijual oleh Ibu Ngatinah. Kamu bisa menemukan aneka lauk pendamping gudeg mercon di sini. Mulai dari gorengan, ayam kampung, ceker ayam, dan masih banyak lagi.

Berkonsep lesehan, jam buka Gudeg Mercon Bu Tinah pada malam hari, yakni pukul 21.30-01.00 WIB. Siapkan kocek mulai dari Rp 15.000-Rp 25.000 untuk bisa menikmati gudeg dan aneka sajian pendamping lainnya.

 

5. Gudeg Pawon

Berbeda dari gerai gudeg yang lain, Gudeg Pawon buka pada malam hari yakni mulai pukul 21.30-00.00 WIB.

Dinamakan Gudeg Pawon karena para pengunjung bisa langsung mengambil lauk dan makan gudeg di dapur. Dalam bahasa Jawa, Pawon memang berarti “dapur”.

Gudeg Pawon hampir selalu dipenuhi pengunjung. Pasalnya, cita rasanya bisa dibilang agak berbeda dari gudeg pada umumnya. Gudeg Pawon punya dominasi rasa yang manis-gurih.

Gudeg disajikan secara kering, tidak terlalu basah. Arehnya juga hanya menggunakan santan kelapa, tidak menggunakan kethak atau endapan minyak santan.

Gudeg Pawon ini telah ada sejak tahun 1958. Pertama kali dirintis oleh Bu Prapto Widarso, dan menyajikan sambal krecek yang pedas dan ayam kampung yang dimasak berjam-jam.

Gudeg Pawon ada di Jalan Janturan 36-38, Warungboto, Yogyakarta. Harga satu porsi gudeg beserta aneka lauknya di sini cukup beragam tapi masih terjangkau. Sebaiknya siapkan kocek mulai dari Rp 11.000 hingga Rp 25.000.

6. Gudeg Sagan

Gudeg Sagan terletak di Jalan Profesor Dr Herman Yohanes Nomor 53, Caturtunggal. Gudeg Sagan punya tempat makan modern dengan konsep restoran. Restoran ini buka mulai pukul 07.00-24.00 WIB.

Di sini, kamu bisa menemukan gudeg basah dengan ayam kampung yang masih dimasak dengan cara tradisional, yakni menggunakan tungku kayu. Selain itu, ciri khas lainnya adalah kuah gudeg yang sengaja dituang banyak-banyak ke atas seporsi gudeg.

Untuk bisa menikmati Gudeg Sagan ini, kamu tak perlu merogoh kocek yang terlampau dalam. Gudeg di sini dihargai mulai dari Rp 9.000 untuk nasi gudeg saja, dan bervariasi hingga Rp 27.000 tergantung lauk yang kamu pilih.

Gudeg manggarTribun Jogja/Hamim Thohari Gudeg manggar

7. Gudeg Manggar Bu Jumilan

Berbeda dari gudeg pada umumnya, Gudeg Manggar menggunakan manggar atau kembang kelapa muda sebagai bahan utamanya. Itu membuat gudeg ini punya cita rasa yang khas, yakni lebih gurih dan padat.

Penggunaan manggar pun tak bisa sembarangan. Hanya pohon kelapa yang kurang produktif yang manggarnya boleh diambil dan berada di daerah kurang subur.

Pembuatannya pun punya tingkat kerumitan yang relatif tinggi. Salah satu penjual Gudeg Manggar yang legendaris adalah Warung Bu Jumilan.

Warung ini terletak di Jalan Srandakan Km 8, Kabupaten Bantul. Warung ini buka mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Siapkan kocek mulai dari Rp 8.000 – Rp 17.000 untuk bisa menikmati gudeg manggar di sini.

Hidangan gudeg di Warung Makan Gudeg B. Djuminten, Jogjakarta, Minggu (6/8/2017).KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL Hidangan gudeg di Warung Makan Gudeg B. Djuminten, Jogjakarta, Minggu (6/8/2017).

8. Gudeg B Djuminten

Gudeg B Djuminten adalah salah satu warung gudeg paling legendaris di Yogyakarta. Yakni sebelum zaman kemerdekaan, tepatnya tahun 1926 dan sudah dikelola oleh tiga generasi.

Gudeg ini punya cita rasa gurih yang khas yang diperoleh dari kuah arehnya. Teksturnya cukup kental, mirip dengan kuah padang. Namun rasa manisnya masih cukup kuat dan berpadu sempurna dengan rasa gurihnya.

Citarasa manis dan gurih ini diperoleh dari proses memasaknya yang cukup lama. Yakni tiga hari satu kali dalam gentong besar berkapasitas satu kuintal.

Gudeg B Djuminten terletak di Jalan Asem Gede Nomor 14, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta. Kamu bisa siapkan kocek mulai dari Rp 14.000 – Rp 45.000 untuk bisa menikmati gudeg di sini.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X