Salin Artikel

PHRI Ajak Pengusaha Makanan Indonesia Contoh Skema Bisnis Uni Eropa

KOMPAS.com - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengajak pengusaha Indonesia untuk mempelajari skema industri makanan dan minuman dari Eropa yang mengedepankan standarisasi produk konsumsi.

Setidaknya, ada empat hal yang bisa dicontoh oleh pengusaha makanan dan minuman Indonesia dari pebisnis Uni Eropa. 

"Ini semua tentang kontrol kualitas dan standar," kata etua Bidang Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) PHRI Alexander Nayoan akrab disapa Alex dikutip dari Antara.

Alex menyebutkan standardisasi dan sertifikasi menjadi hal yang penting di industri makanan, mengingat belum ada kontrol yang ketat terkait aturan sejenis di industri makanan dan minuman Indonesia.

Ia mencontohkan terkait standardisasi setidaknya pengusaha harus memiliki prasyarat standar kesehatan dan kualitas.

Standarisasi ini sudah diatur oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health,Safety, Enviromental Friendly).

Sementara untuk di industri hotel dan restoran dikenal standar khusus bernama HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

Selanjutnya taktik bisnis yang bisa dipelajari dari Eropa oleh Indonesia adalah teknik memasarkan produk.

Alex mencontohkan salah satu pemasaran yang bisa dilakukan adalah dengan keterlibatan aktif pemerintah menyalurkan produk- produk dalam negeri untuk bisa menggandeng pasar global.

Seperti Uni Eropa, gencar melakukan kerjasama aktif dengan negara lainnya untuk mengenalkan produk makanan mereka lewat berbagai kegiatan dalam waktu berkesinambungan.

Taktik industri makanan lainnya yang bisa diadaptasi dari Eropa di Indonesia adalah para pengusaha bisa belajar meningkatkan produktivitas dan kualitas terutama pada bahan makanan.

Ini yang perlu kita belajar, meningkatkan produktivitas sehingga bisa melakukan ekspor dengan lebih banyak namun kualitas terjaga. Hai yang diperhatikan benar- benar menyeluruh mulai dari pembibitan, menana, sampai waktu panennya,” ujar Alex.

Terakhir yang bisa dipelajari dari industri makanan di Eropa dan diterapkan di Indonesia adalah dari segi pengemasannya.

Sering kali yang jadi masalah dalam industri makanan dalam negeri saat melakukan ekspor adalah pengemasan yang tidak maksimal sehingga berujung pengusaha yang merugi.

Sebab, barang tidak sampai dengan utuh sampai ke negara tujuan. Barang tersebut dikembalikan lahgi ke Indonesia.

https://www.kompas.com/food/read/2021/08/26/142200275/phri-ajak-pengusaha-makanan-indonesia-contoh-skema-bisnis-uni-eropa

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.