Salin Artikel

Sulitkah Ganti Nasi ke Pangan Lokal Lain? Berikut Kata Para Pakar

KOMPAS.com – Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan diversifikasi pangan lokal adalah mengubah pola pikir konsumsi harian.

Hal tersebut diungkapkan oleh Travelling Chef Wira Hardiyansyah kala menjadi pembicara dalam acara Webinar Diversifikasi Pangan Lokal Seri 2: Gaya Hidup Sehat, Kekinian dengan Pangan Lokal pada Rabu (23/6/2021).

“Stigmanya itu kita makan nasi atau kita makan karbohidrat. Kalau kita makan nasi, ya stigmanya enggak akan bisa berubah. Kalau kita makan karbohidrat, pemikiran berubah,” terang Wira.

Kurangi nasi perlahan

Salah satu cara yang disarankan Wira agar mudah menerapkan diversifikasi pangan harian adalah mengontrol asupan nasi yang kita konsumsi.

“Kalau di rumah masak nasi terus lauknya sambal goreng kentang, terus sama perkedel jagung, supnya itu bihun yang semuanya karbohidrat," jelas Wira.

"Jadi ketika di luar rumah saat makan siang atau sarapan kita harus mengontrol (asupan karbohidrat),” pungkasnya.

Olah secara inovatif

Alternatif lainnya, kamu juga bisa mengolah bahan pangan lokal secara inovatif. Wira mencontohkan olahan telur dadar yang terbuat dari tepung jagung dan jagung segar.

Telur dadar tersebut ia santap tanpa menggunakan nasi. Pasalnya, tepung jagung dan jagung segar di dalam telur tersebut sudah termasuk sumber karbohidrat.

Menurut Holistic Health Coach Gwen Winarno ketika jadi pembicara di kesempatan yang sama, pangan lokal tak perlu melulu diolah menjadi masakan Indonesia.

“Variasi bahan-bahan lokal ini sudah bisa banget diolah jadi makanan dari negara lain karena yang dicari milenial itu keberagaman,” ujar Gwen.

Sekarang ini sudah ada beberapa restoran, kafe, bahkan warung-warung yang menawarkan menu western, asian, mediteranian, korean, japanese, dan lainnya yang menggunakan bahan pangan lokal.

Tak itu saja, ada pula produsen lokal yang memanfaatkan bahan pangan lokal sumber karbohidrat pengganti nasi seperti umbi-umbian untuk jadi bahan makanan yang unik.

Misalnya, dijadikan mi, pasta, cookies, dessert, ice cream non-dairy, boba, keripik, hingga tepung.

Tak jarang pula ada makanan tradisional berbahan dasar pangan lokal yang kemudian dikreasikan dengan kekinian.

Seperti lemet berwarna-warni, boba dari ubi, hingga mi dari sagu, ubi, singkong, atau sayuran lainnya.

“Intinya kita tetap keep up dengan perkembangan food trend dan health. Ini semua pastinya bisa meningkatkan preferensi pangan lokal bagi masyarakat,” tambah Gwen.

Inovasi-inovasi tersebut diharapkan Wira dan Gwen bisa membuat masyarakat lebih gemar memasak sendiri makanan mereka.

Selain itu, tujuannya agar kita tahu dari mana asal makanan yang kita konsumsi dan bisa mengontrol asupan yang masuk ke tubuh kita.

https://www.kompas.com/food/read/2021/06/26/140800875/sulitkah-ganti-nasi-ke-pangan-lokal-lain-berikut-kata-para-pakar-

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.