Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dosen Manajemen UMM Ungkap Penyebab Gen Z Sulit Beli Rumah

Kompas.com - 11/06/2024, 08:43 WIB
Mahar Prastiwi

Penulis

KOMPAS.com - Rumah menjadi salah satu kebutuhan primer manusia. Namun pada tahun 2024 ini, semakin banyak laporan yang menunjukkan bahwa generasi Z kesulitan menghadapi tantangan untuk bisa memiliki rumah.

Penyebab generasi Z atau gen Z ini sulit memiliki rumah karena faktor ekonomi dan sosial. Dua faktor tersebut sangat berkontribusi sehingga impian memiliki rumah bagi generasi Z semakin sulit dicapai.

Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Novita Ratna Satiti mengungkapkan, salah satu faktor utama yang membuat Gen Z sulit memiliki rumah adalah tingginya harga properti.

"Dalam beberapa tahun terakhir, harga rumah terus meningkat secara signifikan, sementara pendapatan rata-rata tidak mengalami peningkatan yang sebanding," terang Novita Ratna Satiti seperti dikutip dari laman UMM, Selasa (11/6/2024).

Baca juga: Dosen UMM Malang Ciptakan Gen Ayam Kampung Super, Bisa Produksi Telur Setiap Hari

Faktor penyebab gen Z sulit beli rumah

Menurut dia, biaya hidup yang meningkat dan inflasi yang terus naik juga menjadi hambatan signifikan bagi generasi Z untuk memiliki sebuah rumah.

Selain itu, situasi ekonomi terutama pasca-pandemi Covid-19 juga sangat memengaruhi kemampuan Gen Z untuk memiliki rumah sendiri.

Novita menambahkan, banyak dari mereka yang bekerja di sektor informal dengan label gig economy atau perekrutan sistem kerja dengan jangka pendek yang tidak memiliki tunjangan kesehatan, pendidikan anak, dan jaminan hari tua.

Menurut Novi, jika ditarik ke belakang, terdapat perbedaan signifikan antara tantangan yang dihadapi oleh generasi Z dan generasi milenial.

Sebagai contoh, kenaikan gaji generasi milenial jauh lebih stabil dibandingkan dengan Gen Z yang sering kali harus menghadapi stagnasi upah.

"Selain itu, generasi milenial menikmati akses yang lebih mudah terhadap kredit dan pinjaman pada masanya. Sedangkan Gen Z kini dihadapkan pada persyaratan yang lebih ketat dan suku bunga yang lebih tinggi," paparnya.

Baca juga: Dosen UMM Ungkap Plus Minus Gen Z yang Sering Gunakan Bahasa Inggris

Gen Z cenderung lebih melek terhadap teknologi

Meskipun demikian, ada potensi unik yang dapat dikembangkan dalam hal pengelolaan finansial. Terlebih, gen Z cenderung lebih melek terhadap teknologi dan seharusnya lebih sadar akan pentingnya investasi sejak dini.

"Misalnya saja, aplikasi investasi seperti Bibit dan Ajaib memudahkan untuk mulai berinvestasi dengan modal kecil serta membantu mendapatkan edukasi keuangan yang relevan," imbuh dia.

Namun, pengetahuan dan kemampuan menggunakan teknologi juga harus dibarengi dengan locus of control dan behavioral finance yang baik.

Sederhananya, locus of control berarti Gen Z memiliki kendali atas keputusan finansial dan tidak mudah terpengaruh oleh faktor eksternal. Seperti tekanan gaya hidup dan adanya kemudahan dari aplikasi Pay Later.

"Sementara itu, pemahaman tentang behavioral finance juga dapat membantu mereka mengenali dan menghindari kesalahan dalam pengambilan keputusan keuangan. Seperti kecenderungan untuk berbelanja impulsif atau mengambil risiko yang tidak perlu," tegasnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com