Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nikita, Sempat Alami Diskriminasi karena Disabilitas, Kini Lulus dari UGM

Kompas.com - 29/05/2024, 17:50 WIB
Sandra Desi Caesaria,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Senyum Nikita Nur Hijriyati begitu indah saat ia diwisuda di Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu. Nikita adalah penyandang disabilitas Hard of Hearing dan minor cerebral palsy yang gigih belajar untuk menyelesaikan kuliah.

Ia diwisuda bersama 1.422 wisudawan wisudawati lainnya pada Upacara Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024 di Grha Sabha Pramana, Bulaksumur.

“Saya bersyukur bisa lulus dan diwisuda dari Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan. Alhamdulillah,” katanya, dilansir dari laman UGM.

Baca juga: Cerita Alfredo, Lulus S1 UGM Hanya dalam Waktu 3 Tahun 2 Bulan

Sebagai penyandang hard of hearing (HoH) atau kurang dengar dan juga minor cerebral palsy, ia mengaku mengandalkan lip reading atau membaca gerak bibir dalam perkuliahan. Visual dan auditori menjadi tipe gaya belajarnya selama 6 tahun 8 bulan kuliah.

Pernah alami diskriminasi

Nikita terlahir sudah menyandang minor cerebral palsy, dan saat duduk di bangku SD pendengarannya mulai mengalami gangguan karena sakit. Bahkan, sewaktu kecil ia hampir tidak bisa berjalan dan baru bisa berjalan secara normal pada umur dua tahun.

Meski tinggal di desa Nginggil, Bendo, Sukodono, Sragen, Nikita menempuh pendidikan di kota.

Ia melanjutkan pendidikan di SMP IT Az-Zahra Sragen, dan SMA Negeri 1 Sragen. Nikita mengaku selalu disekolahkan orangtuanya di sekolah umum dan tidak pernah di sekolah luar biasa.

“Kendalanya saya didiskriminasi, dan sama teman pernah diejek juga. Karena tidak bisa berolahraga, saya selalu ada tugas tambahan untuk pelajaran olahraga. Untuk teori itu saya bisa, dan sempat masuk SMA favorit yaitu SMA 1 Sragen selama setahun. Tetapi kemudian pindah karena tidak betah dengan perlakuan teman dan guru,” kenangnya bersedih.

Baca juga: Kisah Kenanga, Lulus Cumlaude Tercepat Tanpa Skripsi dan KKN di UNY

Saat duduk di bangku kelas XI SMA ia pernah dikeluarkan dari kelas ekonomi pada saat ulangan harian. Hal ini dikarenakan guru pengampu tidak tahu jika dirinya tidak bisa mendengar dan tidak bisa menulis cepat.

Peristiwa ini begitu melukainya dan membuatnya sempat membenci pelajaran ekonomi.

Di sisi lain, ia menyukai pelajaran geografi yang pada akhirnya menuntunnya memilih Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM.

“Sempat saya benci mata pelajaran ekonomi. Namun, seiring setelah kuliah, saya menjadi suka ekonomi. Terima kasih untuk Kak Jesita Mapres FEB angkatan 2016 telah membuat saya sadar bahwa ilmu ekonomi ini amat luar biasa,” ungkapnya.

Menjalani kuliah dan dapat beasiswa

Meski ia harus berusaha lebih keras daripada mahasiswa lainnya, ia bersyukur karena selama perkuliahan para dosen memperlakukannya dengan baik.

Para dosen memberi jalan untuk memudahkan mengikuti perkuliahan, terutama terkait dengan listening dalam praktikum bahasa inggris dan tugas-tugas presentasi.

“Para dosen baik, dan memaklumi tulisan tangan saya buruk karena tidak bisa menulis rapi,” akunya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com