Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ulwan Fakhri
Peneliti

Peneliti humor di Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3)

Ujian yang Meringankan Mahasiswa Kita

Kompas.com - 29/05/2024, 16:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LAMA-lama, perguruan tinggi di Indonesia hanya akan jadi tempat berkumpulnya generasi muda yang tertekan.

Tahun lalu saja, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia mengungkap bahwa 60 persen mahasiswa barunya mengalami masalah kesehatan mental, padahal perkuliahan belum dimulai (11/11/23).

Terkini, dengan isu macam meroketnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) – walau per Senin (27/5/24), dikabarkan pemerintah akan menundanya tahun depan – serta sempitnya lapangan pekerjaan yang menghantui gen Z, mahasiswa baru dengan beban mental dan kecemasan berlebihan bakal makin banyak masuk kelas.

Ibaratnya, calon mahasiswa baru di Indonesia sudah punya 99 “ujian” sebelum mengerjakan satu ujian pun di tengah proses studi tertiary-nya.

Semoga saja Tuhan terus melindungi adik-adik mahasiswa/i kita, agar selalu diberikan kekuatan dan tidak sampai mengambil langkah-langkah yang akan kita semua sayangkan.

Jika kebetulan Anda adalah seorang pendidik atau pemangku kebijakan di perguruan tinggi yang terketuk nuraninya untuk membantu meringankan beban mental para mahasiswa baru, ada satu upaya yang masih bisa dilakukan dalam kuasa Anda. Cobalah meringankan ujian mereka.

Ujian yang dimaksud di sini bukan yang konotatif lagi, melainkan secara literal. Lebih tepatnya, mengemas pengalaman ujian lebih ringan lewat strategi humor, tanpa mengurangi standar atau kualitas materi ujian itu sendiri.

Begini. Dari dulu hingga kini, ujaran “Hari ini kita kuis, ya!” dari para dosen tidak pernah gagal membuat mahasiswanya “jantungan”.

Oke, sejumlah generasi Z mungkin sudah tidak lagi merasa “jantungan”, melainkan “shock sedikit, sisanya shik shak shok” – alias beda istilahnya saja.

Bagi mahasiswa, yang namanya kuis, tes, atau ujian memang rentan memicu kecemasan, apalagi ketika diadakan seperti menggoreng tahu bulat: secara dadakan.

Namun di sisi lain, tidak mungkin juga untuk benar-benar menghilangkannya. Sebab, instrumen tersebut memang berguna untuk mengukur tingkat pemahaman akan suatu topik sampai mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif para mahasiswa.

Maka, solusi sederhananya saat ini adalah meminimalkan kecemasan yang timbul dari kuis, tes, atau ujian tadi.

Bagaimana caranya? Untuk menjawab ini, penulis menawarkan inovasi dari akademisi dan ahli pendidikan, Prof. Ronald A. Berg.

Dalam bukunya, "Humor as an Instructional Defibrillator" (2002, h.227-245), Berg merekomendasikan teknik Injecting Jest into Test, yakni strategi menyisipkan humor dalam tahap asesmen.

Strategi ini memberikan inspirasi dan motivasi bagi para pendidik untuk mengemas humor di tiga tahapan: sebelum ujian dimulai, di dalam materi ujian, dan pascaujian.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com