Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Areta, Lulus S1 Kedokteran UGM di Usia 20 Tahun

Kompas.com - 29/05/2024, 15:57 WIB
Sandra Desi Caesaria,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Areta Adzroo Imtitaznabilla, terlihat bahagia saat mengikuti prosesi wisuda Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu.

Areta, menjadi lulusan termuda Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode III Tahun Akademik 2023/2024 pada Rabu (22/5/2024).

Ia lulus dari Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM (FK-KMK) di usia 20 tahun 1 bulan dan 13 hari.

Sedangkan rata-rata usia lulusan Program Sarjana adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.

Baca juga: Kisah Ichsan, Lulus S3 Dapat Gelar Summa Cumlaude UNY di Usia 26 Tahun

Bisa menyandang gelar sarjana di usia 20 tahun, tentu tidak semua orang bisa melakukannya.

Areta mengatakan sejak di bangku SMP dan SMA dirinya mengikuti kelas akselerasi sehingga membuatnya lulus lebih cepat dibanding teman-teman sekelasnya.

"Saya ikut kelas akselerasi," kata Areta, dilansir dari laman UGM.

Tidak hanya lulus lebih awal dengan usia yang lebih muda, Areta juga termasuk berprestasi di bidang akademik sehingga ia bisa kuliah di Prodi Kedokteran.

Ketertarikannya pada dunia kedokteran terinspirasi dari ibunda tercinta yang bekerja sebagai tenaga kesehatan perawat di RSUD Sidoarjo.

Role model dari sang ibunda membuatnya bercita-cita menjadi dokter sejak kecil, dan memutuskan untuk memilih FK-KMK UGM.

Baca juga: Cerita Alfredo, Lulus S1 UGM Hanya dalam Waktu 3 Tahun 2 Bulan

Di awal kuliah, Areta mengaku harus beradaptasi karena merasakan kompetisi dengan teman seangkatannya. Selain selalu rajin kuliah, namun ia tetap menyisihkan waktu untuk aktif di kegiatan organisasi dan kepanitiaan di kampus.

"Pada tahun pertama kuliah, saya mengikuti organisasi CIMSA (Center for Indonesian Medical Students Activities). Berlanjut di tahun kedua ia banyak bergabung di TBMM (Tim Bantuan Medis Mahasiswa), serta organisasi mahasiswa tingkat fakultas," terangnya.

Meski sibuk berorganisasi, Areta mengaku hal itu tidak mengganggu kuliahnya yang disibukkan dengan kegiatan kuliah, ujian dan praktikum.

"Kuncinya konsisten dan harus tanggung jawab sama apa yang sudah dipilih. Saya dulu awal memasuki kedokteran juga sempat merasa stres karena materi, ujian, dan praktikum yang banyak. Namun, capek bukan berarti kita harus menyerah kan,” imbuhnya.

Soal tugas akhir yang disusunnya, Areta menyusun skripsinya berjudul “Pengaruh Vitamin D Terhadap Ekspresi mRNA p16 dan SOD-1 Pada Hippocampus Tikus Model Diabetes Mellitus” di bawah beberapa dosen pembimbing dan penguji, antara lain Prof. Dr. dr. Dwi Cahyani Ratna Sari, dr. Ratih Yuniartha, Ph.D, dan dr. Nur Arfian, Ph.D.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com