Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Anggun Gunawan
Dosen

Anggun Gunawan merupakan dosen tetap di Program Studi Penerbitan, Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta dan dosen part-time di Sekolah Vokasi Universitas Indonesia Depok. Ia menyelesaikan S2 bidang Publishing Media dari Oxford Brookes University UK tahun 2020 dan S1 bidang Ilmu Filsafat dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pada tahun 2014, ia berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk belajar "Translation Copyright Transanction" di Jakarta dan Frankfurt Jerman dari Goethe Institut Indonesia.

Perkawinan Perpustakaan dan Penerbitan: Tren Baru Institusi Literasi di Indonesia

Kompas.com - 03/05/2024, 13:16 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BELAKANGAN ini terjadi fenomena menarik di Indonesia di mana perpustakaan melakukan perluasan kerja dari sekadar menyediakan bacaan buat publik (center for providing literature) menjadi institusi yang juga melakukan proses produksi bahan bacaan (creating and producing books).

Lembaga yang memulai gerakan ini secara sistematis di Indonesia adalah Perpustakaan Nasional dengan kehadiran Perpusnas Press. Sejak beroperasi 2019, Perpusnas Press telah menerbitkan 636 judul buku.

Awalnya, Perpusnas Press didedikasikan sebagai penerbit plat merah yang menampung naskah-naskah seputar ilmu perpustakaan dan kepustakawanan.

Namun belakangan, mereka lebih banyak menerbitkan buku-buku fiksi yang ditulis oleh para penulis di daerah lewat program workshop penulisan yang dilakukan oleh Perpusnas.

Di level perguruan tinggi, beberapa kampus telah memperluas fungsi unit perpustakaan dengan memasukkan penerbitan sebagai tugas baru.

Beberapa kampus yang telah menerapkan konsep ini, misalnya, UPT Perpustakaan dan Penerbitan Universitas Muhammadiyah Gresik dan UPT Perpustakaan, Penerbitan dan Percetakan Universitas Negeri Padang.

Kalau kita rujuk kepada fungsi utama perpustakaan yang disebutkan oleh UNESCO ataupun keilmuan perpustakaan, maka enam pilar yang seharusnya dipenuhi, yakni:

  1. Memprevervasi dan penyediaan akses terhadap pengetahuan agar dapat dinikmati oleh generasi kini dan akan datang;
  2. Mempromosikan literasi dan mendukung materi pembelajaran untuk semua level pendidikan;
  3. Memfasilitasi kegiatan riset dan menjadi pusat akademik dan intelektual untuk kolaborasi dan inovasi;
  4. Menjadi ruang publik dan interaksi masyarakat dalam mewujudkan lifelong learning society;
  5. Mempromosikan dan meningkatkan skill literasi bagi masyarakat sekaligus penyediaan sumber-sumber digital;
  6. Pengayaan dan perlindungan peninggalan budaya.

Di sisi berbeda, penerbit mengemban tugas sebagai entitas yang memproduksi, mendistribusikan, dan menjual buku kepada masyarakat.

Mereka bekerja dengan para penulis untuk mengantarkan naskah bisa hadir ke tengah-tengah publik setelah melewati proses editorial, design dan penyetakan.

Penerbit melakukan investasi untuk memproduksi buku termasuk di dalamnya biaya promosi dengan mengambil risiko finansial yang tidak sedikit dan mengikatkan harapan buku-buku yang mereka produksi mendapatkan kesuksesan komersial.

Tidak semua naskah yang masuk dari penulis akan diterbitkan oleh penerbit karena mereka juga menerapkan prinsip-prinsip penjagaan kualitas dan keberagaman bacaan untuk masyarakat.

Dari ulasan di atas terlihat secara gamblang perbedaan signifikan antara perpustakaan dan penerbit. Jika perpustakaan lebih kepada penyediaan sumber bacaan dan literasi, maka penerbit berfokus kepada profit atas penjualan buku-buku yang telah mereka produksi.

Perpustakaan sebenarnya tidak memiliki skill teknis dalam penciptaan konten atau lebih bermain pada area memperbanyak resources bacaan dari berbagai sumber, baik dalam bentuk tercetak maupun digital.

Sementara penerbit memang sudah menjalankan proses kreatif yang sangat erat dengan penulis untuk menghasilkan karya orisinil yang nantinya bisa dinikmati oleh publik.

Meskipun perpustakaan mempunyai data kuantitatif buku-buku apa saja yang sering dipinjam atau dibaca oleh pengunjung pada periode tertentu, sebenarnya itu baru data inspiratif untuk mengetahui tren genre yang diminati oleh pembaca.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com