Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Kemendikbud Terapkan Kurikulum Merdeka secara Nasional pada 2024

Kompas.com - 28/02/2024, 19:43 WIB
Dian Ihsan

Penulis

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mengaku akan menerapkan Kurikulum Merdeka secara nasional pada 2024.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbud Ristek, Anindito Aditomo menyatakan, alasan penetapan Kurikulum Merdeka secara nasional pada 2024 karena telah melalui proses yang panjang.

Baca juga: Apa Itu Kurikulum Merdeka yang Jadi Kurikulum Nasional 2024?

Mulai dari penyusunan, penerapan, dan kajian untuk mengevaluasi kurikulum ini telah dilakukan sejak 2020.

"Jadi sudah panjang dilakukannya secara bertahap. Tahun ini juga merupakan yang tepat menerapkan Kurikulum Merdeka," kata Anindito kepada Kompas.com, Rabu (28/2/2024).

Hingga saat ini, sebut dia, Kurikulum Merdeka sudah diterapkan secara sukarela oleh sekitar 300 ribu atau 80 persen satuan pendidikan formal yang ada di Indonesia.

"Penetapan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional pada tahun 2024 penting dilakukan untuk memberi kepastian arah kebijakan kurikulum," jelas dia.

Setelah 2024, satuan pendidikan masih diberi waktu 2-3 tahun untuk menyiapkan diri sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka.

Baca juga: 2 Mahasiswa UB Meninggal Dunia, Orangtua dan Sahabat Wakili Wisuda

Nino, biasa dia disapa, menjelaskan, implementasi Kurikulum Merdeka bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid.

Hal ini dicapai dengan berfokus pada materi esensial, agar guru punya waktu memadai untuk melakukan pembelajaran yang mendalam dan bermakna, memberi waktu khusus bagi pengembangan karakter, dan memberi fleksibilitas bagi guru dalam menerjemahkan kurikulum sesuai konteks dan kebutuhan muridnya.

Baca juga: Kurikulum Merdeka Dinilai Belum Layak Jadi Kurikulum Nasional

"Hasil Asesmen Nasional menunjukkan satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka mengalami perbaikan literasi dan numerasi yang lebih pesat dibanding satuan pendidikan yang belum menerapkannya," tutur Nino.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com