Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Inja, Tolak Gaji Fantastis di AS demi Majukan Pendidikan NTT

Kompas.com - 21/01/2024, 11:15 WIB
Mahar Prastiwi,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com"Jika negara mempercayakanmu dengan harapan-harapan baik itu, kembalilah. Setidaknya itu janjimu yang kamu patrikan sebagai pejuang beasiswa. Jangan patah semangat dalam juangmu, karena kamu pasti bisa. Kerjakan sekuat doa-doamu dan kamu pasti bisa untuk keluargamu, nusamu dan bangsamu Indonesia."

Itulah pesan yang diucap Maria Regina Jaga, salah satu alumnus beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kepada sesama awardee LPDP.

Menurutnya, para penerima beasiswa LPDP adalah calon penerima amanah, kepercayaan, harapan, dan doa terbaik Indonesia untuk perubahan.

Baca juga: Ratusan Awardee LPDP Tidak Kembali, Staf Khusus Presiden: Kacang Lupa Kulitnya

Itulah yang menjadi alasan mengapa perempuan yang akrab disapa Inja ini menolak dengan tegas tawaran pekerjaan bergaji fantastis di Amerika Serikat dan memilih pulang ke tanah kelahirannya di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memajukan pendidikan.

Keputusan Inja ini diharapkan bisa menginspirasi mahasiswa yang saat ini mendaftar LPDP 2024. Sehingga, tidak ada lagi kejadian-kejadian awardee LPDP yang enggan untuk kembali ke Indonesia.

Tertarik dalami Pendidikan Anak Usia Dini

Sebelum berangkat S2 ke Amerika Serikat, Inja mengenyam pendidikan S1 dengan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Kemudian pada tahun 2017, dia berhasil menjadi awardee LPDP program Afirmasi Indonesia Timur. Berkat beasiswa LPDP, Inja bisa menempuh S2 di Auburn University, Amerika Serikat, dengan spesifikasi pada Early Childhood Education.

Baca juga: Jokowi: Penerima Beasiswa LPDP Naik 7 Kali Lipat sejak Pertama Dibuka

Kepada Kompas.com, Inja menceritakan mengapa dia tertarik mendalami bidang pendidikan anak usia dini.

Inja tertarik menekuni pendidikan Anak Usia Dini karena kala itu belum banyak orang yang meyakini pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini.

Pendidikan Anak Usia Dini dipandang bukan bagian dari proses pendidikan yang mempersiapkan anak-anak menuju pendidikan dasar dan level lebih tinggi.

"PAUD masih dianggap sebagai tempat dimana anak-anak "hanya" bermain. Jadi dapat dianggap bukan belajar," terang Inja kepada Kompas.com, Sabtu (20/1/2024).

Padahal menurut Inja, proses belajar sesungguhnya dari anak-anak adalah memahami dunia lewat permainan, pembelajaran lewat bermain. Pendidikan Anak Usia Dini yang sesungguhnya adalah para guru punya peran mempersiapkan anak-anak di level "golden age".

Guru PAUD punya peran membekali anak-anak dengan kecakapan hidup, emosi dan sosial yang sebaik-baiknya. Agar kedepannya mereka juga mampu beradaptasi dengan kecakapan kognisi.

"Ini potensi yang saya lihat, yang saya rasa juga sangat penting untuk dipelajari oleh generasi Emas Indonesia," jelas Inja.

Baca juga: Telkom University Surabaya Buka Beasiswa UTG1, Bisa Kuliah Gratis

Lulus S2 IPK sempurna, dapat tawaran pekerjaan di Amerika

Inja berhasil menyelesaikan studi S2 dengan IPK sempurna. Bahkan Inja mendapatkan tawaran pekerjaan di Amerika Serikat dengan gaji yang cukup fantastis. Namun Inja teringat janjinya kepada LPDP bahwa ia hanya akan berguna di tempat dia berasal.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com