Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Pendidikan Seks: Mencegah Anak dari Kejahatan Seksual

Kompas.com - 04/01/2024, 13:36 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Heryanti Satyadi dan Desty Dwi Kayanti*

KEKERASAN seksual merupakan fenomena yang banyak terjadi di Indonesia. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, selama 1 Januari-26 Desember 2023 ada sekitar 12.314 korban kekerasan seksual.

Permasalahan seksualitas tidak hanya kekerasan seksual. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat usia remaja di Indonesia banyak yang sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah.

Pada rentang usia 14-15 tahun tercatat sebanyak 20 persen pernah melakukan hubungan seksual, 16-17 tahun sebesar 60 persen, dan 19-20 tahun sebesar 20 persen berdasarkan data Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) pada 2017.

Berdasarkan fakta tersebut terlihat bahwa permasalahan seksualitas pada anak dan remaja penting menjadi perhatian karena dapat menimpulkan dampak pada individu.

Novrianzah et al (2022) menjelaskan, dampak dari kekerasan atau pelecahan seksual dapat menyebabkan anak menjadi menderita, emosi, depresi, kehilangan nafsu makan, anak menjadi orang yang introvert, susah tidur, tidak fokus pada saat di sekolah, nilai menurun dan bahkan tidak naik kelas.

Melihat banyaknya dampak tersebut, perlu penanganan preventif agar tidak mengalami kejadian kekerasan seksual, yaitu dengan pendidikan seksualitas sejak dini.

Pendidikan seksualitas bukan tentang seks saja, tetapi juga bagaimana seorang anak dapat menjaga anggota tubuhnya dari bahaya perilaku seksual di sekitarnya.

Anak merupakan makhluk sosial yang diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. Dalam proses berkembangnya, anak-anak perlu diajarkan mengenal tubuhnya, organ seks, dan organ reproduksinya.

Anak-anak masih dalam proses belajar dan tidak dapat mengetahui dengan sendirinya bagaimana menjadi makhluk seksual yang menghargai dan menerima tubuhnya. Oleh sebab itu, perlu pendampingan orangtua, yaitu dengan pendidikan seksualitas.

Pendidikan seksualitas bukan hanya tentang hubungan seks antara laki-laki dan perempuan. Pendidikan seksualitas merupakan usaha orangtua dalam mengedukasi anak dengan memberikan informasi mengenai persoalan seksualitas manusia dengan jelas dan benar.

Bagaimana cara menerapkan pendidikan seksualitas?

Orangtua dapat melakukan beberapa usaha agar anak mengerti mengenai seksualitas pada dirinya, yaitu:

Pertama, orangtua dapat menanamkan pikiran, perasaan, melatih perilaku, dan penampilan sesuai jender dan seksualitas anak. Peran jender (jender maskulin-feminim) dan fungsinya sebagai laki-laki dan perempuan perlu diajarkan dengan keteladanan orangtua.

Kedua, orangtua dapat mengajak diskusi anak dengan memperkenalkan bagian-bagian organ tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh oleh siapapun kecuali orangtua, dokter, dan guru.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com