Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/11/2022, 20:00 WIB

KOMPAS.com - Keluarga semestinya menjadi rumah bagi anak untuk kembali. Dari keluarga pula, karakter anak bertumbuh melalui aktivitas serta obrolan yang dibangun bersama.

Namun, bagaimana jika anak sejak dini dihadapkan pada kejadian Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan bahkan menjadi saksi kejadian yang berlangsung di dalam keluarga?

Psikolog Klinis Anak dan Konselor Sekolah Cikal, Winny Suryania menjelaskan bahwa apabila anak menjadi saksi dari kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di rumah, maka hal ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi tumbuh kembangnya secara fisik dan perkembangan emosinya secara jangka panjang.

KDRT sendiri tidak hanya berupa kekerasan secara fisik, namun juga berupa ancaman maupun penelantaran yang berakibat kepada kesengsaraan, ataupun penderitaan dalam aspek fisik, seksual, dan psikologis dalam keluarga.

Baca juga: 6 Tanda Anak Cerdas Secara Emosional dan Cara Mengoptimalkannya

Ia menyebut, secara umum terdapat tiga dampak besar yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anak, antara lain sebagai berikut:

1. Merasa tidak aman dan sulit percaya orang lain

Sebagai Psikolog yang seringkali menangani kasus KDRT yang melibatkan anak sebagai saksi, Winny menyebutkan bahwa secara esensial rumah dan keluarga adalah tempat yang seharusnya paling aman untuk anak dalam berkembang, belajar mengidentifikasi dan membentuk rasa aman dalam dirinya.

“Rumah dan keluarga diharapkan menjadi tempat paling aman untuk anak dalam berkembang, sekaligus tempat mereka belajar mengidentifikasi dan membentuk konsep rasa aman dan nyaman untuk dirinya sendiri. Saat anak menyaksikan secara langsung kejadian KDRT di rumah, tentunya hal ini dapat memberi dampak untuk tumbuh kembangnya baik secara fisik maupun perkembangan emosi anak tersebut,” ucapnya dilansir dari keterangan tertulis Sekolah Cikal.

Baca juga: Tanpa Hukuman, Ini Cara Guru Iwan Ajarkan Disiplin pada Murid

Namun, dengan adanya KDRT yang disaksikan secara langsung, tentu menghilangkan perasaan aman yang seharusnya timbul dan juga menghilangkan kepercayaan bagi anak untuk berkembang dengan pendampingan keluarga.

“Dengan menyaksikan KDRT, anak dapat merasa terancam, takut, cemas dan masalah rasa percaya. Hal ini timbul karena anak merasa tidak aman pada lingkungan terdekatnya dan akhirnya anak dapat membentuk persepsi bahwa lingkungan sekelilingnya pun menjadi tidak aman bagi dirinya. Anak sulit membentuk rasa percaya pada orang lain dan pada akhirnya menciptakan interaksi yang negatif," jelasnya.

2. Anak berpotensi melakukan kekerasan

Selain memunculkan perasaan tidak aman dan hilangnya rasa percaya terhadap orang lain secara jangka panjang, dampak kedua yang timbul pada anak yang menjadi saksi KDRT adalah timbulnya perilaku agresif pada anak.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+