Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Webinar CCC ITB: Uni Eropa Akan Tekan Produk Deforestasi, Indonesia Perlu Siapkan "Green Trade"

Kompas.com - 18/11/2022, 17:23 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Climate Change Center Institut Teknologi Bandung (CCC ITB) bekerja sama dengan Climate and Company (C&C) Berlin-German dan Germanwatch menggelar webinar "The Impact of EU Supply Chain and Deforestation Law" yang diadakan pada Kamis, 17 November 2022.

Dalam webinar ini mengemuka isu penting di mana Uni Eropa tengah menggodok regulasi produk bebas deforestasi, guna menekan perdagangan produk yang terindikasi menyebabkan penggundulan hutan.

Regulasi ditujukan untuk menekan angka konsumsi lahan dan hutan ini, tentunya akan berdampak besar bagi Indonesia sebagai negara penyuplai komoditas yang termasuk dalam produk penyebab deforestasi, seperti kelapa sawit, cokelat, karet, kopi, kedelai dan kayu.

Melalui aturan ini, nantinya perusahaan dan produsen enam komoditas tersebut harus memenuhi persyarakat administratif maupun regulatif untuk menjamin bahwa produk yang dijual telah bebas deforestasi, diproduksi sesuai peraturan perundang-undangan, dan mampu melampirkan penyataan lolos uji tuntas.

Persyaratan ini, secara langsung akan berimbas pada produsen dan penyuplai di Indonesia, baik perusahaan besar maupun petani kecil.

Meski masih dalam proses legalisasi, namun langkah adaptif dan persiapan dirasa perlu dilakukan, khususnya di Indonesia sebagai salah satu negara yang terdampak.

Jika merujuk pada timeline pengaplikasian regulasi dan arahan uji tuntas keberlanjutan perusahaan (Corporate Sustainability Due Diligence Directive), regulasi nasional diperkirakan akan terwujud pada 2026 hingga 2028 mendatang.

“Karena ini peraturan direktif dan harus dapat diinterpretasikan ke negara-negara terkait, termasuk Indonesia, maka memerlukan waktu dan sosialisasi yang tidak instan,” kata Analis Kebijakan Uni Eropa Louise Simon.

Baca juga: Kampus Hijau dan Tanggung Jawab Perguruan Tinggi bagi Keberlanjutan Bumi

Jika merujuk pada posisi Indonesia, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan The Center for International Forestry Research (CIFOR) and World Agroforestry (ICRAF), ditemukan bahwa Indonesia merupakan produsen, eksportir, dan konsumen minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Dari sisi ekspor, 56,1 persen dari total eksporir kelapa sawit berasal dari Indonesia, begitu juga posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit yang mencapai 59,5 persen.

“Di 2021, sebagaian besar produksi kelapa sawit ditujukan untuk ekspor, termasuk ke Uni Eropa. Uni Eropa adalah salah satu green buyer Indonesia dan hampir 90 persen sudah terindikasi berkelanjutan,” kata Peneliti CIFOR Sonya Dyah.

Sonya juga menambahkan pentingnya perdagangan hijau (green trade) dalam meningkatkan keberlanjutan kelapa sawit Indonesia. Menurutnya, Green Trade ini dapat membantu mengurangi deforestasi di Indonesia yang saat ini semakin mengklawatirkan.

“Di sisi lain, palm oil yang diperdagangkan hampir seluruhnya berasal dari petani kecil dan kemungkinan mereka akan mendapatkan berbagai tantangan dalam menerapkan kebijakan ini nantinya,” sambungnya.

Ketua Auriga Nusantara Timer Manurung mengatakan, meskipun Indonesia memiliki peran penting dalam sektor palm oil trade, namun sejatinya Indonesia memiliki beberapa sektor lain yang termasuk dalam deforestasi, termasuk penambangan nikel.

Meski begitu, sektor pertanian masih menjadi penyumbang deforestasi terbesar yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com