Kompas.com - 29/09/2022, 11:48 WIB
|

KOMPAS.com - Indonesia adalah negara yang berada di kawasan bencana, khususnya gempa bumi. Saat terjadi gempa, tak sedikit bangunan rusak hingga menimbulkan korban jiwa.

Karena itu, para peneliti dari dunia kampus harus bisa membuat inovasi teknik rekayasa gempa. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, Basuki Hadimuljono saat menyampaikan pidato daring di Fakultas Teknik UGM.

Pada kesempatan itu, Basuki mendorong peneliti di kampus untuk menghasilkan banyak inovasi teknologi teknik rekayasa gempa untuk mendukung konstruksi pembangunan rumah, bangunan dan infrastruktur tahan gempa.

Baca juga: Mahasiswa SV UGM Inovasi Dluwang Endah

Ia menyebut, ada beberapa kejadian bencana gempa bumi yang telah terjadi. Seperti gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempa bumi di Aceh (2016), Gempa Lombok NTB (2018), gempa Palu (2018) dan Gempa Mamuju (2021).

"Negara ini rentan terkena bencana gempa bumi. Pemerintah menyiasatinya dengan menyiapkan desain bangunan dan infrastruktur yang tahan gempa dengan ukuran sesuai dengan konsep mitigasi bencana," ujarnya dikutip dari laman UGM, Rabu (28/9/2022).

Guna mengantisipasi risiko kerusakan akibat gempa, pihaknya terus melakukan mitigasi pada proyek pembangunan perumahan dan proyek pembangunan infrastruktur dengan konsep desain tahan terhadap goncangan gempa bumi.

Bahkan, berbagai proyek bendungan dan jembatan juga menggunakan konstruksi tahan gempa.

"Dari desain bangunan jembatan, DAM hingga konstruksi infrastruktur lepas pantai. Kita selalu melakukan evaluasi kinerja seismik dan menerapkan rehabilitasi struktur bangunan dengan desain tahan gempa," terangnya.

Basuki juga menyatakan bahwa seiring bermunculan bangunan bertingkat kini diharuskan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa.

Termasuk pembangunan asrama mahasiswa hingga pembangunan Rumah Instan Sederhana dan Sehat (RISHA) sebagai perwujudan sebuah rumah dengan desain modular, dimana dapat diubah-ubah atau dikembangkan sesuai dengan keinginan penghuninya.

Rumah sederhana tersebut mampu dibangun dengan cepat dan memiliki kemampuan tahan gempa.

Baca juga: Mahasiswa UGM Inovasi Tongkat Pintar bagi Tunanetra dan Lansia

Karenanya, ia menilai desain bangunan dan infrastruktur tahan gempa selalu mengalami perkembangan sehingga perlu sinergi antara pemerintah dengan para peneliti di kampus.

"Saya melihat perlu ada harmoni dan sinergi antara riset teknik rekayasa gempa, pihak industri dan pemerintah untuk mendukung kegiatan mitigasi kegempaan baik di Indonesia dan di negara lainnya," jelasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber UGM


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.