Abdul Halim Fathani
Dosen

Pemerhati Pendidikan. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (UNISMA).

Menghargai Kecerdasan Anak

Kompas.com - 31/05/2022, 10:43 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KECERDASAN merupakan salah satu anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus-menerus mempertahankan, memberdayakan, dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berpikir dan belajar secara dinamis dan berkelanjutan.

Selama ini, kebanyakan masyarakat terutama orangtua/guru menilai anak/siswa yang cerdas adalah anak yang pintar di bidang hitung-hitungan (matematika-logis) dan baca-tulis (linguistik) saja.

Jika sang anak mendapat nilai 100 pada mata pelajaran matematika/bahasa, maka orangtua pasti senang karena anaknya “dianggap sudah pintar”.

Namun kasus lain, jika anaknya memiliki nilai matematika di bawah rata-rata, sedangkan anaknya ahli –bahkan sering juara- di bidang olahraga/musik, maka tidak jarang dijumpai sikap orangtua/guru pasti “tenang-tenang” saja (baca: cuek).

Hal ini disebabkan, dalam paradigma mereka, anak yang sering juara olahraga/musik, tetapi lemah di bidang matematika/bahasa tersebut tidak bisa dibanggakan dalam masa depannya.

Padahal sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan adalah cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi individu yang cerdas dalam bidangnya.

Howard Gardner dalam bukunya yang berjudul Multiple Intelligences, menyatakan terdapat sembilan kecerdasan pada manusia, yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual/ruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.

Tugas orangtua dan pendidiklah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Sejauh ini, terkait penerapan konsep multiple intelligence dalam sistem pendidikan juga terkesan ala kadarnya.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.