Kompas.com - 20/05/2022, 19:36 WIB

KOMPAS.com - Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Kantor Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama menggelar workshop "Membangun Universitas Bertaraf Internasional yang Berwawasan Kebangsaan".

Acara dilaksanakan secara hibrid, baik melalui luring terbatas di Aula Pertemuan Gedung Syafei Kampus A UNJ, dan daring melalui Zoom pada Jumat, 20 Mei 2022.

Totok Bintoro, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama menyampaikan, penyelenggaraan workshop merupakan bagian dari visi UNJ menuju universitas bertaraf internasional atau world class university (WCU).

Totok mengungkapkan, untuk menjadi universitas bertaraf internasional UNJ harus tetap berwawasan kebangsaan, terbuka secara global namun di sisi lain tetap memiliki jati diri sebagai universitas yang akan menyiapkan SDM untuk keunggulan Indonesia.

“Untuk bisa berkontribusi menyiapkan generasi masa depan yang cinta tanah air, patriotisme yang tinggi, maka cara berpikir dan kerja intelijen ini nampaknya perlu dipahami oleh seluruh sivitas akademika UNJ,” tegas Totok Bintoro.

Prof. Suyono, Wakil Rektor Bidang Akademik dalam paparannya mengatakan faktor penunjang tercapainya world class university (WCU) adalah sumber daya manusia yang mumpuni, baik dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa.

"Sumber daya untuk mendukung lingkungan belajar dan penelitian yang berkualitas, dan tata Kelola yang baik untuk mendukung pencapaian visi, inovasi, dan fleksibilitas intitusi dalam mengelola sumber daya dan anggaran tanpa terbelenggu birokrasi," jelas Prof. Suyono.

Strategi UNJ, lanjut Prof. Suyono, menuju WCU diantaranya, yaitu meningkatkan kualitas kepemimpinan, pengembangan visi strategis, penyusunan rencana dan kegiatan yang tepat untuk mencapai tujuan yang diusulkan, dan internasionalisasi universitas.

Narasumber lain, Sundawan Salya membawakan materi berjudul “Membangun Wawasan Kebangsaan di Universitas dan Tantangannya di Era Global”.

Mengutip Heraclitus, Sundawan Salya mengingatkan perubahan terus terjadi di dunia. "Melihat sejarah UNJ yang berubah dari IKIP ke UNJ tetapi tetap karakternya ingin keguruan, artinya UNJ ingin berubah namun tetap dengan karakternya," ungkap Sundawan.

Baca juga: Pakar UPH: Peristiwa 1998 Tidak Surutkan Semangat Kebangsaan Etnik Tionghoa

"Perubahan adalah mewujudkan kolaborasi. Silakan UNJ berubah tapi aspek kesatuan persatuan harus dipertahankan. Ada karakter yang dimiliki. Dalam sebuah perubahan kita tidak bisa jalan sendiri, harus bersama-sama dengan berjalan dengan entitas lain," ujarnya.

“Saya yakin UNJ dan sivitas akademika UNJ bisa menjadi yang terdepan yang tidak hanya mengejar angka ranking, tapi bagaimana mengejar posisi eksitensi UNJ, baik di dalam negeri maupun internasional” tutup Sundawan Salya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.