Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/04/2022, 12:23 WIB
Dian Ihsan

Penulis

KOMPAS.com - Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Betty Roosihemiatie memberikan paparan tentang pentingnya kesehatan dan kepemimpinan dalam tema yang bertajuk "Desentralisasi Kesehatan dan Kepemimpinan Transformatif".

Menurut dia, desentralisasi berasal dari bahasa latin, yakni De yang berarti lepas dan Centrum yang artinya pusat.

Baca juga: Ini 4 Tips Puasa Ramadhan bagi Penderita Mag dari Dokter RSA UGM

"Yang mana secara pengertian adalah penyerahan wewenang politik dan administrasi dari puncak hirarki organisasi (pusat) kepada jenjang organisasi di bawahnya (daerah)," ungkap Betty melansir laman Unair, Kamis (21/4/2022).

Dia menyebut, tujuan desentralisasi adalah mewujudkan demokrasi pemerintah daerah, merealisasikan potensi dan kesetaraan daerah, serta memaksimalkan kondisi sosial ekonomi daerah.

Di dalam perundang-undangan, perihal Desentralisasi juga dimasukkan dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Desentralisasi dan Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Tugas Urusan Pemerintahan.

"Khusus untuk pembagian bidang kesehatan, sub-sub bidang antara lain upaya kesehatan, yang berisi pelibatan masyarakat, yakni pencegahan dan pemberantasan penyakit, menciptakan lingkungan sehat, perbaikan gizi masyarakat," ungkap dia.

"Tidak lupa juga pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat," tambah dia.

Lanjut dia mengungkapkan, terdapat 3 indikator negara maju lewat Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yakni kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

"Karena itu (dari segi kesehatan) Kementerian Kesehatan pada 2021 menetapkan enam prioritas kesehatan yang menjadi concern," ujar dia.

Baca juga: Viral Aksi Hapus Email demi Selamatkan Bumi, Ini Tanggapan Dosen UNS

Yang pertama, adalah mendapatkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurut data 2021, ada peningkatan kepesertaan dengan total sebanyak 229,51 juta.

Betty berharap jumlah itu dapat terus meningkat sehingga pemerataan kesehatan dapat tercapai.

Tujuan kedua adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak yang difokuskan pada penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Karena di Indonesia, angka kematian ibu dan bayi masih tergolong tinggi. Selanjutnya, adalah percepatan perbaikan gizi masyarakat, termasuk pencegahan stunting.

"Lalu, peningkatan pengendalian penyakit seperti tuberkulosis (TB), Coronavirus Disease (Covid-19) serta penguatan health security untuk penanganan pandemi. Insidens TB di Indonesia masih tinggi. Begitupun dengan Covid-19, memiliki kasus dan angka kematiannya yang relatif tinggi," ucap dia.

Yang Kelima, yakni Penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk mendukung pencegahan penyakit tidak menular. Tren PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) meningkat, tapi proporsi rumah tangga yang melakukan PHBS masih di bawah standar nasional.

Di sisi lain, penggunaan SKN termasuk alat kesehatan dan mutu layanan kesehatan, pemenuhan dan peningkatan kualitas SDM kesehatan.

Baca juga: Mau Investasi? Pakar Unair Ingatkan 3 Hal Ini

"Masih terdapat kesenjangan di antara daerah terhadap kondisi alat kesehatan dan mutu layanan kesehatan, pemenuhan, dan kualitas SDM kesehatan," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com