Kompas.com - 26/01/2022, 16:15 WIB

KOMPAS.com - Memperbaiki gizi bagi anak-anak di Indonesia masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) yang harus diselesaikan. Memperbaiki gizi ini sangat penting karena berkaitan erat dengan kualitas hidup seorang anak.

Apalagi menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya unggul sehingga beberapa kasus yang berkaitan gizi seperti stunting dan obesitas pada anak harus dieliminir.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro (Undip) Annta Kern Nugrohowati mengatakan, untuk mewujudkan keluarga sehat menjadi salah satu peran ibu untuk menyediakan makanan dan mengatur makan keluarga.

"Stunting dan obesitas masih menjadi persoalan sehingga mencegah stunting dan obesitas dengan tema Gizi Seimbang Keluarga Sehat Negara Kuat sangat relevan dimana kita memberikan edukasi kepada para ibu bagaimana memberikan pola makan yang baik untuk keluarga," kata Annta seperti dikutip dari laman Undip, Rabu (26/1/2022).

Baca juga: UB Ciptakan Alat Bertenaga Surya untuk Tingkatkan Produktivitas Bawang

Indonesia hadapi beban gizi ganda

Ahli gizi sekaligus dosen Undip Enny Probosari menuturkan, saat ini Indonesia dihadapkan pada beban gizi ganda. Yakni suatu kondisi dimana terdapat masalah gizi kurang dan gizi lebih yang terjadi di waktu yang sama.

"Stunting merupakan permasalahan gizi kronis karena kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu lama," urai Enny.

Dia menerangkan, permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia 2 tahun.

Penyebab stunting

Enny menambahkan, ada beberapa penyebab stunting menurut World Bank antara lain:

  • Praktek pengasuhan kurang baik.
  • Kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan selama kehamilan.
  • Sebanyak 60 persen anak usia 0-6 bulan tidak mendapat ASI eksklusif.
  • Sebanyak 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima MPASI.

"Selain itu terbatasnya layanan kesehatan dan pembelajaran dini yang berkualitas, dimana 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD. Selain itu 2 dari 3 ibu hamil tidak konsumsi zat gizi yang memadai, partisipasi di Posyandu rendah dan tidak mendapat akses layanan imunisasi," ungkap Enny.

Baca juga: Intip Kisah Alumnus UNS Bisa Berkarier di Boeing Commercial Airplanes

Selain itu juga kurangnya akses terhadap makanan yang bergizi turut mempengaruhi terjadinya stunting. Sebanyak 1 dari 3 ibu hamil juga mengalami anemia dan kurang mengakses makanan bergizi.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.