Kompas.com - 26/01/2022, 15:29 WIB

KOMPAS.com - Karier di industri migas nyatanya kurang diminati oleh generasi milenial dan gen Z.

Kesimpulan tersebut didapat dari hasil survei yang dilakukan oleh Ernst & Young (EY) terkait minat dalam bekerja di bidang migas. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 6 persen dari gen Z dan 18 persen milenial yang menganggap bidang migas sebagai pekerjaan yang menarik.

Minat yang kurang terhadap pekerjaan bidang migas, dinilai akibat kurangnya informasi dan pengetahuan gen Z dan milenial seputar bidang migas itu sendiri.

Padahal, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan potensi migas di Indonesia masih sangat besar.

Baca juga: 10 Pekerjaan yang Bakal Naik Daun di Indonesia 5 Tahun Mendatang

Hal ini terlihat dari jumlah cekungan (basin) di Indonesia yang masih berjumlah 128. Dari jumlah tersebut, 109 basin masih belum tereksplorasi. Potensi tersebut menunjukkan betapa luasnya kesempatan lapangan pekerjaan pada bidang migas.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. IGN Wiratmaja Puja menyebut estimasi kebutuhan SDM untuk sektor hulu migas mencapai 32.000 tenaga kerja dan masih bisa menyerap kurang lebih 20.000-an tenaga kerja.

“Sementara untuk sektor midstream, tenaga kerja saat ini diperkirakan berjumlah 69.100 dan masih bisa menyerap 5.700-an tenaga kerja lagi. Adapun di sektor hilir, ada sekitar 130.200 tenaga kerja dengan estimasi kebutuhan sebanyak 13.000 tenaga kerja lagi,” pungkas Prof Wirat dalam keterangan tertulis Universitas Pertamina, Rabu (26/1/2022).

Sebagai kampus yang berfokus pada pengembangan teknologi dan bisnis energi, Prof Wirat mengatakan Universitas Pertamina berkomitmen untuk melahirkan SDM unggul yang akan berkontribusi pada kemandirian dan ketahanan energi nasional. Termasuk di antaranya SDM yang mampu mengelola potensi cadangan migas Indonesia.

Baca juga: 10 Kampus Swasta Buka Beasiswa 2022, Bebas Uang Kuliah hingga 100 Persen

“Namun, menjadi pekerja di industri migas tidaklah mudah. Selain memiliki jam kerja yang lebih panjang, mereka juga dihadapkan pada risiko pekerjaan yang mengancam keselamatan jiwa setiap harinya. Para pekerja juga dituntut mampu menghadapi dinamika yang terjadi di bawah permukaan tanah yang serba tak pasti. Ditambah lagi, ketidakpastian bisnis akibat volatilitas harga minyak dunia dan adanya transisi energi, menuntut mereka untuk dapat beradaptasi dengan dinamika bisnis dan menciptakan solusi yang cepat dan tepat,” tutur Prof Wirat.

Dalam rangka mempersiapkan para lulusan agar dapat sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri migas, Universitas Pertamina tak hanya mendorong mahasiswa untuk pintar secara akademik dengan pembelajaran di kelas, praktikum di laboratorium, kuliah lapangan, kuliah pakar, dan kunjungan industri.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.