Kuliah Umum Yarsi: Pustakawan Berperan Penting dalam Keterbukaan Akses Sains

Kompas.com - 19/12/2021, 21:38 WIB

KOMPAS.com - Konsep keterbukaan dan transparansi mengemuka dalam bidang perpustakaan dan ilmu pengetahuan, mulai dari open access, open repository dan open science.

Tiga subtema ini ditampilkan dalam kuliah umum dan visiting lecture 2021 yang mengangkat tema "Opennes in Library and Information Science" yang digelar prodi Perpustakaan dan Sains Informasi Yarsi (Yayasan Rumah Sakit Islam Indonesia) pada 18 Desember 2021

Kuliah umum menghadirkan tiga pembicara utama, yakni; Putu Laxman Pendit (School of Business Information Technology RMT University Melbourne Australia), Prof. Sulistyo Basuki (Dosen Luar Biasa UIN Syarif Hidayatullah) dan Heriyanto (Dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro).

Dalam pemaparan pertama, Putu Laxman mengangkat tajuk "Open Access: Pengetahuan Bersama dan Tradisi Pustaka".

Ia menjelaskan, open access (OA) merupakan gerakan, fenomena, maupun kondisi di mana informasi ilmiah, baik dalam bentuk publikasi atau data, dapat diakses secara bebas dari hambatan finansial, teknis, maupun legal.

"Tujuannya adalah meningkatkan keterbukaan akses terhadap karya ilmiah secara online sehingga publik akademik pada khususnya dan masyarakat luas secara leluasa dapat mengakses, mengunduh dan menggandakan, memakai dan menggunakan bersama informasi ilmiah tersebut dalam batas ketentuan berlaku," jelas Putu Laxman.

Lebih jauh Putu Laxman menjelaskan, dampak OA bagi pustakawan menjadi penting dan strategis sebagai penghubung/konektor berbagai pihak/agen yang bergerak dalam sebuah bidang.

"OA membuka peluang pustakawan mengambil peran. Dampaknya bukan pada teknik bekerja melainkan pada isu-isu yang berkembang," tegas Putu Luxman.

Baca juga: Pustakawan Miliki Peran Penting dalam Merdeka Belajar di Masa Pandemi

Membawa isu kedua terkait "Open Access Repository", Prof. Sulistyo Basuki menyampaikan, repository institusi merupakan wadah penyimpanan digital dari sebuah lembaga yang bertujuan menyimpan, mengelola dan mempublikasi serta melestarikan hasil karya intelektual lembaga tersebut untuk kepentingan akademis.

Ia menjelaskan, berdasarkan indikator QS World University Rankings, reputasi akademik, perbandingan dosen dan mahasiswa, serta sitasi rata-rata dosen memiliki bobot nilai yang cukup tinggi.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.